Motivasi Kerja, Bagaimana Cara Mengidentifikasinya? Serial Pelatihan Siap Kerja SSCC
Selasa, 17 November 2020 | 9:21 WIB

Apa yang membuatmu ingin melamar di posisi (kerja) yang ditawarkan oleh perusahaan “X” itu?
Pertanyaan ini umum diucapkan saat seseorang melamar kerja. Motivasi apa yang mendorongmu untuk melamar kerja pada satu tempat. Penggalian metode wawancara telah terselenggara pada seri yang lalu.  Kali ini, pelatihan siap kerja yang diadakan oleh SSCC setiap Rabo pukul 16.00 – 18.00 melalui supercyber.unika bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi ini membahas tentang motivasi kerja.

Hari Rabo tanggal 11 November lalu, Mas Abi, begitu panggilan dari dosen Fakultas Psikologi Unika yang juga tergabung dalam tim pelatihan siap kerja di SSCC, mengawali kegiatan pelatihan ini dengan menanyakan hal-hal yang membuat peserta merasakan kesegaran. Ketika salah satu mahasiswa yang bernama Enrico ditanya : kamu sebenarnya pengen apa selanjutnya, pengen bekerja atau tidak sih? Jawabannya adalah tidak pak, saya ingin bersenang-senang saja. Sontak peserta tertawa dan suasana menjadi lebih nyaman untuk memasuki materi motivasi kerja. Saat mahasiswa lain yang bernama Nova ditanya hal yang sama, jawabannya adalah : ya saya mau bekerja, bukan hanya mendapatkan uang, tapi juga untuk mendapatkan relasi. Kedua jawaban ini menunjukkan perbedaan cara pandang seseorang akan satu hal keinginan untuk bekerja atau tidak.

Motivasi kerja sesungguhnya adalah penggalian diri sendiri untuk mendapatkan nilai utama tentang hal-hal yang mendorong manusia untuk bekerja. Terkadang banyak jalan yang harus dilalui, bahkan jalan memutar yang itu itu saja untuk mendapatkan motivasi diri. Jangan pernah bosan untuk selalu mengobrolkan apa yang menjadi dasar seseorang mau bekerja, melakukan pekerjaan dan menjalaninya bahkan terkadang sampai lembur.

Satu pertanyaan yang mungkin dapat dijadikan refleksi adalah : apa yang membuatmu mau bangun pagi, berangkat ke tempat kerja yang mungkin jauh dari tempat tinggal serta dengan kemacetan yang pasti terjadi? Atau pertanyaan lain: mengapa bekerja mau sampai lembur hingga malam hari, lalu pulang dengan energi yang sudah habis?

Salah satu teori Motivasi Kerja yang ditampilkan oleh mas Abi adalah teori dari McClelland. Menurut ahli ini, ada 3 need dasar yang menjadikan seseorang memotivasi dirinya untuk bekerja. Tiga need tersebut adalah Achievement – Power dan Affiliation. Tiga motivasi ini dijelaskan dengan gamblang oleh mas Abi berserta contoh-contohnya.

Achievemet adalah motivasi kerja bagi seseorang yang sangat suka dengan mengejar target, mengambil resiko, suka berinovasi dalam pencapaian serta tujuannya lebih daripada uang.  Type ini adalah orang yang tidak suka hanya diam dan menerima uang begitu saja. Kepuasan orang dengan type ini adalah ketika mencapai bahkan melampaui target.

Kemudian motivasi kedua adalah tentang Power, dimana seseorang ingin mendapatkan posisi untuk mengendalikan sesuatu. Type orang dengan motivasi kerja seperti ini biasanya sangat loyal terhadap perusahaan atau organisasinya. Hal yang mungkin terkesan agak buruk adalah “seolah-olah mengejar jabatan”, namun bukan itu sebenarnya yang diinginkan.

Yang ketiga adalah Affiliation, dimana kebutuhan sosial untuk berkumpul dengan orang-orang. Dimana saat berkumpul, akan mendapatkan komunitasnya, mendapatkan rasa disayangi , akan betah bekerja dan bekerja sama dengan lingkungan yang nyaman.

Menetapkan diri pada salah satu dari type ini, atau kecenderungan pribadi pada salah satu type di atas bukanlah sebuah keputusan. Keaktivan kita menggali diri sendiri yang mampu memposisikan diri kita pada type seperti apa. Dari ketiga type motivasi kebutuhan hidup ini, tidak ada yang buruk. Ketiga-nya (need) selalu ada dalam diri manusia, hanya ada salah satu yang menonjol sedangkan dua yang lainnya akan mengikuti.

Teori lain yang disampaikan adalah teori kebutuhan dari Abraham Maslow. Teori kebutuhan manusia oleh Maslow adalah berupa hirarki kebutuhan dari yang paling mendasar sampai ke paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Dalam setiap segmen kehidupan, terkadang kondisi kebutuhan hidup manusia dengan teori Maslow ini akan berulang. Maslow menyampaikan bahwa tingkat kebutuhan manusia ada 5 level, yaitu : Fisiologi, Rasa aman, Cinta, Harga Diri dan yang puncak adalah Aktualisasi Diri.

Tahap kehidupan manusia sekarang ini akan berbeda pada waktu 10 tahun mendatang. Jika saat ini kebutuhan hidup adalah sebagai mahasiswa nantinya akan berbeda ketika telah bekerja bahkan saat bekerja, berbeda lagi pada saat berumahtangga. Mahasiswa mungkin telah mendapatkan aktualisasi diri dengan mendapatkan kepuasan sebagai ketua BEM, atau senang dengan pencapaiannya menjadi ketua panitia pelaksana kegiatan kemahasiswaan. Mungkin mahasiswa telah mendapatkan aktualisasi diri (tingkat puncak), karena tingkat terendah – fisiologis telah terpenuhi oleh orang tua. Dan pencapaian tingkatan ini akan berubah lagi ketika pada saat nanti bekerja dan begitu seterusnya.

Pemahaman akan teori Maslow ini juga tidak sekedar terjadi begitu saja, namun sekali lagi adalah karena keaktifan tiap pribadi dalam menggali keinginan, harapan dan perilaku kita. Perlu penggalian diri terus menerus hingga akhirnya masing-masing orang mampu merumuskan tiap kebutuhannya ke dalam level teori Maslow tersebut.

Pelatihan ini diakhiri dengan praktik yang sebenarnya bagi peserta untuk merumuskan secara detail kebutuhan hidup mereka ke masing-masing level, sesuai dengan kondisi saat ini sebagai mahasiswa. (yoel-sscc)

 

 

Kategori: ,