Quarter Life Crisis, Anak Muda Perlu Tahu: Pelatihan Siap Kerja SSCC bagi Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Kamis, 8 Oktober 2020 | 10:42 WIB

Serial Pelatihan Siap Kerja yang diselenggarakan pada ilmu komunikasi tanggal 7 Oktober dengan moda daring, menampilkan topik Quarter Life Crisis. QLC atau Quarter Life Crisis adalah satu masa bagi anak muda yang masih harus melintasi kehidupan, terutama ketika memasuki suatu kebiasaan baru, lingkungan baru, atau kewajiban baru. QLC ini akan terjadi satu kali dalam kehidupan dan tidak akan terulang. Apabila terasa berulang, itu pertanda bahwa akar masalah belum dapat tercabut dengan baik.

CVR Abimanyu S.Psi, M.Psi sebagai Team Fasilitator SSCC membawakan materi ini dengan renyah. Bahwasanya anak muda mempunyai “masalah” mereka sendiri, dapat ditangkap dengan baik oleh mas Abi dan dipaparkan sebagai bentuk pendekatan awal untuk dapat masuk ke materi inti. Krisis ini terjadi pada anak muda sekitar umur 20-30 tahun, oleh karena itu dinamakan Quarter Life Crisis – Krisis Seperempat Hidup.

QLC ini yang menyebabkan perasaan depresi, cemas, dan penuh keraguan (Rossi & Mebert 2011). Krisis yang diawali perasaan terjebak pada suatu kondisi tertentu. Banyak anak muda dalam kondisi merasa tidak berdaya karena komitmen awal yang ternyata tidak lagi diinginkan, namun belum ada gambaran kedepan seperti karir ataupun relasi dengan lawan jenis. Adanya suatu perasaan berada di lingkungan yang sudah tidak mendukung lagi.

Mas Abi menjelaskan bahwa QLC ini terjadi dalam 4 fase, yaitu : menjaga jarak, mempertanyakan kebermaknaan hidup, eksplorasi diri dan merasa Ikigai. Pada Fase pertama dikatakan bahwa oleh karena adanya perasaan terjebak pada kondisi tertentu maka anak muda akan menarik diri dari komitment awal dan menjaga jarak. Dapat dikatakan bahwa secara reflek seseorang akan melakukan hal ini ketika lingkungan sekitar kurang menguntungkan ataupun tidak sepadan lagi dengan langkah.

Fase kedua adalah mempertanyakan pada diri sendiri tentang kebermaknaan hidup. Kebermaknaan diri pada sekitar ataupun pada kehidupan sangat mendasar dipertanyakan oleh anak muda. Terkadang langkah yang diambil oleh mereka sangat ekstrim seperti langsung resign dari pekerjaan, langsung putus dari hubungan pertemanan atau bahkan pacar. Istilah trend-nya adalah mengikuti passion-nya. Sebaliknya, ada kondisi yang lebih buruk dari yang telah tertulis di atas, seperti stress atau bahkan depresi.

Fase ketiga dilalui dengan eksplorasi diri, disini akan tergali Ikigai seseorang melalui passion – misi – keahlian – profesi yang menyatu. Adanya Kreativitas dengan meningkatkan keterlibatan pribadi dalam hidup dengan Berkarya, bekerja, melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, serta menghayatinya. Lalu penghayatan akan nilai kebenaran, keindahan, keagamaan, keimanan, cinta kasih. Dan juga bersikap menerima sepenuhnya dengan ketabahan, kesabaran, keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dihindari. Ada yang menyatakan bahwa penderitaan dapat menjadi hikmah dan memberikan makna.

Sebagai fase terakhir adalah menemukan IKIGAI, yaitu menemukan bahagia, merasa bahagia dan berdamai dengan diri sendiri hingga menikmati hidup. Pada fase inilah yang terpenting, dimana akar masalah dan jalan keluar didapatkan yang membentuk rasa bahagia.

Pelatihan ini diikuti oleh lebih dari 40 mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan antusias. Banyak pertanyaan yang disampaikan dan dapat terjawab dengan baik.
“Saya sangat beruntung dapat mengikuti pelatihan ini, karena saya menjadi tahu apa yang terjadi pada diri saya beberapa waktu itu. Semoga saya bisa melaluinya dengan baik. Terimakasih pak Abi, juga bu Yoel dan SSCC,” ungkap Vania, salah satu peserta pelatihan ini. (yoel-sscc)

Kategori: