Empat Dosen Unika Soegijapranata Ciptakan Perahu Bertenaga Surya – Lebih Hemat, Tidak Bising, dan Tak Menimbulkan Polusi Air Waduk
Rabu, 30 Desember 2020 | 16:25 WIB

TRB 30_12_2020 Lebih Hemat, Tidak Bising, dan Tidak Menimbulkan Polusi Air Waduk

Empat dosen Unika Soegijapranata Semarang ini sangat kreatif. Mereka membuat inovasi berupa perahu bertenaga solar cell atau tenaga surya. Perahu ini dikembangkan di Waduk Jatibarang, Semarang. Seperti apa?

UMUMNYA nelayan Indonesia kesulitan melaut karena mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk menghidupkan mesin perahu. Selain itu, BBM mesin kapal juga kerap mencemari air waduk yang dipakai sebagai air baku PDAM. Kondisi ini menginspirasi empat dosen Unika Soegijapranata untuk melahirkan inovasi yang dapat membantu para nelayan.

Keempat dosen inovatif tersebut adalah Dr Florentinus Budi, Shandy Jenifer Matitaputty, Dr E Lucky Maretha Sitinjak, dan Dr Lindayani. Mereka berinovasi dalam program Pengabdian Dosen Unika Soegijapranata bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Suko Makmur Waduk Jatibarang, Gunungpati, Semarang.

Ketua Tim Pengabdian Unika Soegijapranata Dr Florentinus Budi S mengatakan, produk buatan timnya tersebut sudah resmi diluncurkan. Adapun perancangan ‘ konstruksinya menyesuaikan dengan tenaga yang bersumber dari solar cell tenaga surya sebagai penggerak baling-balingnya.

Adapun ide tersebut berawal dari keprihatinan di Waduk Jatibarang, karena keperluan masyarakat terhadap waduk ini selain untuk wisata, ternyata air dalam waduk ini juga digunakan untuk air baku di PDAM. "Tentu sebagai air baku PDAM, timbul kekhawatiran apabila air waduk yang juga digunakan untuk wisata air tersebut akan tercemar oleh limbah bahan bakar dari perahu wisata yang digunakan dalam waduk tersebut," kata Dr FL Budi.

Untuk itulah, timnya mencoba memikirkan solusi alternatif. Bagaimana menggunakan tenaga listrik dari solar cell tenaga surya. Ia bersyukur dari solusi yang ditawarkan tersebut, setelah diajukan proposal ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, akhirnya di setujui dan bisa direalisasikan.

"Sudah lama digagas ide ini, cuma tertunda beberapa waktu akibat pandemi Covid-19 dan area wisata ditutup,"ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa keuntungan yang diperoleh apabila perahu wisata bisa dialihkan ke tenaga surya. Pertama, lebih hemat karena sumber panasnya dari matahari. Kedua, tidak bising karena tidak ada suara mesin. Ketiga, dapat meminimalkan polusi di air waduk ini.

Untuk itu, ia berharap, apa yang sudah dirancang dan direalisasikan dapat ditularkan ke waduk lainnya. Dengan begitu, air waduk yang sangat vital untuk kebutuhan manusia nantinya tetap terjaga di lingkungannya dan terhindar dari polusi. Timnya juga memberikan pelatihan manajemen pembukuan, sehingga ke depan sudah memiliki NPWP.

"Ke depan supaya bisa membuat laporan pembukuan dan pajaknya juga. Karena para pemilik perahu juga bingung cara mengisinya bagaimana, maka dengan pengabdian ini, kami juga bantu agar pembukuannya rapi, dan pembayaran pajaknya bisa tepat,"ungkapnya.

Sekretaris Pokdarwis Suko Makmur Jatibarang Widodo menambahkan, pihaknya memang sudah lama menjadi binaan Unika Soegijapranata, tepatnya sejak 2015. Adapun kerja sama yang dijalin mulai bidang pariwisata, handicraft, kuliner, dan sekarang berkembang ke perahu wisata
dengan menggunakan solar cell tenaga surya.

Ia mengatakan, di masa pandemi Covid-19 yang menjadi andalan pihaknya dari kelompok kerja (pokja) adalah perahu. Karena pokja kuliner, suvenir, homestay, dan kesenian tampak masih agak lesu.

"Kami mendukung terhadap apa yang diupayakan oleh Unika dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas lingkungan agar senantiasa terjaga dengan baik. Semoga apa yang kami terima ini dapat menjadi percontohan bagi kelompok wisata di waduk lain,"harapnya.

Sumber: Jawa Pos Radar Semarang 30 Desember 2020 hal 1, 7

Kategori: