Dampak Lingkungan Covid-19
Jumat, 13 November 2020 | 15:37 WIB

SM 13_11_2020 Dampak Lingkungan Covid-19

Oleh: Ch Arie Sulistiono, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata Semarang.

PANDEMI Covid-19 belumlah usai dan masih berlangsung entah sampai kapan. Secara global, semua pihak terfokus pada penanganan masalah pandemi ini, baik dari segi perawatan, pengendalian maupun pencegahan atas paparan dan penularan Covid-19. Beberapa negara, termasuk Indonesia, tengah berusaha memulai uji coba vaksin anti-Covid-19 pada hewan dan manusia.

Namun itu semua belumlah menampakkan hasil nyata bila dibandingkan dengan angka penularan dan korban meninggal karena terpapar virus tersebut yang kian meningkat dibandingkan dengan tingkat kesembuhan yang telah dicapai.

Di Indonesia, kondisinya tidaklah berbeda dari kondisi di negara-negara lain. Hitungan penderita masih terus bertambah. Semua gerak langkah pemerintah pusat dan daerah terfokus pada upaya-upaya nyata bagaimana menangani pandemi Covid-19 ini dengan perhatian menyelamatkan kehidupan umat manusia.

Akibatnya, langkah ini terkesan mengabaikan kepentingan dan keberlanjutan lingkungan hidup, bahkan tanpa disadari, justru menambah persoalan pencemaran lingkungan.

Persoalan Lingkungan

Barbara Ward dan Rene Dubos (Gramedia, 1974), mengungkap pemikiran dan permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh orientasi ekonomis dan bisnis yang mengeksploitasi bumi. Konsekuensinya, banyak persoalan sosial dan lingkungan harus dibayar mahal.

Sejalan dengan pandangan tersebut, survei yang berorientasi lingkungan menyatakan bahwa terdapat 10 permasalahan utama lingkungan yang mengemuka, yakni msalah sampah, banjir, pencemaran sungai, pemanasan global, pencemaran udara, rusaknya ekosistem laut, kelangkaan air bersih, kerusakan hutan, abrasi dan pencemaran tanah.

Banyak langkah dan upaya yang dilakukan baik oleh perorangan, kelompok, komunitas, maupun LSM, namun langan perusahaan, maupun pemerintah belumlah menyelesaikan problem- problem lingkungan tersebut. Kian tahun justru kian bertambah akibat karakter eksploitasi sumber daya alam dan orientasi ekonomis.

Upaya mengatasi pandemi Covid-19 yang berorientasi pada penyelamatan kehidupan umat manusia, mestinya dilakukan pula demi menyelamatkan lingkungan yang berujung pada keselamatan manusia.

Masalah sampah menjadi masalah yang paling urgen. Berbagai upaya mencegah, merawat dan menangani Covid-19 menghadirkan pula persoalan limbah sampah. Sampah medis memerlukan tindakan khusus untuk menghindarkan penularan.

Selain itu, perilaku masyarakat umum dalam berbelanja baik secara off-line dan secara on-line berdampak pula pada sampah, terutama plastik. Akibat protokol kesehatan yang mewajibkan adanya bungkus rangkap dan disinfectan untuk mencegah paparan virus meningkatkan sampah plastik.

Kewajiban baru cuci tangan dengan menggunakan sabun/ deterjen secara lebih sering frek u e n s i n y a pada setiap warga masyarakat, penggunaan hand sanitizer, dan bahan-bahan kimia lainnya tentu akan cenderung meningkatkan bert a m b a h n y a pencemaran terhadap lingkungan air dan tanah.

Deterjen yang meresap ke tanah dan mengalir ke selokan, sungai- sungai dan akhirnya ke laut bertambah secara signifikan seiring dengan peningkatan frekusensi aktivitas cuci tangan dengan menggunakan sabun dan hand sanitizer serta zat kimia lainnya.

Protokol kesehatan yang menggerakkan masyarakat melakukan sterilisasi lingkungan perumahan, pertokoan, fasilitas umum lainnya menggunakan disinfektan, bahan-bahan antibiotik juga memberi beban pencemaran lingkungan tanah dan udara serta air.

Tambahan lagi bila kita memperhatikan aspek lingkungan tanah/lahan pemakaman jenasah korban Covid-19 dengan menggunakan protokol pemakaman jenasah menjadikan lahan tanah menerima ekstra ìmaterialî karena adanya peti jenazah, plastik pembungkus jenasah, peralatan-peralatan protap lainnya dan zat-zat kimia tertentu tentu saja menimbulkkan beban tambahan terhadap pencemaran tanah, air dan udara.

Pandemi Covid-19 dan upaya- upaya optimal mengatasinya, bila tidak dilakukan dengan baik akan berdampak pada persoalan lingkungan, khususnya dalam persoalan sampah, pencemaran air, persoalan udara dan tanah.

Menjaga Bumi

Keberlanjutan kehidupan manusia dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan seiring. Dibutuhkan komitmen bersama untuk menyeimbangkannya dengan fokus perawatan bumi. Upaya mengatasi pandemi Covid- 19 membutuhkan komitmen semua pihak untuk taat pada protokol kesehatan, tetapi juga mengupayakan langkah-langkah meminimalisasi permasalahan lingkungan dengan menjaga bumi kita.

Perlu disadari bahwa beban persoalan lingkungan (pencemaran air, udara, dan tanah) adalah sebuah harga yang harus dibayar saat ini maupun pada masa mendatang. Untuk itulah semua pihak harus berkomitmen mengatasi persoalan ini. Semua dipanggil menjaga bumi dengan meminimalisasi sampah medisnon medis dan terutama plastik.

Sedapat mungkin mengurangi pencemaran air akibat zat kimia (deterjen, hand sanitizer, racun dan bahan kimia lainnya), pencemaran udara (karena frekuensi peningkatan yang luar biasa penggunaan handsanitizer dan penyemprotan lingkungan, udara dan berbagai area dengan material disinfectan) dan pencemaran tanah karena peningkatan luar biasa bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan dan sulit/lama terurai oleh media tanah yang masuk ke dalam tanah dalam volume dan frekuensi yang luar biasa. Menjaga bumi bisa dimulai dari sikap dan perhatian kita sendiri.(34) –

https://www.suaramerdeka.com/news/opini/246844-dampak-lingkungan-covid-19

Kategori: , ,