Workshop Generasi Milenial Cinta Lingkungan, Serap 700 Peserta dari Perguruan Tinggi APTIK
Sabtu, 14 November 2020 | 13:23 WIB

Pada hari ini, tanggal 14 November 2020 telah diadakan workshop yang bertema cinta lingkungan di Unika Soegijapranata Semarang. Kegiatan yang diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik beserta para dosen/ tendik pendamping ini adalah wujud kegiatan dari pertemuan pada bulan Juli yang lalu. Pada waktu itu, para “pejuang kemahasiswaan APTIK”, begitu sebutan dari penggiat kegiatan kemahasiswaan APTIK ini bersepakat akan tetap mengadakan kegiatan kemahasiswaan meskipun pandemi memaksa semua kegiatan pertemuan skala besar harus dihentikan. Namun dengan moda daring, kegiatan akan tetap berlangsung.

Workshop dibuka secara resmi oleh ibu Dr. Victoria Kristina Ananingsih, ST., MSc, sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dengan ungkapan bahagia karena atensi yang luarbiasa dari Perguruan Tinggi Swasta yang tergabung dalam APTIK. Bahkan ada peserta dari SMA di Medan dan juga peserta dari Perguruan Tinggi non APTIK yang bergabung karena keinginan yang amat sangat dari mereka akan materi yang akan ditampilkan. Bu Tina, panggilan beliau, berharap materi yang akan dibawakan oleh keempat narasumber akan sangat membantu dalam berkegiatan positif cinta lingkungan di masa pandemi ini. Kegiatan di bawah bimbingan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan ini digerakkan oleh UPT Kemahasiswaan – Alumni, UPT Pusat Karir (SSCC) dan kepanitiaan mahasiswa ini diharapkan sebagai pemicu pula kegiatan lain moda daring.

Sedangkan Prof Yoyong (dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta), sebagai Ketua Jaka-APTIK, menyampaikan bahwa beliau menyambut baik kegiatan Workshop Cinta Lingkungan ini, karena sebagai mahasiswa yang notabene generasi milenial nantinya yang akan meneruskan merawat bumi ini. Kiranya lingkungan menjadi perhatian yang sangat perlu bagi kita di masa kini. Pembangunan terkadang menjadi hal buruk bagi lingkungan saat ini. Pentingnya merawat lingkungan adalah kewajiban bersama, sebagai sebab akibat dari semua pembangunan yang ada.

 

Pembawa materi dalam workshop hari ini ada 4 orang, yaitu : Rm. Aloysius Budi P, sebagai pastor Campus Ministry yang juga penggiat lingkungan hidup memaparkan bahwa bumi pertiwi bergejolak dengan adanya kegiatan-kegiatan manusia yang kurang memperhatikan keberlangsungan hidup.  Merawat bumi, rumah kita bersama adalah topik utama romo Budi yang merupakan pemahaman dari “Laudato Si’, O MI Signore”. Paus mengajak kita semua untuk merawat bumi bersama semua orang.  Aplikasi yang ditampilkan oleh romo Budi adalah masyarakat Kendeng yang tengah berjuang akan kehidupan mereka sebagai aplikasinya, bumi Kendeng yang hancur karena penambang-penambang. Penggunaan bumi yang tidak bertanggung jawab, membuat bumi yang selama ini mengasuh kita dengan memberikan buah-bunga-segala kekayaannya, menjadi terbebani dan hancur dengan kerusakan lingkungan.

Bu Oely Sidabalok, SH adalah pembicara kedua yang menampilkan kegiatan SEL(Soegijapranata Eco Life) – Unit Kegiatan Mahasiswa di Unika Soegijapranata. Beliau mengatakan akan kesinambungan antara kegelisahan mahasiswa SEL dengan adanya sampah yang ditimbulkan oleh perilaku “kurang peka” dari mahasiswa ataupun masyarakat, yang  ditangkap dan diungkapkan kepada universitas. Lalu bersama dengan Universitas maupun Badan Eksekutif Mahasiswa, bergerak bersama mewujudkan lingkungan yang ekologis.
Mengapa mahasiswa perlu dibangkitkan dan diberikan pengetahuan tentang ‘ecolife‘? Karena mahasiswa adalah generasi yang hidup saat ini dan masa datang. Mahasiswa yang akan menjadi pewaris dan pelaku kehidupan, bagaimana merubah perilaku untuk dapat merawat bumi. Bumi sangat siap dalam menghadapi perubahan, tapi bagaimana dengan manusia? Harus merubah diri sendiri untuk dapat merubah perilaku dunia. Kampus adalah pelopor belajar kehidupan, terutama belajar untuk berperilaku, diantaranya belajar untuk merawat lingkungan.

