Webinar Seri ke-11 FTP Bahas Rethinking the Way We Eat
Rabu, 21 Oktober 2020 | 10:19 WIB

Webinar FTP Seri ke-11 “Menyemai Harapan: Rethinking the Way We Eat”

Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata kembali menghadirkan Webinar Seri ke-11, kali ini dengan tema “Menyemai Harapan: Rethinking the Way We Eat”. Webinar yang khusus ditujukan bagi siswa-siswi SMA dan calon mahasiswa baru FTP Unika ini diselenggarakan pada hari Selasa (20/10) pada pukul 17.00-18.00 WIB. Dipandu oleh Yohanes Alan Sarsita Putra (mahasiswa Teknologi Pangan angkatan 2019), hadir dua narasumber yang juga merupakan mahasiswa Teknologi Pangan FTP Unika angkatan 2018 yakni Stanley Adrian Soesilo (Student of The Year FTP Unika Soegijapranata) dan Bunga Alodia (Kandidat Student of The Year FTP Unika Soegijapranata). Dalam webinar tersebut, disampaikan dua materi mengenai “Love Your Food: Practical Strategy in Reducing Food Waste” yang disampaikan oleh Stanley dan “Food Packaging and Environment” oleh Bunga.

Sampah makanan adalah bahan makanan yang tidak terkonsumsi atau busuk pada saat pengiriman dan saat ini menjadi permasalahan di seluruh dunia. Seperti disampaikan Stanley, sampah makanan memiliki dampak yang buruk bagi ketahanan makanan, kelestarian lingkungan, serta ekonomi.

“Ketahanan pangan bisa diartikan sebagai ketersediaan makanan yang mencukupi dari segi kuantitas dan kualitas. Adanya sampah makanan menyebabkan jumlah makanan yang diterima oleh konsumen menjadi berkurang. Sampah makanan juga berdampak pada kelestarian lingkungan, di mana sampah makanan dapat menghasilkan gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global. Dari segi ekonomi tentunya sampah makanan akan menghabiskan sumber daya alam seperti biaya untuk air dan pupuk untuk menghasilkan makanan tersebut,” jelas Stanley dalam sesi webinar.

Sampah makanan seringkali terjadi karena adanya budaya menyediakan makanan berlebih khususnya pada saat acara besar, membeli makanan lebih dari yang dibutuhkan, serta kurangnya pengetahuan dalam mengolah bahan makanan dan cara menyimpan makanan, terang Stanley.

Terkait hal itu, masyarakat sebagai konsumen mengambil peran penting sebagai bagian dari solusi pengurangan sampah makanan. “Mengurangi kelebihan makanan adalah cara yang paling ramah lingkungan dan paling mudah kita lakukan sebagai konsumen. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan kebiasaan berbelanja makanan yang tidak berlebihan, menyimpan makanan dengan baik dan benar, dan kebiasaan makan yang menghindari terbentuknya sampah makanan,” ungkap Stanley.

Pada saat berbelanja, periksa dan catat bahan-bahan makanan yang diperlukan. Saat memesan makanan pun dapat disesuaikan porsi yang dipesan sesuai dengan kebutuhan. Apabila makanan yang dibeli ternyata berlebih, makanan tersebut dapat disimpan dalam wadah yang telah dibawa.

“Dalam menyimpan makanan, ikuti instruksi cara menyimpan bahan makanan yang tertera pada label kemasan. Untuk bahan pangan yang tidak berlabel seperti yang dibeli dari pasar, kita bisa mencatat dan memberi label sendiri sehingga akan lebih mudah dalam mengidentifikasi kapan bahan tersebut harus dihabiskan,” ulas Stanley.

Merapikan tempat menyimpan makanan juga bisa menjadi aletrnatif solusi lainnya, terang Stanley. Dengan meletakkan makanan yang harus segera dihabiskan pada tempat yang paling tampak mata dan memisahkan bahan makanan yang sudah matang atau masih mentah, maka sampah makanan yang dapat timbul karena rusak akibat kontaminasi dan karena leftover dapat diminimalkan. Leftover food atau bahan pangan yang tersisa dapat bisa diolah kembali dengan berbagai resep yang ada di internet.

