Pramuka dan Spirit Ekologis
Selasa, 18 Agustus 2020 | 8:37 WIB

SM 15_08_2020 Pramuka dan Spirit Ekologis

Oleh: Aloys Budi Purnomo Pr, Anduroh Katolik Kwarda Jateng, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata Semarang.

" Peringatan Hari Pramuka setiap 14 Agustus di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sosok Sultan HB IX. Bahkan, Sultanlah yang hingga kini ditetapkan dan dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. "

MENGAPA setiap tanggal 14 Agustus, kita memperingati Hari Pramuka Indonesia? Secara historis, pada tanggal 14 Agustus 1961, Ir Soekarno, sebagai Presiden Republik Indonesia menetapkan gerakan Pramuka sebagai gerakan nasional untuk mempersatukan berbagai organisasi dan komunitas pergerakan berjiwa kebangsaan. Pada saat itulah, di Jakarta, gerakan Pramuka diperkenalkan dan Hari Pramuka Indonesia ditetapkan. Ketika Ketua Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas) Pramuka dipimpin Presiden Soekarno, Sri Sultan Hamengkubuwana IX adalah Wakil Ketua Mapinas bersama Brigjen TNI Dr A Aziz Saleh.

Sejak 14 Agustus 1961, Sultan Hamengkubuwana (HB) IX ditetapkan sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) yang pertama gerakan Pramuka dan terpilih kembali sampai empat periode selanjutnya hingga tahun 1974. Karena itu, peringatan Hari Pramuka setiap 14 Agustus di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sosok Sultan HB IX. Bahkan, Sultanlah yang hingga kini ditetapkan dan dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Penetapan itu bukanlah suatu kebetulan yang tanpa dasar. Dalam sejarah ”kepramukaan” di Indonesia, Sultan HB IX adalah pencentus nama Pramuka. Nama Pramuka dicetuskan terinspirasi dari kata Paramuka (bahasa Jawa, baca: poromuko). Dalam tradisi keraton, paramuka adalah ”pasukan terdepan dalam perang”. Namun, nama Pramuka tidak dipergunakan sebagai pasukan perang dalam pertempuran perebutan kedaulatan suatu bangsa dan negara, melainkan dimaknai sebagai sebuah singkatan dari Praja Muda Karana yang berarti jiwa muda yang suka berkarya.

Gerakan ”Glonal”

Mengacu pada sosok Sultan HB IX, kita bisa menyebut Pramuka gerakan ”glonal”, yakni perpaduan dari gerakan global dan nasioal. Sebagai gerakan global, gerakan Pramuka dikenal dengan sebutan Kepanduan.

Di tingkal global, gerakan Kepanduan disebut Scouting atau Scout Movement. Pencetusnya adalah Robert Baden-Powell (1857-1941). Powell adalah seorang anggota Angkatan Darat di London, Inggris, 22 Februari 1857, dan meninggal di Kenya, Afrika, 8 Januari 1941. Sampai kini, hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pramuka Internasional.

Powell memang fenomenal. Dalam bukunya yang berjudul Scouting for Boys: A Handbook for Instruction in Good Citizenship (Oxford, 1908) Powell memberikan panduan bagi siapa saja, terutama anak-anak, remaja, dan kaum muda untuk melatih kecerdasan hidup yang ditopang keterampilan dan ketangkasan, cara bertahan hidup, dan pengembangan dasar-dasar moral. Gagasan tentang gerakan kepanduan yang dicetuskan Powell menyebar secara global. Gerakan kepanduan di tingkat global tersebar di seluruh Wilayah Inter-Amerika, Eropa, Eurasia, Afrika, Arab, dan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Hingga tahun 2019, keanggotaan Kepanduan di seluruh dunia sudah lebih dari 50 juta orang dan tersebar di lebih dari 200 negara.

Di negeri ini, embrio gerakan Pramuka dalam kepanduan sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda, tepatnya tahun 1912. Cikal bakal Kepanduan di Indonesia dimulai dengan Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO). Tahun 1916, NPO berubah menjadi Nederlands- Indische Padviders Vereeniging (NIPV). Pada tahun yang sama, Mangkunegara VII di Surakarta memprakarsai berdirinya Javaansche Padvinders Organisatie (JPO).

Sesudah itu, bermunculanlah berbagai gerakan serupa di bawah berbagai organisasi pergerakan. Pada tahun 1923 dibentuklah Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) di Batavia. Tiga tahun kemudian (1926), dua organisasi itu lebur menjadi satu dengan nama Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO). Di sinilah, gerakan Kepanduan sebagai gerakan ”glonal” dimulai hingga Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945.

Dan, pada tanggal 14 Agustus 1961, Bung Karno ingin mempersatukan semua gerakan itu sebagai gerakan kebangsaan. Sri Sultan HB IX pun memberi nama Pramuka. Itulah sebabnya tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka Indonesia dan Sultan Hamengkubuwana IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Spirit Ekologis

Bagaimana dengan spirit ekologis gerakan Pramuka? Dalam permenungan saya sebagai Andurohkat Kwarda Jateng, saya menemukan dan mengalami, spirit ekologis itu tampak dalam dua keunikan Pramuka Indonesia. Dua keunikan itu terumuskan dalam Tri Satya Pramuka dan Dasa Dharma Pramuka. Pramuka Indonesia baik anggota maupun para pembinanya, selalu mengucapkan dua keunikan itu.

Dalam Tri Prasetya Pramuka, diserukan, ”Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguhsungguh: Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjalankan Pancasila; Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat, dan Menepati Dasa Dharma.”

Inilah rumusan Dasa Dharma Pramuka: ”Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Patuh dan suka bermusyawarah. Patriot yang sopan dan kesatria. Rela menolong dan tabah. Rajin terampil dan gembira. Hemat cermat dan bersahaja. Disiplin berani dan setia. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.”

Sebagai salah satu organisasi yang wajib dan pasti ada di setiap sekolah di seluruh Indonesia mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi, Pramuka Indonesia memberi ruang seluasnya bagi anggotanya untuk mengembangkan spirit ekologis tersebut, dari Penegak, Siaga, Pandega, Penggalang, hingga Pembinanya.

Gerakan Pramuka yang menekankan pada pembentukan karakter dan pengembangkan keterampilan di tengah alam semesta menjadi representasi upaya menghayati spirit ekologis tersebut. Maka, bukanlah Pramuka Sejati meski mengenakan atribut Pramuka namun masih tega merusak alam dan lingkungan demi kepentingan dan keuntungan sesaat belaka. Sebab, hal itu mengingkari Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuk. Dirgahayu Pramuka Indonesia! Salam Pramuka! (40)

https://www.suaramerdeka.com/news/opini/237960-pramuka-dan-spirit-ekologis, Suara Merdeka 15 Agustus 2020 hal. 4

Kategori: , ,