UMKM Gandeng E-commerce Siasati Lesunya Bisnis
Kamis, 8 Oktober 2020 | 12:58 WIB

image

Bulan Oktober masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhirnya pandemi corona.

Pandemi itu membawa dampak multi-dimensi yang meluas di berbagai sektor.

Satu di antara sektor yang terdampak yaitu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Jawa Tengah.

Berdasarkan survei per tanggal 26 September 2020 yang dipublikasi di website Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah bisa dibilang dengan jumlah yang sangat banyak, lebih dari 31.000 UMKM.

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, Dra Ema Rachmawati dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh tim peneliti penerima hibah Dikti Kemendikbud Tahun 2020 Unika Soegijapranata, Selasa (6/10/2020) malam.

Anggota tim peneliti penerima hibah Dikti tahun 2020 ini melalui skim Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) yakni Dr Berta Bekti Retnawati MS, Dra B Irmawati MS, dan Hieronimus Leong MKom dengan mengangkat tema FGD Kondisi dan Upaya Adaptif UMKM Kerajinan Bahan Alam Jawa Tengah di Masa Pandemi.

Lebih lanjut Dra Ema Rachmawati menjelaskan bahwa yang paling banyak terdampak pandemi covid-19 adalah dari sektor makanan dan minuman yaitu sebesar 71 persen.

Sedangkan untuk sektor fesyen sebesar 7 persen dan sektor handicraft adalah 3,83 persen.

“Persoalan yang dihadapi oleh para pelaku UMKM saat masa pandemi covid-19 ini adalah masalah pemasaran sebesar 51 persen, kemudian pembiayaan juga menjadi persoalan karena selama masa pandemi ini, para pelaku UMKM kehabisan modal, hal tersebut terjadi karena mereka harus hidup dari simpanannya, sementara usahanya harus terus berlangsung,” ucap Ema.

Oleh karena itu pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional sudah memberikan berbagai skema pembiayaan bagi para pelaku UMKM, yaitu mulai dari restrukturisasi pajak, restrukturisasi pembiayaan.

Selain itu juga subsidi bunga, kemudian dalam koperasi melalui restrukturisasi hutang melalui PBB, serta penjaminan melalui Jamkrindo dan Askrindo, dan yang terakhir adalah bantuan Presiden untuk usaha mikro sebesar Rp 2,4 juta per UMKM, sambungnya.

Ema menuturkan, yang menarik dari pengalaman beberapa UMKM yang bisa bertahan bahkan menaikkan omzetnya di saat pandemi adalah mereka yang motivasinya masih kuat, kreatif dan inovatif, serta menguasai teknologi digital, juga mau berkolaborasi.

“Beberapa waktu lalu saya sempat melakukan survei, rata-rata UMKM yang bekerja sama dengan e-commerce, mereka mendapatkan kenaikan omzet sebesar 200 persen,” terang Ema.

Sedangkan, Dr Berta Bekti Retnawati yang merupakan salah satu tim peneliti hibah Dikti menjelaskan peserta UMKM berasal dari sentra-sentra kerajinan dengan produk ikonik bahan baku alam, yakni kabupaten Semarang, kota Semarang, Kota Magelang dan kota Pekalongan.

"Dari kabupaten Semarang dengan kerajinan enceng gondok, kota Semarang dengan kerajinan batik warna alam dan tas dari bahan alam. Kota Magelang dengan kerajinan kulit kerang, tanduk, dan bambu, sedangkan Pekalongan dengan kerajinan mending, akar wangi, juga enceng gondok,” jelasnya.

Menurutnya, perguruan tinggi harus selalu hadir dalam membantu kebutuhan UMKM berjuang melewati masa krisis ini.

Hal ini sebagai perwujudan dari triple Helix sinergi bersama antara industri, pemerintah, dan perguruan tinggi.

Dalam kegiatan ini setiap pelaku usaha diminta memberikan gambaran kondisi eksisting setiap usaha yang digelutinya serta kondisi pandemi yang bisa memberi dampak yang tidak sedikit pada pelaku UMKM.

https://jateng.tribunnews.com/2020/10/07/umkm-gandeng-e-commerce-siasati-lesunya-bisnis?page=all.

Kategori: