Psikolog Unika Soegijapranata: Mau Stres atau Happy Saat PJJ Daring Itu Pilihan
Senin, 14 September 2020 | 8:54 WIB

image

Dosen Psikologi Universitas Katolik Soegijaprata, Lucia Trisni Widhianingtanti menekankan pentingnya mengupayakan feeling happiness dalam pelaksanaan PJJ daring saat ini. Hal ini penting terutama untuk mengatasi problem stres atau darah tinggi.

Hal itu disampaikannya dalam webinar bertema “Mendidik dengan Serba Daring yang Tidak Bikin Darting (Darah Tinggi); Dampak Psikologis dan Rohani” yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Vox Point Indonesia Jawa Tengah dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Vox Point Indonesia Kota Semarang pada Minggu, 13 September 2020.

Selain Lucia Trisni, narasumber yang turut hadir antara lain Ketua Umum Vox Point Indonesia, Yohanes Handoyo Budhisejati, Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik, RP. Darmin Mbula, OFM dan Direktur Direktorat Pendidikan DPN Vox Point Indonesia.

Dalam pemaparan materinnya, Lucia Trisni mengatakan bahwa bahagia itu tidak datang dengan sendirinya tetapi diupayakan atau diusahakan.

Membawakan materi dengan tema “Tetap Bahagia Mendidik dengan Serba Daring”, Lucia menyentil beragam problem yang timbul dari pelaksanaan PJJ daring di sekolah-sekolah saat ini.

“Pola pembelajaran baru yang serba online bukan perkara muda. Semua kalangan belum siap, para guru, siswa-siswi dan juga orang tua. Oleh karena itu, pelaksaan PJJ daring menimbulkan banyak para guru dan siswa serta orang tua stres,” katanya.

Situasi stres, menurut Lucia, akan mempengaruhi kerja otak. Stres akan menimbulkan emosi-emosi negatif pada otak dan akan menghambat proses kerja dari emosi-emosi positif yang ada.

Stres dan happy, lanjutnya, merupakan dua kutub berbeda. Maka persoalannya menurut Lucia adalah sikap atau cara masing-masing pribadi berhadapan dengan kondisi saat ini, memilih stres ataukah happy.

“Soalnya adalah kita mau memilih stres ataukah happy. Happy itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi sesuatu yang diupayakan,” tegasnya.

Ia melanjutkan bahwa saat memilih happy maka kita akan dipenuhi emosi-emosi positif, demikian sebaliknya. Saat memilih unhappy kita akan dikuasai emosi-emosi negatif. Emosi-emosi positif antara lain rasa senang, bahagia, gembira, semangat, joy, humor, fun, love, sharing good news, dan triggers.

“Maka bukan saja kita sedia payung sebelum hujan, tetapi juga sedia diri sebelum badai. Ketika hujan datang kita perlu menikmatinya atau menerimanya secara positif, bukan dengan mengeluh. Begitu pun menghadapi situasi PJJ daring saat ini, perlu disikapi dengan menumbuhkan emosi-emosi positif,” terang dosen lulusan Psikologi UGM ini.

Karena itu, ia menggarisbawahi pentingnya memilih dan membangun feeling happiness dalam menghadapi problem PJJ daring saat ini. Ada banyak hal positif yang akan timbul ketika kita lebih meilih bahagia dibandingkan stres.

“Ketika kita mengalami happiness maka manifestasi konkretnya adalah senyum. Selain itu kita dapat meleburkan diri dalam pekerjaan, bisa bekerjasama, dan menjalankan aktivitas dan pekerjaan kita dengan menyenangkan”, katanya.

Mengakhiri pemaparannya, Lucia Trisni menggarisbawahi pentingnya sebuah perubahan paradigma.

“Supaya terjadi happiness maka pekerjaan atau aktivitas kita perlu diimbangi dengan mindset, pola hidup sehat, tidur cukup, olahraga, makan sehat dan teratur. Karena itu, paradigm harus berubah dari kerja keras – sukses – bahagia menjadi bahagia – kerja keras – lebih sukses.”

https://www.kalderanews.com/2020/09/psikolog-unika-soegijapranata-mau-stres-atau-happy-saat-pjj-daring-itu-pilihan/

Kategori: