Infodemik Ketakberdayaan dan Diva
Kamis, 10 Desember 2020 | 10:16 WIB

Kompas 10_12_2020 Infodemik Ketakberdayaan dan Diva

Oleh: Margaretha Sih Setija Utami, Dosen Psikologi Kesehatan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, Semarang.

Dalam suasana menegangkan dan melelahkan seperti masa pandemi ini, yang kita perlukan bukan otorisasi pemimpin, melainkan pelukan hangat teman dan ”diva” yang memberi contoh, mendampingi dan menenteramkan hati warga.

Jumlah orang yang tertular virus korona di Indonesia semakin banyak dan belum menampakkan titik puncak untuk turun. Ketidaktaatan masyarakat Indonesia terkait pencegahan penyebaran Covid-19 menjadi salah satu penyebab terus meningkatnya jumlah orang yang tertular.

Banyak orang menyadari, semakin banyak orang yang dikenal dan ada di sekitar kehidupan mereka sudah tertular Covid-19. Namun, hasil penelitian penulis menunjukkan tidak ada perbedaan dalam perilaku menerapkan informasi yang didapat tentang Covid-19 antara orang yang mempunyai kenalan dekat dan yang tidak mempunyai kenalan dekat yang tertular Covid-19.

Artinya, pengalaman nyata terkait Covid-19 bukan merupakan faktor yang memengaruhi seseorang untuk melaksanakan ketentuan tentang pencegahan Covid-19.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa yang memengaruhi seseorang melakukan (anjuran yang ada di dalam) informasi yang didapat adalah ketepatan dan kejelasan informasi yang ada, bukan jumlah sumber informasi. Banyak orang semakin bingung dengan semakin banyaknya informasi yang simpang siur saat ini.

Istilah untuk informasi yang berlebihan dan membingungkan adalah infodemik (Okan dkk, 2020). Infodemik singkatan dari information epidemic, sebuah fenomena menyebarnya informasi dengan sangat cepat melalui berbagai sumber yang belum tentu benar isinya sehingga dapat memperparah pandemi yang sedang terjadi.

Ada dua jenis infodemik. Pertama adalah informasi yang terus-menerus dan menakut-nakuti masyarakat sehingga masyarakat mengalami kepanikan dan akibatnya justru tidak menaati anjuran dari yang berwenang.

Kedua adalah informasi yang terus-menerus menyatakan bahwa Covid-19 bukan penyakit yang serius, dan hanya dibesar-besarkan oleh pemerintah untuk menakut-nakuti masyarakat. Info ini membuat masyarakat meremehkan anjuran untuk melakukan pencegahan.

Beberapa peneliti menunjukkan bahwa isu tentang teori konspirasi merupakan infodemik yang paling menghambat ketaatan masyarakat terhadap anjuran pemerintah di beberapa negara, bukan hanya di Indonesia. Adanya infodemik terkait teori konspirasi membuat masyarakat kehilangan kepercayaan karena merasa dicurangi pemerintah.

Ketidakberdayaan

Dalam psikologi kesehatan dikatakan bahwa ketidaktaatan seseorang terhadap anjuran untuk hidup sehat juga dipengaruhi oleh perasaan tidak berdaya orang tersebut. Saat ini masyarakat tidak tahu persis apa saja yang bisa mencegah penularan Covid-19.

Masyarakat belum dapat membedakan antara faktor risiko dan faktor penyebab. Faktor risiko adalah hal-hal yang memungkinkan terjadinya suatu penyakit, tetapi bukan berarti kalau seseorang melakukan apa yang ada di faktor risiko tersebut, maka ia pasti menderita penyakit tersebut, dan orang yang tidak melakukan pasti tidak menderita penyakit tersebut.

Contoh: ngebut di jalan adalah faktor risiko untuk terjadinya kecelakaan karena orang yang ngebut mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami kecelakaan daripada yang mengendarai kendaraan pelan, tetapi bukan berarti orang ngebut di jalan pasti mengalami kecelakaan.

Ketidakjelasan antara faktor risiko dan faktor penyebab membuat seseorang menjadi merasa tak berdaya saat sudah melakukan berbagai pencegahan, tetapi tetap tertular.

