Inovasi PerpustakaanJadi Tantangan di Masa Pandemi
Rabu, 30 September 2020 | 10:08 WIB

SM 30_09_2020 Inovasi Perpustakaan Jadi Tantangan

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung tujuh bulan terakhir ini dan belum bisa diperkirakan kapan akan berakhir, membuat fasilias pembelajaran di kampus maupun sekolah harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi.

Selain itu, juga dituntut menciptakan inovasi baru dalam hal kepelayanan, agar generasi milenial dan Z tidak meninggalkan perpustakaan dalam perannya sebagai pengolah informasi pustaka.

Hal ini dikemukakan Rektor Unika Soegijapranata, Prof Ridwan Sanjaya dalam webinar "Library Is A Lifestyle" yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan Youtube, Selasa (29/9).

"Pelayanan perpustakaan jadi berubah karena adanya pembatasan protokol kesehatan akibat pandemi Covid-19. Di samping itu, perpustakaan berada di dalam lingkungan kampus, maka ketika proses pembelajaran di kampus dilakukan secara daring perpustakaan tidak bisa memberikan pelayananan secara fisik seperti biasanya," kata Prof Ridwan.

"Keterbatasan repository perpustakaan juga menjadi persoalan yang harus dipikirkan jalan keluarnya. Sebab saat ini repository seringnya masih terbatas dan kurang up to date, tidak selengkap apabila para pemustaka datang langsung ke perpustakaan," lanjutnya.

Empat Syarat
Adanya pandemi Covid-19, dilihat Prof Ridwan ada sisi positif. Perpustakaan lebih mempersiapkan secara digital. Sehingga fungsi pustakawan tetap bisa berjalan melalui jalur digital, seperti, literasi informasi, mutu penulisan ilmiah, akses VPN (Virtual Privat Network) yang diberikan kepada pemustaka. Sehingga mereka bisa masuk dan rumah melalui IP address perpustakaan kampus dan sebagainya.

"Selain itu, juga bisa memfasilitasi lahirnya berbagai konten digital lokal, seperti dokumentasi perkuliahan, dokumentasi kegiatan kampus, virtual tour, kursus daring, seminar daring dan lain-lain. Lalu agar perpustaakan bisa menjadi gaya hidup ada empat syarat," imbuh Prof Ridwan.

Syarat itu yang pertama perpustakaan menjadi tempat yang keren dan dibanggakan. Lalu, menjadi tempat yang nyaman, mencerahkan, dan memenuhi kekerenan pemustaka.

Kemudian perpustakaan memiliki tips, menu, dan segenap resep untuk menjadi keren. Terakhir, Prof Ridwan menyebut, perpustakaan punya cerita perjalanan yang keren.

"Perlu langkah-langkah konkret yang harus dilakukan supaya perpustakaan menjadi gaya hidup. Perpustakaan harus proaktif, inisiatif, dan adaptif dalam membaca karakter pemustaka. Selain itu menjadikan perpustakaan sebagai gaya hidup tidak bisa tiba-tiba, tetapi harus menjadi strategi. Kemudian perpustakaan perlu memasarkan dan menjual layanan," sebut Prof Ridwan.

Sementara itu, pakar Perpustakaan, Prof Sulistyo Basuki yang juga menjadi narasumber webinar menekankan perpustakaan bisa sebagai gaya hidup jika pemustaka dapat mendayagunakan jasa dan fasilitas perpustakaan di mana saj a. Seperti apabila di tempat perpustakaan disediakan semacam tempat duduk virtual.

"Sehingga pemustaka bisa menggunakan fasilitas perpustakaan dari tempat duduk virtual yang disediakan dan bisa ditempati dalam waktu lama," ungkap Prof Sulistyo.

►Suara Merdeka 30 September 2020 hal. 12

Kategori: