Masyarakat Punya peran Penting Sukseskan Program #IngatPesanIbu
Jumat, 16 Oktober 2020 | 8:21 WIB

image

Peran perempuan khususnya ibu sangat kuat dalam mengubah perilaku di masyarakat. Lewat peran ibu, pemerintah meluncurkan kampanye #ingatpesanibu dengan harapan masyarakat patuh terhadap protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sebagaimana seorang anak patuh terhadap ibunya sendiri. Namun, hal itu juga perlu didukung dengan ketaatan dan kepatuhan masyarakat untuk terus mendukung program protokol kesehatan demi memutus mata rantai Covid-19.

“Saat ini kita memasuki bulan ke delapan masa pandemi, kita tidak bisa bayangkan kapan selesainya. Menurut saya Ibu kayaknya paling menderita. Ibu saat ini tidak hanya berperan ganda tapi berperan multi dalam pencegahan Covid-19,” kata Dr Endang Wahyati, ketua program studi Magister Hukum Kesehatan Unika Soegijapranata dalam acara ngobrol virtual yang digelar Suara Merdeka Network dengan tema “Pesan Ibu dan Ketidaktaatan Terhadap Regulasi Berkait Dengan Penanganan Covid-19”, Kamis (15/10).

Kegiatan yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Goenawan Permadi  tersebut juga menghadirkan narasumber lainnya yakni Dr Dra Ayun Sriatmi MKes, aktivis dan bagian Administrasi dan Kebajikan Kesehatan FKM Undip, Dra Dra Frieda NRH MS, Psikolog Undip dan Tazkiyyatul  Muthmainnah MKes, politikus Partai kebangkitan bangsa.

Bicara ketaatan, Endang menambahkan, Pemerintah juga sudah berupaya membuat  kebijakan terkait penanggulangan Covid-19. Hanya saja masih banyak yang abai dengan protokol kesehatan.

“Ketidaktaatan menjadi satu penyebab pandemi tidak menurun bahkan terus bertambah (angkanya). Bagaimanapun pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, partisipasi masyarakat juga penting,” imbuhnya.

Senada, Tazkiyyatul  Muthmainnah MKes, politikus Partai kebangkitan Bangsa menyebut ketaatan masih jadi masalah bersama. Menurutya, pelaksanaan penegakan regulasi juga sudah dilaksanakan tim Satgas Covid.

“Saya berbulan-bulan ikut dalam proses sosialisasi edukasi dengan program yang ada. Tapi memang diakui atau tidak masyarakat kita belum semua bisa melakukan (taat). Saya dan tim setiap bulan keliling pasar ke pasar untuk bagi bagi masker. Di pasar ada yang tidak bawa masker ada yang bawa tidak dipakai. Ini jadi PR bersama, kesadaran masyarakat melindungi sendiri dan orang lain itu wajib,” bebernya.

“Saya berharap apa yang sudah dilakukan pemerintah bisa menimbulkan efek jera. Rata-rata masyarakat lebih takut kehilangan uang daripada mereka sakit atau menulari orang lain. Untuk itu pentingnya sosialisasi juga edukasi ke masyarakat harus terus menerus dilakukan,” tambahnya.

Pihaknya juga setuju peran ibu disebut sangat vital selama pandemi. Karena diakui atau tidak yang terdampak adalah perempuan.

“Bebannya lebih multi. Sekarang ibu di rumah juga jadi guru karena sekolah juga daring, belum harus pintar mengelola keuangan selama pandemi, beban seperti ini kita bisa andalkan ibu-ibu.

Dr Dra Ayun Sriatmi MKes, aktivis dan bagian Administrasi & Kebajikan Kesehatan FKM Undip, menuturkan selalu ada pro dan kontra dalam kebijakan yang diluncurkan. Yang terpenting adalah merubah cara berpikir dan terus melakukan sosialisasi.

“Sekali lagi kebijakan selalu ada pro kontra. Jadi bagaimana protokol kesehatan harus dipatuhi kita harus mengubah mindset kita.  Juga bagaimana keteladanan diterapkan semua elemen. Kalau itu semua sama-sama dilakukan, saya kira masyarakat bisa patuh,” ungkapnya.

Pihaknya juga sepakat peran perempuan khususnya ibu dilibatkan dalam sosialisasi 3M. Sebab sosok ibu punya peran ganda, pertama selain karakteristik mudah takut (khawatir) terhadap situasi juga lebih banyak patuh. Kedua, ibu termasuk di dalam rumah tangga sebagai manajer yang mengatur semuanya.

“Pesan saya mari kita taati protokol kesehatan, ini dibuat untuk kepentingan bersama, tidak ada manfaatnya aturan ini dirumuskan jika masyarakat tidak mau mentaati. Patuh terhadap protokol kesehatan juga bukan hal yang sulit, yang penting kita mau melakukan,” jelasnya.

Sementara Dr  Dra Frieda NRH MS, Psikolog Undip melihat diperlukan pemberdayaan ibu-ibu untuk mensosialisasikan dan memberi edukasi tentang protokol kesehatan.

“Mudah-mudahan bisa lebih efektif, karena perempuan itu komitmennya tinggi, begitu mereka mendapat amanah, satu tugas, mereka antusias. Sosok ibu juga akan selalu menjadi yang pertama mengingatkan keluarganya, sebab lawan kita virus yang tak terlihat,” ujarnya.

Adapun terkait ketaatan dan kepatuhan, dirinya sepakat adanya sanksi agar masyarakat lebih peduli dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.

“Bahwa diperlukan sanksi yang tegas saya setuju karena kita masih butuh itu, tapi juga dilakukan pendekatan agar aturan itu terinternalisasi. Sosialisasi juga jangan hanya semacam ritual saja, tapi perlu kita ubah cara pikir, kita lakukan pendekatan, lakukan komunikasi dua arah, sekali lagi sehat itu kewajiban, sehat bagian dari rasa syukur dari Tuhan. Untuk itu wajib bagi kita menjaga ksehetan. Itu bukan untuk siapa-siapa tapi untuk diri kita sendiri,” tandasnya.

https://www.suaramerdeka.com/regional/semarang/243784-masyarakat-punya-peran-penting-sukseskan-program-ingatpesanibu

Kategori: