Kita Semua Bersaudara
Kamis, 10 Desember 2020 | 10:33 WIB

SM 10_12_2020 Kita Semua Bersaudara

Oleh: Aloys Budi Purnomo Pr, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata.

"Contoh cemerlang bentara pengharapan dan peradaban ada dalam diri pribadi-pribadi yang mampu mengatasi permusuhan dengan semangat perdamaian, melampui kebencian dan balas dendam dengan pengampunan."

KEDARURATAN kesehatan global telah membantu banyak pihak untuk menyadari bahwa pandemi Covid-19 tidak bisa dihadapi sendirian. Inilah kesempatan bagi semua orang untuk membangun dan mewujudkan “mimpi sebagai satu keluarga umat manusia” bahwa kita adalah “saudara dan saudari semua”. Di tengah arus pandemi Covid-19 yang masih menjadi pergumulan umat manusia di seluruh dunia, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik “Fratelli Tutti” (2020). Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa kita, “Fratelli Tutti” sama dengan “Kita Semua Bersaudara”. Ensiklik tersebut ditandatangani pada 3 Oktober 2020 di Assisi, tempat kelahiran, hidup, dan karya St Fransiskus dari Assisi. Sehari kemudian, ensiklik tersebut dipublikasikan untuk umum. Isabella Piro (2020) memberikan ringkasan tentang ensiklik tersebut (www.vaticannews. va). Menurut Piro, dan memang begitulah ensiklik tersebut dimaksudkan, tujuan Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik tersebut adalah untuk mendorong dan mendesakkan harapan akan persaudaraan dan persahabatan sosial untuk semua orang tanpa diskriminasi. Apalagi di saat dunia sedang dilanda pandemi Covid-19, persaudaraan dengan semua orang adalah salah satu kekuatan yang harus dibangun di mana pun dan oleh siapa pun. “Fratelli Tutti” memberikan bahan refleksi yang menarik tentang keadaan zaman kita yang sedang berada di dalam banyak penyimpangan. Berbagai penyimpangan itu tampak dalam manipulasi dan deformasi konsep-konsep demokrasi, kebebasan, keadilan. Wajah penyimpangan juga tampak pada hilangnya makna komunitas sosial dan sejarah. Manusia dikuasai cinta diri dan ketidakpedulian terhadap kesejahteraan bersama. Yang dipikirkan hanyalah kelompoknya sendiri, bahkan kepentingan sendiri. Termasuk disebut sebagai penyimpangan adalah meningkatnya logika pasar yang didasarkan pada keuntungan dan budaya membuang. Keadaan ini diperburuk dengan meningkatnya jumlah pengangguran, kasus rasisme, dan angka kemiskinan.

Ketidaksamaan hak dan akibat-akibatnya seperti perbudakan dan perdagangan manusia masih terus terjadi di belahan dunia ini. Penyimpangan-penyimpangan itu tidak boleh diabaikan dan disingkirkan. Namun penyimpangan itu harus disikapi dengan tindakan global. Tindakan-tindakan global diperlukan untuk meruntuhkan “tembok-tembok budaya” yang menyuburkan kejahatan teroganisasi, yang disulut oleh ketakutan dan kesendirian. Kalau tidak, budaya itu akan terus merongrong semangat persaudaraan. Kebersamaan digerogoti oleh prasangka dan kebencian. Akibat terburuknya adalah anarkisme dan kehancuran sosial. Penyimpangan-penyimpangan yang menandai kehidupan global itu menjadi bayang-bayang gelap yang bisa menimpa bangsa mana pun, termasuk bangsa kita hari-hari ini. Sementara kita sedang bergumul mengatasi pandemi Covid-19, kehidupan sosial kita dikacaukan oleh perdebatan tentang Undang-Undang Cipta Kerja dan respons sosial yang cenderung anarkis dan memecah belah. Dalam kondisi itu, mestinya, kita semua yang masih waras dan berakal sehat, harus mampu menjadi bentara pengharapan dan peradaban.