Gerakan cinta lingkungan yang paling sederhana adalah dengan membuang sampah pada tempatnya. Dengan mewajibkan para mahasiswa yang menikmati makanan di kantin, diwajibkan untuk merapikan kembali piring yang mereka pakai di meja khusus piring kotor, dan membuang sampah yang mereka hasilkan selama makan ke tempat sampah. Gerakan ini dilakukan dengan kerjasama dari berbagai pihak yaitu Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dalam setiap kegiatan mahasiswa, Wakil Rektor Bidang Umum dengan penyediaan sarana prasarana (tempat sampah dan lain-lain), serta Universitas secara keseluruhan pada kegiatan Mahasiswa Baru.

Gerakan yang lain selalu dikumandangkan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan adalah melarang mahasiswa menggunakan stereofoam sebagai pembungkus makanan dalam berkegiatan, No Stereofoam. Tantangannya adalah adanya layanan antar yang masih sering memberikan membawakan dari kemasan sterofoam dalam membungkus makanan. Bahkan kantin atau warung di sekitar Unika di wilayah Bendan-pun diberikan penyuluhan akan buruknya penggunaan stereofoam.

Gerakan cinta lingkungan yang lebih meluas adalah menyebar pasukan pemungut sampah di area seputar Simpang Lima di hari Minggu. Simpang Lima adalah pusat kerumunan dan kegiatan masyarakat kota Semarang, terutama di hari Minggu pagi yang dikenal dengan Simpang Lima Car Free Day. Pasukan SEL dan mahasiswa BEM memungut sampah yang timbul dari bungkus makanan-minuman. Kegiatan ini diakui oleh pemerintah kota Semarang sebagai kegiatan positif yang menjadikan Semarang kota bersih.

Hal lainnya yang merupakan hasil nyata dari kesinambungan UKM SEL dengan universitas adalah penggunaan gembes/ botol minuman, bahkan sempat melakukan gerakan “Gembes Day”. Bu Oely memaparkan bahwa Universitas menggunakan kelebihan debit air yang ada di area hutan kampus, untuk diolah menjadi air minum sehat. Sehingga di semua tempat di area Unika memiliki pos-pos air minum yang bebas dikonsumsi oleh mahasiswa maupun penghuni kampus. Eco Life menjadi sangat berarti.

Dari sisi akademik, tanggapan eco life inipun digelar dengan adanya sistem skripsi yang meminimalkan penggunaan kertas. Mahasiswa mengunggah progres skripsi mereka ketika bimbingan ke DELTA – Dokumentasi Elektronik Tugas Akhir, kemudian dilanjutkan dengan koreksi dari dosen pada sistem itu pula. Semuanya akan digunakan sampai saat mahasiswa melakukan sidang akhir skripsi, hingga mereka melakukan pendaftaran wisuda. Semuanya terhubung dalam satu sistem yang saling terkait.

Kalimat terakhir yang sangat ditandaskan oleh bu Oely buat para peserta adalah : You are the guardian of The Earth and Galaxy…

Pembicara ketiga adalah mas O’od, panggilan dari Lantip – Alumni Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegijapranata, beliau adalah penggiat ecobrick. Permasalahan yang terjadi saat ini adalah Plastik, Pelaku Usaha dan Konsumen. Ketiga hal ini sangat berkaitan erat dalam kehidupan sehari-hari. Plastik tidak pernah lepas dari kehidupan, hampir setiap barang yang diproduksi untuk kebutuhan hidup dikemas dengan menggunakan plastik. Minyak goreng dalam kemasan plasltik, sabun cuci, shampoo, makanan beku dan lain-lain.

