Gelar Webinar, Pandemika II Unika Bahas Jamu dan Herbal
Jumat, 11 Desember 2020 | 10:17 WIB

image

Kelompok 30 KKN Adaptif Pandemika II Unika Soegijapranata menggelar Webinar dengan berkolaborasi bersama Klaster Jamu Kota Semarang serta membahas topik tentang “Mengangkat Jamu dan Produk Herbal Menjadi Lebih Berkelas”, pada Senin (7/12/2020).

Dalam keterangan pers yang diterima KUASAKATACOM dari Humas Unika, pada Kamis (10/12/2020), Acara webinar yang diselenggarakan melalui zoom ini, menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Donny Bayu Sanjoyo dari Youtap Indonesia, Dosen Teknik Pangan Unika Dr V Kristina Ananingsih ST MSc, Dosen Entrepreneurship Unika Soegijapranata Yimmy Iskandar ST MBA MTh dan Kepala CSE Unika Dr Chatarina Yekti P SE Msi.

Menyinggung mengenai tema bahasan yang mengangkat jamu, Donny menjelaskan mengenai review terhadap produk jamu dan herbal tradisional supaya lebih dikenal, lebih diminati, lancar distribusinya, memiliki developt produk, memiliki insight pemasaran serta memiliki strategi marketing.

“Untuk produk yang sudah tersedia itu harus memiliki kriteria nyata yaitu produk harus bagus sesuai dengan segmentasi pasar, mempunyai kemasan menarik, dan mempunyai benefit yang bisa dirasakan oleh masyarakat yang mengkonsumsi,” Kata Donny. 

Adapun syarat lainnya produk tersebut secara distribusi juga harus mudah ditemukan, mudah dijangkau, dan terbeli oleh masyarakat termasuk repeat ordernya baik melalui online maupun melalui market place.

Sedangkan dalam hal produk kekinian sesuai dengan pasar baik secara online maupun offline, maka produk tersebut harus juga kekinian baik secara developt maupun disversifikasi produk menyesuaikan kebutuhan konsumen.

“Dan yang pasti produk tersebut harus aman. Jadi sebuah produk harus  available dan reliable, yaitu keberadaannya memang ada dan bisa digunakan serta dijangkau oleh masyarakat,” jelasnya.

Ia membeberkan tips-tips marketing atas suatu produk, diantaranya adalah suatu produk diharapkan tetap terhubung dengan pelanggan melalui media sosial, baik itu media sosial facebook, instagram, dan youtube.

Sementara untuk mengedukasi dan mensosialisasikan produk kepada pelanggan atau masyarakat, maka penjual harus update produk secara berkala, bisa dalam bentuk produk-produk baru atau benefit-benefit baru.

“Selain itu hendaknya kita menyertakan alamat yang bisa diakses atau landing page (semacam bit.ly/xxx..). Selanjutnya juga perlu untuk komunikasi dua arah seperti misalnya dengan follower, apabila kita memang posting produk pada sosmed yang menggunakan sistem follower. Kemudian yang terakhir adalah penggunaan aplikasi digital untuk membantu dari sisi cashless payment dan promosi,” terang dia.

Dr Kristina Ananingsih dalam paparannya, menyampaikan mengenai pengembangan produk jamu dan herbal. “Jamu adalah warisan leluhur dan sudah digunakan selama ratusan tahun. Sedangkan khasiat dan keamanannya adalah berdasarkan pengalaman secara turun temurun,” ungkap wanita yang akrab disapa Tina itu.

Meurutnya, Jamu juga bisa menjadi fitofarmaka atau bisa dibuktikan secara klinis sebagai obat, namun membutuhkan waktu yang lama yaitu bisa kurang lebih 20 tahun. Sedangkan untuk jamu sebagai herbal berstandar hanya membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 3 tahun.

Bahan dasar jamu dan herbal pun bermacam-macam, diantaranya yang berasal dari tanaman bisa dari daunnya, rimpangnya, batangnya, dan adapula dari biji dan buah.

Ia menjelaskan untuk pengembangan produk, tidak hanya pada hasil olahannya saja tetapi juga bisa dilakukan pada tanaman segarnya, karena ada juga konsumen yang menginginkan tanaman segarnya. Olahan produk lainya juga bisa berupa minuman herbal, teh organik, dan bisa pula dalam bentuk kembang gula.

“Dengan demikian ada peluang besar untuk pemasaran tanaman herbal dan olahan tanaman herbal, baik dalam bentuk tanaman segar maupun makanan siap saji atau makanan olahan, terutama untuk menjaga kesehatan tubuh di masa pandemi ini,” pungkasnya.

Sementara itu pembicara yang mengupas tentang entreprenuership pada kalangan milenial,  Yimmy Iskandar ST MBA MTh tampak memberi beberapa solusi agar para milenial bisa tertarik dan minat terhadap jamu dan herbal.

“Para milenial ini tahu bahwa jamu itu sehat, namun yang tertanam dalam benaknya adalah rasa pahit. Sedangkan para milenial ini lebih suka minuman yang bercita rasa manis. Maka perlu ada perubahan paradigma (brainwash) melalui tagline atau slogan, influencer dan iklan, disamping perlunya pendekatan inovatif produk supaya disukai milenial,” jelas Yimmy

Dalam kesempatan itu, Dr Chatarina Yekti, dalam webinar ini juga menyampaikan dukungannya dengan kerjasama antara pandemika II dengan kelompok 30 dan klaster jamu yang menjadi mitra binaan.

“Kami dari CSE memiliki beberapa fasilitas yang bisa dimanfaatkan oleh klaster jamu, diantaranya adalah toko offline, e-market place yang dibuat khusus untuk produk mahasiswa Unika dan mitra binaan Unika, expo besar dan pasar murah,” tuturnya.

Pihaknya membuka lebar pintu bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam setiap fasilitas yang dimiliki CSE Unika. Sehingga kemitraan CSE dengan pelaku usaha akan terus berlanjut.

“Tidak hanya dalam pandemika saja tetapi bisa turut membantu supaya jamu dan herbal bisa menjadi produk yang berkelas,” kata dia.

https://kuasakata.com/read/berita/23640-gelar-webinar-pandemika-ii-unika-bahas-jamu-dan-herbal

Kategori: