Perpustakaan Menjadi Lifestyle?
Selasa, 29 September 2020 | 13:35 WIB

Pelaksanaan webinar perpustakaan APTIK

Perpustakaan dengan salah satu fungsinya sebagai pengolah informasi pustaka, memiliki bagian yang penting dalam proses pembelajaran, pendidikan dan penelitian yang dilakukan oleh para pemustaka yang memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari kalangan akademisi maupun non akademisi.

Dalam peran yang penting tersebut, dari waktu ke waktu perpustakaan juga dituntut untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini, terutama berkaitan dengan perkembangan revolusi industri 4.0 yang memaksa siapapun untuk berubah atau mendisrupsi segala kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman.

Ditambah dengan adanya pandemi covid-19, maka tantangan perpustakaan untuk segera mencari langkah-langkah solutif agar perannya sebagai pengolah informasi pustaka dapat tetap maksimal, tampak semakin nyata.

Sementara itu, tantangan lain yang muncul bukan hanya pada sisi teknologi informasi yang semakin pesat dan masif, perpustakaan sendiri juga di tuntut untuk menciptakan inovasi baru dalam sisi pelayanan kepada para pemustaka yang dewasa ini banyak didominasi oleh generasi millenial dan generasi Z.

Menjawab berbagai tantangan tersebut, pada hari Selasa (29/9) melalui ruang virtual Zoom dan You Tube, Jaringan Perpustakaan APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katoik) menyelenggarakan webinar dengan tema “Library is a Lifestyle” dengan dimoderatori oleh Rikarda Ratih Saptaastuti S Sos

Hadir sebagai pembicara dalam webinar tersebut adalah Rektor Unika Soegijapranata sekaligus Ketua Jaringan Pembelajaran APTIK, Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC selaku pembicara pertama. Dan pembicara kedua adalah pakar perpustakaan atau Penasehat Jaringan Perpustakaan APTIK, yaitu Prof Sulistyo Basuki.

Dalam paparan materinya, Prof Ridwan Sanjaya yang mengawali sebagai pemateri sesi pertama dalam webinar, menyampaikan berbagai realitas persoalan yang muncul dan dihadapi oleh perpustakaan maupun pustakawan dewasa ini.

“ Munculnya pandemi covid-19 secara tiba-tiba dan tidak diketahui kapan akan berakhirnya, telah menimbulkan dampak yang cukup besar pada perpustakaan. Karena pelayanan perpustakaan jadi berubah karena adanya pembatasan protokol kesehatan akibat pandemi covid-19,” ungkap Prof Ridwan.

Disamping itu, karena perpustakaan berada di dalam lingkungan kampus maka ketika proses pembelajaran di kampus dilakukan secara daring, maka perpustakaan yang berada di dalam kampus juga tidak bisa memberikan pelayananan secara fisik atau offline seperti biasanya.

Keterbatasan repository perpustakaan juga menjadi persoalan yang harus dipikirkan jalan keluarnya, karena saat ini repository seringnya masih terbatas dan kurang up to date, tidak selengkap apabila para pemustaka datang langsung ke perpustakaan. Ini menjadi suatu dilema tersendiri yang disebabkan koleksi kita yang terbatas, terang Prof Ridwan menambahkan.

Namun demikian, ada nilai positif juga dengan adanya pandemi covid-19, bagi yang sudah mempersiapkan secara digital sebelum pandemi, antara lain yaitu fungsi pustakawan tetap bisa berjalan melalui jalur digital, seperti : literasi informasi, mutu penulisan ilmiah, akses VPN (Virtual Privat Network) yang diberikan kepada pemustaka sehingga mereka bisa masuk dari rumah melalui IP address perpustakaan kampus dan sebagainya.

Selain itu juga bisa memfasilitasi lahirnya berbagai konten digital lokal, antara lain : dokumentasi perkuliahan, dokumentasi kegiatan kampus, virtual tour, kursus daring, seminar daring dan lain-lain, imbuhnya.

Syarat Perpustakaan Menjadi Gaya Hidup atau Lifestyle

“Lantas apa yang bisa dilakukan oleh perpustakaan supaya perpustakaan menjadi gaya hidup atau lifestyle? Jawabannya menurut saya ada beberapa syarat, antara lain (1) perpustakaan menjadi “tempat” yang keren dan dibanggakan, (2)  Perpustakaan menjadi “tempat” yang nyaman, mencerahkan, dan memenuhi ke-keren-an pemustaka, (3)  Perpustakaan memiliki tips, menu, dan segenap resep untuk menjadi keren, (4) Mengikuti perpustakaan, punya cerita perjalanan yang keren, “ urainya.

Maka perlu ada langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan supaya perpustakaan menjadi gaya hidup, yaitu pertama, dalam perpustakaan atau di dunia pendidikan harus proaktif, inisiatif, dan adaptif dalam membaca karakter pemustaka. Kedua, menjadikan perpustakaan sebagai gaya hidup tidak bisa tiba-tiba, tetapi harus menjadi strategi. Ketiga, untuk menjadi gaya hidup, perpustakaan perlu “memasarkan” dan “menjual” layanan, supaya pemustaka tidak hanya melihat perpustakaan sebagai buku atau pustaka saja, tetapi ada juga pustakawan yang dapat mencerdaskan, mencerahkan dan memberikan pengetahuan tentang literasi-literasi yang ada di sekitar kita, pungkasnya.

Sedangkan pembicara kedua, Prof Sulistyo Basuki lebih menekankan pada perpustakaan sebagai gaya hidup apabila pemustaka dapat mendayagunakan jasa dan fasilitas perpustakaan di mana saja.

“Bisa dimungkinkan apabila di tempat perpustakaan ada disediakan semacam tempat duduk virtual. Sehingga pemustaka bisa menggunakan fasilitas perpustakaan dari tempat duduk virtual yang disediakan dan bisa ditempati dalam waktu lama,” ucapnya.

Pada akhir paparannya, Prof Sulistyo Basuki juga menyampaikan bahwa pustakawan pada masa mendatang tidak akan lenyap melainkan tetap sintas, meskipun kemajuan teknologi seperti visi revolusi industri 4.0 tetap berjalan. (FAS

Kategori: ,