Hospitalitas dan Persaudaraan Santri
Senin, 26 Oktober 2020 | 9:11 WIB

TRB 24_10_2020 Hospitalitas dan Persaudaraan Santri

Oleh: Aloys Budi Purnomo, Pastor Katolik, Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang

Hari Santri tiap tanggal 22/10 sejak lima tahun terakhir bermakna penting bagi saya, meski saya adalah Pastor Katolik. Selama kurang lebih sebelas tahun (2008-2019) saya melayani sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, saya akrab dengan Pondok Pesantren. Otomatis termasuk dengan almukarom para Kiai Haji dan santriwan-santriwati.

Mungkin di antara para pastor Katolik di seluruh dunia, saya paling banyak bertandang dan srawung ke Pondok Pesantren. Suatu pengalaman berharga yang saya syukuri. Saya bisa belajar banyak hal tentang saling menghargai dan mengormati, tentang keramahtamahan dan persaudaraan dalam keberamagaman, khususnya relasi yang baik antara Islam dan Katolik.

Hospitalitas

Kesan pertama dan terutama atas semua Pondok Pesantren (Ponpes) yang pernah saya kunjungi adalah hospitalitas, keramahtamahan. Pertama kali saya masuk dan tidur – meski hanya semalam – di Ponpes adalah Ponpes Edhi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang. Kala itu, mendiang Abah Mahfud Ridwan masih sugeng dan sehat sebagai pengasuhnya, didampingi Gus Hanif yang mendapat amanah melanjutkannya, sesudah Abah berpulang ke Rahmatullah.

Kala itu pula, saya menginap (live in) semalam di Ponpes Edhi Mancoro tersebut bersama rombongan orang muda Katolik (mudika) yang sedang kami kader untuk srawung dalam rangka hubungan antaragama dan kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Ada pertanyaan menarik dan menggelitik di antara peserta saat hendak berangkat. "Nanti boleh bersalaman ndak ya?" Pertanyaan itu muncul baik dari mudika cowok maupun cewek.

Ternyata, saat kami tiba di Edhi Mancoro, semua keraguan cairlah. Kami disambut penuh hospitalitas. Entah cowok entah cewek semua saling berjabat tangan erat dalam senyuman ramah. Saat beristirahat malam pun seakan tidak tidur, kamar yang diisi dua orang, satu mudika satu santri, mereka ngobrol sampai pagi. Bahkan, saat kami hendak pulang, semua tampak berkaca-kaca dalam haru biru.

Hal serupa kami alami saat saya mengajak kelompok kaderisasi berikutnya berkunjung ke Ponpes Pandanaran di Jl. Kaliurang, Jogya. Suasana cair, akrab, dan bersahabat, meski baru pertama kali saling berjumpa.

Hospital serupa saya alami secara pribadi setiap kali saya bersilaturahmi ke Ponpes Al-Islah di Tembalang, Semarang, berjumpa Kiai Budi Harjono dan para santrinya. Tak beda pula saat saya sowan ke Ponpes asuhan KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus di Rembang. Masih di Rembang, saya bersyukur ketika boleh sowan ke Ponpes Pamotan, asuhan KH Ubaidillah Achmad yang akrab disapa Gus Ubaid.

Demikian pula saat saya sowan Habib Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan. Atau juga saat saya sowan Gus Yusuf di Tegalrejo, Magelang. Tak beda pula ketika saya bersilaturahmi ke Qoriyah Thiyyibah asuhan Kang Bahrudin di Kalibening, atau di Al-Fallah Salatiga berjumpa Nyai Hajah Latifah Zoemri. Di Ponpes ini, saya malahan sowan bersama para Suster Biarawati (para pimpinan komunitas) representasi se-Indonesia. Meski kami sowan di Bulan Ramadhan toh tetap saja diberi sajian hidangan, padahal Nyai dan para santriwan-santriwati sedang berpuasa.

Lebih unik lagi di Ponpes Az-Zuhri Ketileng, asuhan Gus Luqman. Setiap tanggal 11 Februari saya ditimbali untuk ikut haul Abahe di dalam Masjid mereka. Hal serupa saya alami, di dalam masjid Ponpes Sokotunggal Gus Nuril, walau dengan acara yang berbeda.

Meski agak berbeda pula dari sisi protokoler kepresidenan, namun setiap kali sowan Nyai Hajah Sinta Nuriyah Abdudrahman Wahid di Ciganjur, toh sesudah di dalam, suasana penuh keramahan tetap saya alami. Gegara rutin ke Ciganjur, saya jadi kenal dan akrab dengan Gus Husein dan Ponpes Al-Muayyad di Surakarta. Dan dalam rangka haul Gus Dur yang ke-9, bersama Gus Husein dan para santriwan-santriwati Al-Muayyad, kami berziarah ke makam Gus Dur di Jombang. Termasuk ke makam ayah Gus Dur, kakek Gus Dur, dan KH Wahab Hasbullah pencipta lagu "Yalal Waton Minal Iman". Bersama mereka pula saya berziarah ke makam Sunan Ampel hingga nyebrang ke Bangkalan, sowan, Syech Qolil.

Persaudaraan

Bersama para santriwan-santriwati saya mengalami persahabatan dan persaudaraan. Di situlah kami belajar mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Itu pula yang diajarkan para almukarom para Kiai Haji pengasuh Ponpes yang pernah saya kunjungi. Memang yang palinv spektakuler dan besar adalah Ponpes Sunan Drajat, saat saya sowan KH Abdul Gofur yang didampingi menantunya, Gus Syahrul.

Bagiku, para Kiai Haji dan para Gus yang kuhormati dan kukasihi, telah mengajarkan kebaikan, kerukunan, keramahan, dan persaudaraan. Tak hanya kepada para santriwan-santriwati tetapi juga kepadaku.

Meski belum pernah sowan ke Ponpes yang Beliau asuh, namun pengenalan dan perjumpaanku dengan Gus Diannafi dari Sukoharjo, Gus Muwafiq di Sleman, dan Gus Izza Sadewa di Jombang (yang baru-baru ini bahkan mengunjungiku), Gus Sus dan Gus Jazuli di Klaten, membuatku kian yakin bahwa para santriwan-santriwati mereka pastinya selalu menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Itulah paling tidak yang kualami pula bersama KH Muhammad Adnan dan KH Abu Hapsin, yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah.

Malang melintangku bersama para Kiai Haji, Gus, Habib, dan para santriwan-santriwati membuatku tak ragu-ragu membanggakan diri menjadi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Dengan penuh kasih, kuhaturkan Selamat Hari Santri.

►Tribun Jateng, 24 Oktober 2020 hal. 2

Kategori: ,