Plastik digunakan sebagaai pengemas pangan terutama karena keunggulannya dalam hal bentuknya yang fleksibel sehingga mudah mengikuti bentuk pangan yang dikemas, ringan, tidak mudah pecah, transparan, mudah dalam labeling, dapat diproduksi massal, murah dan terdapat berbagai jenis pilihan bahan dasar. Artinya adalah bahwa kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya plastik.

Pertanyaan yang muncul adalah : ke manakah plastik kita pergi setelah ini? Dilarikan kemana? Jika dibuang sampai ke Tempat Pembuangan Akhir, lalu diapakan sampah plastik tersebut? Jika dibakar, asapnya naik menjadi awan dan hujan, terserap ke dalam tanah, lalu kemana?

Adanya pemahaman tentang plastik yang digunakan dalam kemasan pangan, menjadikan dasar utama dalam pengolahan limbah plastik. Namun tidak smua limbah plastik tersebut dapat diolah kembali. Kalaupun bisa, maka akan diolah ke tipe atau standar yang lebih rendah. Limbah seperti inilah yang dapat digunakan ulang sebagai ecobrick. Botol plastik diisi dengan limbah plastik sampai padat (dengan ukuran prosentase padat tertentu), yang dapat digunakan untuk membuat berbagai barang ataupun bahan bangunan.

Di akhir penyampaian materi, mas O’od menantang aktivis SEL untuk dapat menyumbangkan ecobrick-nya ke Taman Ecobrick yang akan segera dibangun, yang berlokasi di jalan Tapak Raya – Tugu, Semarang. Di situ akan dibangun taman kota yang menggunakan ecobrick, mulai dari dinding yang mengitari taman, jalan taman dan lain-lain. Sungguh kota Semarang diharapkan menjadi pelopor ecobrick hingga eco life dapat diwujudkan secara nyata.

Sebagai pembicara terakhir adalah bapak Ignatius Eko, MM. tendik Unika yang saat ini berkarya di UPT Penerbitan Disain dan e-book. Bermula dari lingkungan rumah sekitar yang selalu menghasilkan sampah rumah tangga setiap hari hingga bau busuk yang tersisa terlebih di musim hujan, menjadikan pak Eko peduli dan bergerak untuk mengatasinya.

Berbekal pengetahuan dari sebuah workshop, pak Eko mencoba membuat alat pengolah sampah organik. Alat tersebut dibuat dengan sangat mudah karena menggunakan bahan-bahan yang juga mudah didapatkan seperti selang plastik, gentong plastik dan lain-lain, juga dengan bahan organik lainnya untuk pengurai diiantaranya gula jawa dan nanas. Pak Eko, menjelaskan dengan gamblang tentang proses pembuatan sampai bagaimana “panen” hasilnya untuk pupuk tanah.

Pak Eko menyampaikan bahwa dalam pengamatannya selama 2 tahun, pupuk cair ini akan sangat berpengaruh pada tumbuhan yang ditanam langsung di tanah. Sementara pada tanaman anggrek yang menggunakan media tanam non tanah, pupuk ini tidak berreaksi. Beliau menyampaikan pula bahwa pada saat pertama kali panen, bau yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik ini sangat busuk, namun sangat menyuburkan tanah. Sedangkan untuk panen berikutnya tidak memunculkan bau lagi, karena sudah terurai sebelumnya oleh bahan-bahan organik yang ada.

Tanggapan peserta workshop inipun sangat banyak. Mereka terinspirasi untuk dapat melakukan hal sama, terutama untuk daerah-daerah yang kurang subur. Selain itu, didapatkan penghematan dan juga ramah lingkungan. Workshop diakhiri dengan game yang juga diminati oleh peserta. Ada 5 peserta dengan ranking tertinggi mendapatkan souvenir. Hingga pukul 12.50, panitia mengakhiri dengan terlebih dahulu memaparkan lomba Esay dan Video Pendek Pengolahan Sampah, sebagai bentuk keberlanjutan dari workshop ini. (yoel-wr3)

Kategori: