Diskusi Serial LPPM Unika ke-12, Kembali Hadirkan Narasumber dari PSU dan LMB Unika
Senin, 10 Agustus 2020 | 13:27 WIB

Diskusi Serial ke-12 LPPM Unika masih dengan topik besar tentang pandemi covid-19

Upaya yang dilakukan oleh LPPM Unika dalam menyampaikan informasi dan edukasi terkait pandemi covid-19 dan cara untuk menghadapi serta mengantisipasi dampaknya, telah dilakukan oleh LPPM Unika dengan melalui kegiatan diskusi serial yang kali ini merupakan diskusi serial yang terakhir atau edisi ke-12, yang diselenggarakan pada hari Kamis (6/8) lalu di ruang virtual Unika serta live streaming melalui youtube.

Acara diskusi serial LPPM Unika atau sering disebut ‘diRumah Unika’ ini, dalam edisi terakhirnya kembali mengajak beberapa narasumber yang banyak berkecimpung dalam Pusat Studi di lingkungan LPPM Unika. Diantaranya adalah, Ryan Sanjaya MA dari Pusat Studi Urban (PSU) dalam topik ‘Gerakan Sosial Kaum Urban Era Pandemi Covid-19’, Dr T Trihoni Nalesti Dewi dari PSU tentang ‘Terkurung Pandemi dan Konflik Bersenjata’, kemudian Tri Hesti Mulyani MT dan Haryo Goeritno MSi dari Pusat Studi Lingkungan Manusia dan Bangunan (LMB) yang menyoroti ‘WFH dan Jejak Karbon’, serta Dr Djoko Suwarno yang mengamati tentang ‘WFH Terhadap Kualitas Lingkungan“.

Acara yang dimoderatori oleh Abraham Wahyu Nugroho MA selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata ini berlangsung bersamaan dengan acara perayaan Dies Natalis Unika Soegijapranata yang ke-38.

Dalam kesempatan diskusi yang berlangsung sore hari itu, masing-masing narasumber memaparkan materi masing-masing dan dilanjutkan dengan tanya jawab sekitar topik yang sedang dibahas.

Seperti halnya  Ryan Sanjaya MA yang memaparkan tentang Gerakan Sosial Kaum Urban Era Pandemi Covid-19. Dalam paparannya, Ryan mengupas dari sudut pandang urban yang lebih lekat dengan kondisi perkotaan.

“Di tengah pandemi covid-19, kita akan menemui beberapa alasan mengapa kita perlu mengetahui dampak covid-19 ini yang difokuskan di daerah perkotaan atau sudut pandang urban. Yang pertama adalah karena dampak kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah sangat terasa di daerah perkotaan, alasan kedua berdasarkan riset yang pernah dilakukan, tampak bahwa kesenjangan ekonomi sangat terasa di perkotaan dibanding di pedesaan. Alasan berikutnya  di  perkotaan lebih banyak fasilitas kesehatan, dan yang yang terakhir adanya penetrasi internet sehingga akses internet lebih mudah didapat di perkotaan daripada di pedesaan,” ujarnya.

Sehingga karena alasan tersebut maka muncullah solidaritas sosial, dan ekosistem baru yang bisa saling memenuhi kebutuhan dari dan oleh komunitas itu sendiri dalam skala kecil maupun besar, serta beralihnya dari hubungan kompetisi menjadi kolaborasi yang terjadi di banyak bidang, lanjutnya.

Sedang pemateri kedua yang disampaikan oleh Dr Trihoni Nalesti Dewi lebih menyinggung persoalan pandemi dan konflik bersenjata.

“Dalam Pusat Studi Urban Unika, kita juga memberikan perhatian tentang rekonsiliasi pasca konflik, terlebih dalam masa pandemi covid-19 ini di daerah konflik,” jelasnya.

Para ahli memperkirakan populasi penduduk di dunia pada tahun 2050 adalah sebesar 68% di daerah perkotaan, artinya kepadatan penduduk di masa mendatang akan banyak terjadi di perkotaan. Persoalannya, masih banyak juga kota-kota besar di daerah Afrika dan Timur Tengah yang hancur akibat konflik bersenjata.

Maka perlu dipikirkan bagaimana melindungi warga sipil dari dampak konflik bersenjata yang akan banyak terjadi di perkotaan. Dalam konflik bersenjata dikenal juga sebuah prinsip yang disebut ‘disticntion principle’ yaitu pihak-pihak yang berkonflik harus bisa membedakan antara warga sipil dan kombatan. Jadi yang boleh diserang hanya kombatan, sedangkan warga sipil tidak boleh.

Berikutnya pihak yang berperang ini harus bisa membedakan mana yang obyek sipil dan mana yang obyek militer.  Maka sebaiknya area pemukiman penduduk harus terpisah cukup jauh dengan area militer supaya tidak menimbulkan dampak kerusakan pada pemukiman penduduk sipil jika terjadi konflik (collateral damage). Adanya collateral damage sudah tentu akan mengganggu kualitas pelayanan publik, sambungnya.

Petugas kesehatan juga dipandang sebagai target serangan, bahkan di masa covid-19 ini para petugas kesehatan asing di Tripoli dipaksa keluar sehingga banyak penderita covid-19 yang tidak tertangani.

“Olehkarenanya hukum tidak boleh absen, harus tetap ada dan bekerja untuk memastikan layanan medis dan rumah sakit, melarang penyerangan terhadap personel, unit dan transportasi untuk tujuan medis, serta perlunya penataan kota yang sensitif bencana, kemudian juga perlunya dilakukan dialog konstan antara negara dan organisasi kemanusiaan,” tandasnya.

Adapun Tri Hesti Mulyani MT dan Haryo Goeritno MSi dari Pusat Studi Lingkungan Manusia dan Bangunan (LMB) yang menyoroti ‘WFH dan Jejak Karbon’ memaparkan materinya terkait manusia dan jejak ekologis yang ditimbulkannya terhadap lingkungan.

“Jejak Ekologis itu akan memberikan informasi berapa banyak sumber alam yang terkuras atau terpakai karena kita berusaha memenuhi kebutuhan kita. Jadi semakin dasyat manusia mengkonsumsi sumber daya alam, maka beban yang diterima oleh lingkungan itu juga akan semakin besar,” terang Hesti.

Sedangkan jejak karbon adalah bagian dari jejak ekologis, dan arti dari jejak karbon sendiri adalah jumlah gas dari rumah kaca yang diproduksi oleh setiap kegiatan manusia,  baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan transportasi menjadi kontributor terbesar ketiga emisi di bidang energi, setelah industri dan pembangkit listrik.

Yang menjadi pertanyaan dengan kondisi pandemi covid-19 yang memaksa manusia untuk WFH, apakah akan menjadi cara bagi bumi untuk menyeimbangkan superorganisme yang berada di dalamnya.

Dan Dr Djoko Suwarno mengulik tentang kualitas udara sebelum, saat new normal covid-19. “ Berdasarkan tingkat polusi di lima kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan  dan Makasar, dalam studi kasus tampak Jakarta menunjukkan grafik yang paling tinggi,” ucap Dr Djoko.

Dan dengan pandemi covid-19, telah menimbulkan kesulitan ekonomi yang teramat berat bagi semua umat manusia sedangkan lingkungan telah mendapatkan perbaikan atau peningkatan kulitas lingkungan terutama lingkungan udara, pungkasnya. (fas)

Kategori: ,