Contoh cemerlang bentara pengharapan dan peradaban ada dalam diri pribadi-pribadi yang mampu mengatasi permusuhan dengan semangat perdamaian, melampui kebencian dan balas dendam dengan pengampunan. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang ditandai dengan berbagai penyimpangan itu, semua orang dipanggil untuk menjadi sesama bagi yang orang-orang lain.

Dalam Fratelli Tutti, Paus Fransiskus menyerukan, “Kita semua bertanggung jawab bersama menciptakan masyarakat yang bisa menerima, mengintegrasikan, dan mengangkat mereka yang telah jatuh atau menderita. Kasih membangun jembatan dan kita diciptakan untuk mencintai” (Fransiskus, 2020; Piro, 2020). Caranya bagaimana? Kita harus “keluar” dari diri sendiri untuk menemukan “eksistensi lebih penuh dalam diri orang lain”. Dengan membuka diri terhadap yang lain sesuai dengan dinamika cinta kasih, akan membuat kita terarah kepada “kepenuhan universalî. Bahkan, di sinilah kesejatian spiritualitas seseorang diukur, yakni dengan cinta kasih, yang selalu “menempati tempat pertama”. Dengannya, kita dituntun untuk mencari apa yang lebih baik bagi hidup orang lain yang jauh mengatasi egoisme dan cinta diri. Dari situ pula, rasa solidaritas dan persaudaraan dimulai. Mulainya bisa dari dalam keluarga kita masing-masing, yang kemudian melebar ke dalam kehidupan bertetangga, hingga meluas kepada kehidupan bersama di man pun. Kita sadari bahwa semua orang berhak untuk hidup secara bermartabat. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan.

Politik Persaudaraan

Untuk mengatasi penyimpangan sosial, Paus Fransiskus juga mendorong agar para politikus mampu menjalankan politik yang lebih baik sebagai salah satu bentuk amat berharga dari karya kasih. Alasannya, melayani kesejahteraan bersama dan mengakui pentingnya martabat pribadi manusia adalah tujuan sejati politik. Politik persaudaraan bukan kongkalikong melanggengkan kekuasaan, bukan untuk perebutan kue kekuasaan dan mengeruk keuntungan, melainkan untuk memberi ruang bagi diskusi dan dialog.

Politik yang lebih baik itu melindungi pekerjaan sebagai dimensi hakiki hidup sosial. Tugas politikus adalah menemukan solusi bagi semua yang menyerang hak-hak asasi manusia, seperti penolakan sosial; perdagangan organ-organ tubuh, senjata, narkoba; ekploitasi seksual; perbudakan, terorisme, dan kejahatan terorganisasi. Politik juga harus berpusat pada martabat manusia dan tidak tunduk pada ekonomi. Lebih dari segalanya, politik harus menjadi jalan promosi perdamaian.

Perdamaian itu erat terkait dengan kebenaran, keadilan, dan belas kasih. Agar kita semua semakin sadar bahwa kita bersaudara, perdamaian sebagai “seni” yang melibatkan setiap orang dan masing-masing menjadi perjuangan yang tanpa akhir. Dalam seni perdamaian terekspresikan pula pengampunan dan kasih sayang untuk setiap orang, tanpa kecuali. Bahkan mencintai seorang penindas sekalipun untuk membantunya agar berubah dan tidak membiarkannya terus menindas sesamanya dan alam semesta. Di sinilah pula pentingnya agama-agama dalam melayani persaudaraan. Paus Fransiskus menegaskan bahwa terorisme bukan disebabkan oleh agama, namun oleh penafsiran salah terhadap teks-teks agama.

Maka, politik persaudaraan dan perdamaian di antara agama-agama sangatlah mungkin diwujudkan. Untuk itu, perlulah menjamin kebebasan beragama, hak asasi dasar manusia bagi semua umat beriman.

►Suara Merdeka 10 Desember 2020 hal. 4
https://www.suaramerdeka.com/news/opini/249287-kita-semua-bersaudara

Kategori: , ,