LPPM Unika Sosialisasikan Buku Pedoman PPM Edisi XIII Secara Virtual
Kamis, 15 Oktober 2020 | 9:42 WIB

Sosialisasi Buku pedoman PPM Edisi XIII dan Kiat Proposal Lolos DRPM oleh LPPM Unika secara virtual

Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) melalui surat nomor B/972/E3/RA.00/2020 tanggal 5 Oktober 2020 menginformasikan tentang peluncuran buku Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Edisi XIII Tahun 2020.

Penyempurnaan Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat sebagai pedoman tata laksana penelitian dan pengabdian di lingkungan DRPM tahun 2021, dan dalam rangka hal tersebut Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata menyelenggarakan webinar dengan tema acara “Sosialisasi Buku pedoman PPM Edisi XIII dan Kiat Proposal Lolos DRPM” pada hari Rabu (14/10) di ruang virtual Unika.

Ada dua skema yang ditawarkan dalam penerimaan proposal untuk pembiayaan tahun 2021, yaitu skema penelitian yang terdiri dari penelitian dosen pemula, penelitian disertasi doktor, penelitian dasar, penelitian terapan, penelitian dasar unggulan perguruan tinggi, dan  penelitian terapan unggulan perguruan tinggi. Dan skema pengabdian yang meliputi program kemitraan masyarakat dan program kemitraan masyarakat stimulus.

Hadir sebagai narasumber dalam acara webinar ini Prof Dr Agustinus Supriyanto SH MSi yang merupakan reviewer kompetitif nasional dari UGM. Demikian pula dari narasumber internal Unika sendiri yaitu Dr Trihoni Nalesti Dewi SH MHum serta Dr FL Budi Setiawan ST MT, keduanya juga termasuk reviewer internal bersertifikasi.

Dalam penjelasannya, Prof Agustinus Supriyanto memberikan arahan tentang tema dan substansi penelitian yang bisa dipilih sesuai dengan minat para peneliti saat mengajukan proposal penelitian kompetitif nasional.

“Ada suatu prespektif yang bisa digunakan untuk menggali potensi masing-masing peneliti yaitu menggunakan isu GESI (Gender Equality and Social Inclusion),” demikian jelas Prof Agustinus.

Jadi sebenarnya topik-topik yang ditawarkan ada prespektif itu, sebab dengan isu GESI kita bisa menelaah dampak relasi laki-laki dan perempuan serta relasi antar entitas di dalam masyarakat pada capaian pembangunan. Secara kritis penggunaan konsep GESI memosisikan relasi kuasa gender sebagai alat teropong atas hasil penelitian di perguruan tinggi yang menerima hibah riset dari Kemenristekdikti.

Sementara Dr Trihoni dalam paparannya menyampaikan bahwa seiring dengan kondisi pandemi covid-19 maka kemungkinan dalam pengajuan proposal penelitian akan lebih kompetitif.

“Kita sedang mempersiapkan proposal penelitian yang ditawarkan oleh Kemenristek Dikti. Dan untuk itu kita sedang mempersiapkan para dosen, khususnya para dosen Unika  supaya bisa menyusun proposalnya agar lolos. Jadi  ada kisi-kisi dan trik yang harus dipahami oleh para peneliti supaya kita bisa lolos seleksi penelitian dari Dikti tersebut,” urainya.

Sebenarnya jika kita bicara peluang, maka para dosen di Unika ini memiliki peluang yang sangat besar dan berkualified untuk bisa menembus hibah yang ditawarkan oleh Dikti ini, hanya saja beberapa kisi-kisinya yang perlu kita pertajam terkait dengan bagaimana mencermati pedoman-pedoman baru yang diberikan oleh Dikti, antara lain State Of The Art-nya, bagaimana menyusun kebaharuan atau novelty-nya, lalu bagaimana menyelaraskan antara metode dan anggaran, lanjutnya.

Sedangkan Dr FL Budi Setiawan sebagai salah satu narasumber dalam webinar, lebih banyak memaparkan tentang program pengabdian kepada masyarakat yang juga merupakan salah satu skema yang ditawarkan dalam hibah Dikti.

“Para dosen selain melakukan penelitian, saya berharap dan mendorong para dosen tersebut juga tertarik untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ucapnya.

Maka peluang yang ditawarkan melalui skema pengabdian oleh Dikti ini hendaknya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para dosen untuk mengimplementasikan penelitiannya supaya tidak hanya di laporan saja tetapi juga bisa direalisasikan pada masyarakat, sambungnya.

Dengan demikian, harapannya di pengajuan proposal skema pengabdian masyarakat, Unika akan dapat cukup banyak yang masuk, sebab sebelumnya untuk skema pengabdian masyarakat, jumlahnya masih perlu ditambah.

Maka sebenarnya selain kita melakukan pemenuhan Tri Dharma Perguruan Tinggi, melalui pengabdian pada masyarakat kita juga bisa melakukan promosi, lanjut Budi.

Selain itu Unika jika dilihat dari sisi sumber daya manusianya sudah sangat cukup, bahkan lebih. Namun untuk mengurangi gap antara peneliti dengan kondisi masyarakat yang cukup jauh, maka sangat diharapkan para peneliti ini juga bersedia membagikan keahliannya sebagian untuk masyarakat melalui pengabdian.

Hal lain, adanya peraturan bahwa para dosen yang sudah bersertifikasi diharuskan pula untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, maka saat ini menjadi peluang untuk memenuhi persyaratan tersebut, tandasnya. (FAS)

Kategori: ,