Jurnalisme Kemanusiaan dan Kebangsaan
Jumat, 11 September 2020 | 9:34 WIB

SM 11_09_2020 Jurnalisme Kebangsaan dan Kemanusiaan
Oleh: Aloys Budi Pumomo, Pendiri dan Pemred Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, sejak September 2004, Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang 

Tantangan membela kemanusiaan melalui karya jurnalisme semakin besar pada era global yang ditandai teknologi digital. Menjaga muruah membela kemanusiaan dalam karya jurnalisme menjadi perjuangan siapa saja yang berkomitmen membangun kehidupan manusia melalui media massa, apa pun bentuknya.

TIDAK hanya masyarakat jurnalis dan pelayan media-massa –khususnya koran– tetapi juga masyarakat bangsa kehilangan sosok jurnalis yang dikenal selalu setia mengembangkan jurnalisme kemanusiaan dan kebangsaan. Jacob Oetama, Pemimpin Umum dan Pendiri Harian Kompas bersama PK Ojong, meninggal dunia Rabu (9/9).

Pak Jacob Oetama meninggal sebagai wartawan (baca: jurnalis) sejati. Tidak berlebihan bahwa Presiden Jokowi menyebut Jacob Oetama sebagai tokoh pers berintegritas tinggi (Suaramerdekacom, 9/9).

Pada masa kelahirannya, Kompas hadir mewarnai dunia pers yang sudah ada terlebih dahulu di Indonesia. Sebelum Kompas, di Indonesia sudah ada Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta, Merdeka di Jakarta, Mimbar Umum di Medan, sejak tahun 1945. Pada tahun 1947, terbit Waspada di Medan dan Pedoman Rakyat di Ujungpandang. Tahun 1948, terbit Haluan di Padang. Pada tahun 1950, Suara Merdeka hadir di Semarang. Di Surabaya terbit Surabaya Post, tahun 1953 (H Rosihan Anwar, 2001:37-38).

Bersama Petrus Kanisius Ojong (akrab dikenal PK Ojong), Jacob Oetama mendirikan, merintis, dan mengembangkan koran Kompas yang terbit perdana pada tanggal 28 Juni 1965 dengan jiwa dan orientasi humanisme Romo GP Sindhunata SJ mernberikan empat nilai-nilai humanisme yang dikembangkannya.

Pertama, pengalaman dan pendidikan masa mudanya yang kental dengan tradisi humaniora. Kedua, obsesinya tentang pengembangan pers sebagai jalan pencerahan. Ketiga, keprihatinannya menanfaatkan setiap momentum untuk meraih kebebasan. Keempat, cita-cita agar wartawannya tidak kering akan kekayaan hati dan emosi manusiawi (Sindhunata, 2001:4-6).

Membela Kemanusiaan
Dengan empat karakter itulah, Jacob Oetama mengembangkan pers yang berpihak dan membela kemanusiaan. Kemanusiaan yang dibela bukan sembarang kemanusiaan melainkan kemanusiaan yang ditandai kepapaan atau bisa disebut kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD). Peradaban humanitas seperti itu dikembangkan melalui tulisan-tulisan Jacob Oetama.

Kepekaan terhadap penderitaan sesama manusia merupakan ciri khas humanisme. Kultur humanisme semacam itu, meminjam refleksi Sindhunata, merupakan bagian dari kultur memoriapassionis yang dikembangkan oleh seorang teolog Jerman, JB Metz. Dia menyebutkan bahwa memoria passionis mencakup kultur anamensis, yakni kultur yang mengingat, yang membuat manusia peka akan penderitaan sesama (Sindhunata, 2001, 17).

Justru karena itulah, maka humanisme selalu bersifat sosial. Karena itu, humanisme selalu erat terkait dengan solidaritas terhadap sesama dan semesta. Perpaduan antara humanisme sosial dan kultur anamensis akan melahirkan cita-cita dan pengharapan untuk membela masyarakat yang tertindas, menderita, dan dilupakan.

Membela kemanusiaan dengan spirit humanisme yang demikian membuat kita selalu terbuka mencari inspirasi baru dan tidak terjebak pada sikap borjuis. Sikap ini akan memudarkan cita-cita humanisme yang membela kemanusiaan yang bisa menggoda siapa saja, termasuk masyarakat pers dan jurnalis sehingga kehilangan aura mewartakan kebenaran, kebaikan, dan keadilan. Itulah yang tampaknya selalu menjadi perjuangan dan cita-cita seorang Jacob Oetama.

Tantangan membela kemanusiaan melalui karya jumalisme semakin besar pada era global yang ditandai teknologi digital. Menjaga muruah membela kemanusiaan dalam karya jumalisme menjadi perjuangan siapa saja yang berkomitmen membangun kehidupan manusia melalui media massa, apa pun bentuknya. Di sinilah, kita mendapat contoh dan warisan inspiratif yang terus bisa dikembangkan dalam jurnalisme kemanusiaan.

Semangat Kebangsaan
Di samping karakter membela kemanusiaan, Jacob Oetama juga dikenal dengan keluwesannya dalam mengembangkan semangat kebangsaan melalui jumalisme damai. Frasa penting terkait dengan ini dari Jacob Oetarna adalah "menghibur yang papa, mengingatkan yang mapan" (Jacob Oetama, 2001:143-151). Semangat kebangsaan tidak bisa dilepaskan dari prinsip kemanusiaan. Dengan lugas, Jacob Oetama menyebutkan bahwa pers Indonesia berada dalam tantangan "Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Talus" (Ibid). Terkait dengan " hal ini, Jacob Oetama menjelaskan bahwa pers apa pun dan mana pun, tidak pernah lepas dari pemerintah seb6agai sumber  pemberitaan.

Di satu sisi, pers bertugas mewartakan pemberitaan tentang upaya-upaya pemerintah dalam menyejahterakan rakyatnya, di sisi lain, pers dipanggil untuk memberikan kontrol yang objektif, sehingga spirit kemanusiaan dan kebangsaan tetap berjalan beriringan. Insan pers memiliki tugas membangun wawasan kebangsaan untuk masyarakat.

Menurut Jacob Oetama, media massa di Indonesia memiliki latar belakang sejarah yang erat terhubung dengan pergerakan nasional untuk memperjuangkan dan memperbaiki kehidupan masyarakat (Jacob Oetama, 2001:444). Justru karena itulah, maka semangat kebangsaan yang ditandai keberagaman, namun telah dipersatukan dalam satu bingkai negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam roh Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi spirit jumalisme di Indonesia. Hanya dengan cara itu, maka jurnalisme dengan marwah, kebangsaan dapat dipertahankan, bahkan dikembangkan.

Baik semangat kemanusiaan maupun spirit kebangsaan dikembangkan Jacob Oetama melalui kerendahan hati. Itulah sebabnya, H Rosihan Anwar menyebutnya sebagai salah satu pendekar pers Indonesia yang tangguh, namun selalu merendah. Kunci kerendahan hati itulah yang membuat Kompas tetap bertahan hingga hari ini bersama sejumlah pendahulunya, termasuk Harian Suara Merdeka yang sudah ada lima belas tahun sebelum Kompas.

Selamat jalan, Pak Jacob Oetama. Terima kasih telah menjadi teladan jumalis sejati yang setia sampai akhir hayat. Semoga warisan jurnalisme kemanusiaan dan kebangsaan tetap menginspirasi dunia pers di negeri ini dengan segala keragaman dan kekayaannya.

►Suara Merdeka 11 September 2020 hal. 4

Kategori: ,