Media Ssosial Picu Krisis Identitas
Kamis, 10 Desember 2020 | 11:03 WIB

TRB 10_12_2020 Media Sosial Picu Krisis Identitas

Oleh: Vincentius Dimas Sanubari, Mahasiswa Prodi Ilmu Komuniasi Unika Soegijapranata

SEIRING berkembangnya media sosial pada masa kini, fiturnya semakin bervariasi. Media sosial juga menjadi wadah untuk menghubungkan banyak orang dan sekaligus sarana untuk memperoleh informasi terbaru. Media sosial pun tidak ada batasan umur untuk penggunaannya. Semua orang bebas mengekspresikan apa yang dia inginkan ketika ingin mengunggah postingan, seperti foto, video, musik, status, dan masih banyak lagi.

Perkembangan digital semakin canggih dan tidak bisa dipungkiri kalau arus informasi akan mudah didapat secara cuma-cuma. Nah dari hal tersebut secara tidak langsung, kita akan disuguhkan hal-hal yang ada di dunia maya kepada diri kita sendiri dan bisa jadi setiap orang masing-masingnya akan menjadi ketergantungan terhadap sosial media, terkhusus remaja. Ini karena di usianya yang masih muda pasti sangat haus dengan informasi atau konten-konten yang sedang tenar pada masanya.

Menurut Soejipto (Noviana Dewi, Stefanus Khrismagung Trikusimaadi, 2006 : 227), kecanduan internet memiliki gejala psikologis antara lain perasaan euforia, kemampuan mengontrol pemakaian internet, menambah waktu untuk berinternet, kemampuan bersosialisasi berkurang, depresi, suka berbohong, dan bermasalah secara sosial. Ketika individu mulai kecanduan internet, individu tersebut cenderung menarik diri dari dunia nyata.

Jadi bisa dikatakan bahwa media sosial pada masa kini memang sangat dibutuhkan kalangan semua orang. Hal yang tidak bisa kita hindari adalah cara mengontrol waktu penggunaannya. Bahkan, pengguna media sosial bisa merasa lebih asik melihat kehidupan orang lain yang ada pada dunia maya, contohnya seperti selebram, artis, dan juga influencer. Dan pada akhirnya setiap individu membandingkan kehidupan dirinya sendiri dengan orang lain. Keberadaan media sosial ini sudah menjadi lingkungan sosial mereka, yang turut mempengaruhi identitas diri mereka.

Semakin banyak referensi yang kita temukan di media sosial akan semakin membuat bingung pada diri kita sendiri. Penggambaran contoh ka-sus yang biasanya terjadi pada beberapa orang, yaitu ketika melihat kehidupan orang lain yang biasanya selalu update, lalu secara tidak sadar kita ingin hidup seperti orang lain. Padahal setiap individu mempunyai kondisi fisik, sosial, psikologis, bahkan tingkat ekonomi yang berbeda-beda.

Jadi pertimbangan untuk nilai-nilai maupun kebudayaan yang berlaku di lingkungan juga berbeda. Banyak orang menafsirkan kalau media sosial sebagai ajang pamer, entah pamer kekayaan, pamer otak, apapun itu. Kalau kasusnya orang sedang berproses mencari jati diri, kemungkinan akan merasakan perbandingan-perbandingan tersebut akan menjadikan semakin jauh dari jawaban yang diinginkan karena belum tentu setiap individu masing-masing ingin mengaplikasikan diri kita untuk menjadi diri kita sendiri.

Teori yang mengenai krisis identitas ini lahir karena Erickson percaya bahwa hal ini merupakan masalah kepribadian yang sering dihadapi banyak orang dalam hidupnya. Apakah anda pernah merasakan in karena melihat postingan teman di media sosial? Atau mungkin anda pernah mengunggah postingan yang mengarah ke self center?

Proses pembentukan identitas akan terjadi ketika di masa remaja. Apalagi identitas akan terus berkembang dan bisa saja berubah-ubah tergantung kondisi di sekitarannya, dinamis bukan? Ini hal yang wajar. Untuk mengkonsistenkan suatu karakter identitas amatlah susah, hal tersebut kembali lagi kepada diri kita masing-masing. Selayaknya media sosial media yang bisa digunakan siapa pun, maka krisis identitas juga bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang kelompok usia dan paruh baya.

Krisis identitas akan muncul ketika kita terlalu banyak melihat apa yang ada di media sosial sampai membuat kita tidak bisa melihat diri kita sendiri dan bisa saja karena kita menerima represi atau mendapatkan tekanan yang membuat ketidaknyamanan serta keraguan atas identitas yang dimilikinya. Dalam upaya mengatasi krisis identitas, menurut Foulcher dan Day (Rakhman Fadly, 2013 : 4) manusia harus melakukan konstruksi identitas dengan melakukan resistensi, yakni tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi represi-represi yang diterima olehnya.

Kajian-kajian poskolonial, khusunya kritik sastra poskolonial, seringkali terfokus pada cara-cara bagaimana sastra meneliti masalah identitas dengan menggunakan pengertian "hibriditas" (suatu bentuk resistensi) sebagai cara untuk mengacu pada interaksi antara bentuk-bentuk budaya berbeda, yang suatu saat akan menghasilkan pembentukan budaya dan identitas-identitas baru dengan sejarah dan perwujudan tekstual sendiri.

Pada saat di masa seperti ini memang sangat sulit sekali untuk menjauhkan dari yang namanya sosial media tapi tidak ada salahnya kalau kita meluangkan waktu untuk rehat sejenak pada kehidupan yang ada di dunia maya. Tidak ada salahnya mencoba terlebih dahulu untuk melakukan puasa bermain media sosial karena bisa menjadikan toxic pada diri sendiri.

Ditambah kita akan membuang waktu untuk hal yang tidak ada benefit dari diri sendiri dan secara tidak langsung energi kita habis untuk hal yang tidak bisa kalian aplikasikan diri anda sendiri. "Langit terbuka luas, mengapa tidak pikiranku, pikiranmu?" mengkutip judul lagu dari band Pure Saturday.

Di luar media sosial yang merupakan dunia maya, kita bisa semakin menggali dari diri kita. Mulailah dari melakukan aktivitas sehari-hari, menggunakan waktu beristirahat sebaik mungkin, atau melakukan hobi yang kalian suka, hingga berternu dan berinteraksi langsung dengan orang lain. Jadi, jangan lupa memanusiakan diri sendiri.

Sebenarnya ada banyak cara lagi untuk menjauhkan diri kita dari media sosial, tapi cara-cara itu semua tergantung dari diri kita masing-masing. Bulatkan tekad dan berpikirlah selalu kalau dirimu tidak akan pernah sendirian, you’ll never walk alone!

►Tribun Jateng 10 Desember 2020 hal. 2

Kategori: ,