“Cara lainnya adalah dengan memerhatikan tanggal kadaluarsa. Makanan yang telah melebihi tanggal kadaluarsa harus segera dibuang, karena hal ini berkaitan dengan keamanan makanan tersebut. Namun makanan yang telah melewati masa ‘best before’ atau ‘baik digunakan sebelum’ dapat diperiksa terlebih dahulu apakah masih baik dari segi kualitas fisik, aroma, dan rasa. Makanan yang telah melewati masa ‘best before’ masih dapat dikonsumsi hanya saja kualitasnya tidak seoptimal saat pertama kali dibeli,” terang Stanley.

Seringkali ada banyak tantangan untuk mengurangi sampah makanan, seperti kurangnya waktu dan pengetahuan. Inilah alasan dikembangkannya program mengenai edukasi sampah makanan melalui media sosial  bernama LoveYourFood.id yang dilakukan oleh Stanley dalam ajang Student Of The Year 2020 mewakili FTP.

Kemasan Pangan dan Dampak Lingkungan

Sementara itu, Bunga dalam sesinya menyampaikan mengenai pentingnya kemasan dalam produk makanan. “Ada banyak bahan yang digunakan sebagai kemasan atau food packaging seperti plastik, kertas, atau metal. Kemasan memang menjadi hal yang tidak terpisahkan dari makanan. Ini karena kemasan memiliki beberapa fungsi penting antara lain containment, convenience , communication, serta protection and preservation,” tutur Bunga.

Fungsi containment artinya kemasan berfungsi untuk mewadahi makanan supaya tidak tumpah. Kemasan juga berfungsi memberikan kenyamanan dan kepraktisan pada konsumen saat mengonsumsi makanan (convenience), untuk menyampaikan informasi produk kepada konsumen (communication), serta fungsi protection and preservation yaitu sebagai pemisah dari lingkungan luar sehingga makanan tidak terkontaminasi oleh kontaminan fisik, kimia, dan mikrobiologi, dan dengan demikian dapat memperpanjang umur simpan produk makanan.

Plastik menjadi salah satu bahan yang banyak digunakan sebagai kemasan makanan. Seperti disampaikan Bunga dalam sesi webinar, ini karena plastik memiliki beberapa kelebihan antara lain ringan, tahan lama (durable), tidak mudah bereaksi (inert), ekonomis dari segi harga, dan bervariasi dari segi warna, transparansi, dan sifat yang dapat digunakan sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Meski demikian, plastik sangat susah terdegradasi sehingga menyebabkan permasalahan lingkungan. “Lebih dari 40% sampah berakhir dengan dibakar, sehingga plastik melepaskan senyawa toksik ke udara dan menyebabkan polusi udara. Mikroplastik atau serpihan plastik yang berukuran sangat kecil juga bersifat karsinogenik dan toksik. Ini sangat membahayakan organisme laut karena dapat termakan oleh organisme perairan dan bersifat bioakumulatif. Selain itu, sampah plastik yang terpendam di tanah juga dapat melepaskan senyawa toksik dan terserap dalam sumber air tanah sehingga menyebabkan polusi tanah,” terang Bunga.

Untuk mengurangi penggunaan plastik, beberapa usaha telah dilakukan. Beberapa di antaranya adalah penggunaan edible packaging, biodegradable packaging, dan tentunya gerakan mengurangi plastik. Edible packaging atau kemasan yang dapat dimakan merupakan kemasan yang terbuat dari rumput laut (seaweed) dan tanaman. Edible packaging dapat terdegradasi dalam 4-6 minggu lebih cepat dan dapat diaplikasikan untuk kemasan saus, salad dressing, atau jus. Terdapat pula biodegradable packaging atau kemasan yang bisa terdegradasi oleh mikoorganisme, salah satunya berbahan dasar singkong.

 (B. Agatha)  

Kategori: ,