Kendaraan arah Puncak yang tertahan saat pemberlakukan arus lalulintas satu jalur ke arah Jakarta di akses keluar tol Jagorawi di Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/12/2020).  Pelaksanaan pilkada serentak di sejumlah wilayah di Indonesia yang berpotensi menimbulkan pemusatan kerumunan orang juga diikuti potensi kerumunan orang di tempat-tempat wisata di masa pandemi Covid 19.

Banyak anggota masyarakat yang tidak mau lagi melakukan pencegahan karena mengetahui orang lain atau dirinya sendiri yang sudah melakukan pencegahan tetap tertular Covid-19. Memang tidak ada yang menjamin seseorang yang sudah memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pasti tidak tertular Covid-19. Tiga M tersebut adalah pengurangan faktor risiko, bukan sebuah kepastian tidak tertular Covid-19.

Perasaan tidak berdaya membuat seseorang tidak mau berjuang lagi. Pengalaman beberapa kali melakukan pencegahan, tetapi tetap tertular membuat orang patah arang.

Tumbuhkan kepercayaan

Apa yang bisa kita lakukan? Abowitz dan Rousmaniere (2004) menyatakan saat warga negara mulai kehilangan kepercayaan dan muncul ketidaktaatan kepada pemimpin, maka harus ditumbuhkan kepercayaan pada masyarakat melalui kelompok kecilnya. Dua tokoh ini menggunakan pendekatan relasi jender, yaitu saat anak tidak mematuhi bapaknya lagi, maka ibu yang harus bergerak.

Maksudnya adalah saat masyarakat tidak lagi taat dengan anjuran langsung dari tokoh-tokoh pemimpin tertinggi karena dianggap kurang hangat atau tidak menyentuh hati, maka harus ada tokoh-tokoh di sekitar yang lebih dianggap bisa memahami kesulitan dan menumbuhkan perasaan hangat bukan karena perintah, tetapi karena kelembutan mendampingi.

Tokoh tersebut tidak harus jauh lebih hebat daripada masyarakat, yang penting adalah berani menemani dan mengajak lingkungan sekitarnya untuk berbuat lebih baik.

Saat ini sudah beredar lagu untuk meningkatkan ketaatan masyarakat dengan tema ”Ingat Pesan Ibu”. Menurut saya, lagu tersebut sangat bagus untuk menyejukkan hati masyarakat dalam masa pandemi ini karena tidak mengharuskan, tetapi menyediakan kesejukan sebuah ajakan.

Namun, lagu tersebut belumlah cukup kalau tidak dibarengi dengan dibangunnya suasana kebersamaan dalam masyarakat dalam kelompok-kelompok kecil yang meneguhkan setiap warga. Contoh: daripada mengejar-ngejar pedagang dan pembeli yang tidak mau pakai masker, lebih baik dibuat pendampingan kepada kelompok pedagang dan pembeli di pasar tersebut bagaimana mereka membangun kehidupan yang lebih sehat untuk mencegah tertular Covid-19.

Daripada ibu-ibu disalahkan karena sebagai emak-emak tidak mau menggunakan masker dengan benar, lebih baik ada Gerakan PKK untuk membuat masker yang nyaman dan aman untuk dipakai secara seragam oleh para ibu.

Menurut Abowitz dan Rousmaniere (2004), dalam suasana menegangkan dan melelahkan seperti masa pandemi ini, yang kita perlukan bukan otorisasi pemimpin, melainkan pelukan hangat teman. Pada kondisi seperti ini, yang diperlukan bukan ”hero” yang menang dengan cara kekerasan atau teriak-teriak sebagai orang paling hebat, tetapi ”diva” yang memberi contoh, mendampingi, dan menenteramkan hati warga.

Siapkah kita menjadi diva bagi orang-orang sekitar kita yang sedang lelah menghadapi pandemi ini?

►Kompas 10 Desember 2020 hal. 7

https://www.kompas.id/baca/opini/2020/12/10/infodemik-ketakberdayaan-dan-diva/

Kategori: , ,