Siap Kerja, Siap Dengan Konflik : Manajemen Konflik oleh SSCC Bagi Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Kamis, 26 November 2020 | 8:35 WIB

Salah satu hal yang perlu untuk dipahami oleh diri sendiri adalah bagaimana kita mengatasi konflik. Materi yang disajikan kali ini dalam pelatihan soft skills siap kerja bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata adalah pemahaman diri untuk mengelola konflik agar dapat menjadi pemicu berkinerja lebih baik. Pelatihan soft skills kelas Rabo tema Manajemen Konflik ini dilaksanakan pada tanggal 25 November 2020 pada pukul 16.00-18.00 wib.

Materi ini dibawakan oleh CVR Abimanyu, S.Psi, M.Psi dengan sangat renyah. Kelas on line yang dihadiri oleh kurang lebih 40 mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi ini menjadi sangat segar ketika mas Abi, panggilan fasilitator muda ini, memancing keaktifan mahasiswa dengan melemparkan satu case dan dijawabab oleh beberapa mahasiswa yang ditunjuk untuk open mic. Peserta mahasiswa di kelas ini menjadi sangat bersemangat dalam mengikuti pelatihan ini.

Kemampuan diri untuk dapat meneropong konflik yang terjadi, akan menjadikan nilai tambah untuk dapat berkembang dengan baik dan berkegiatan di dalam kelompok kerja dengan baik pula. “Apakah konflik itu perlu?” Pertanyaan ini dilontarkan ke seluruh peserta dan dijawab satu persatu sesuai arahan fasilitator. Antusiasme peserta terlihat dengan jawaban yang disampaikan bukan hanya sekedar “ya, perlu”, tapi dapat berupa uraian argumen dari mahasiswa.

Peserta diajak untuk dapat menelaah ke dalam diri sendiri, penyebab konflik yang tengah dialami. Apalagi jika mereka nantinya menjadi orang yang bekerja untuk pertama kalinya di suatu kantor atau lingkungan baru yang sangat berbeda saat mereka masih menjadi mahasiswa. Adapun sumber konflik yang seringkali menjadi pemicu menurut mas Abi adalah : keterbatasan sumber daya alam, perbedaan tujuan, miskomunikasi, perbedaan attitude-value-persepsi serta perbedaan style. Adakalanya sumber konflik itu muncul satu persatu, kadang muncul bersamaan. Bukan saja di lingkungan baru, kadang lingkungan lamapun juga muncul konflik dengan salah satu kondisi seperti di atas.

Adanya keterbatasan sumber daya menjadikan pemicu konflik sering terjadi di hampir semua lini. Kemampuan untuk cepat beradaptasi bahkan di masa pandemi seperti saat ini harus disikapi dengan sigap dan cepat. Peningkatan atau upgrade ketrampilan dan kemampuan seseorang akan sangat berarti dalam keberlangsungan sebuah team work. Selain itu, perlu adanya persamaan persepsi dan tujuan bersama. Adanya tujuan bersama yang akan diraih perlu penyesuaian berbagai pihak. Sehingga KOMUNIKASi yang baik sangat dibutuhkan pula. Yang tidak kalah penting akan adanya konflik adalah karena tidak mampunya seseorang menjaga attitude. Manakala pemicu yang lain dapat teratasi namun jika attitude seseorang tidak dapat diterima, maka semua kegiatan kelompok akan dapat pecah dan tidak sampai pada tujuan bersama. Begitu juga dengan style yang dimiliki oleh seseorang, akan dapat menimbulkan konflik interpersonal.

Ketika sudah mampu memahami sumber konflik, peserta diberikan paparan awal mengenai strategi dalam menghadapi konflik. Ada strategi yaitu :
1.Avoiding
2.Accomodating
3.Compromising
4.Competing
5.Collaborating
Dengan memahami 5 strategi ini, diharapkan peserta pelatihan mampu memahami diri sendiri untuk dapat bersikap, sehingga mengelola atau memilih strategi mana yang harus dilakukan ketika menemui konflik. Peserta diingatkan untuk dapat mengetahui akar masalah konflik terlebih dulu, kemudian melihat kondisi lingkungan dan mampu menerapkan strategi dengan baik. Tidak semua masalah dapat teratasi dengan satu strategi saja, namun semua tergantung situasi dan kondisi. (yoel-sscc)

Kategori: