Bincang Daring Masa Depan Sarjana Teknologi Pangan dalam Webinar FTP
Rabu, 19 Agustus 2020 | 15:47 WIB

Webinar Bincang-Bincang Daring Seri ke-9 yang diselenggarakan oleh FTP Unika

Sebuah acara Seri Webinar Menyemai Harapan yang ke-9 telah kembali diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata pada Sabtu (15/8). Webinar kali ini membahas “Seperti Apa Masa Depan Sarjana Teknologi Pangan?” bersama dua orang alumni FTP Unika tahun 2004 sebagai narasumber, yakni Ivanna Hidayat (Manajer di DSM Food Specialities, The Netherlands) dan Fransesco Limawan (Manajer di PT. ISM Bogasari Flour Mills, Tbk.) bersama Dr. R. Probo Y. Nugrahedi sebagai pemandu acara bincang daring webinar. Acara webinar ini diselenggarakan sebagai upaya FTP untuk terus menyemai harapan. “Kita tidak mau menjadi tidak berdaya di tengah masa pandemi ini, melainkan tetap dapat memberikan harapan positif melalui berbagai cerita,” ungkap Dr. Probo dalam pembukaan.

Webinar yang diikuti sekitar 120 peserta ini berjalan dengan komunikatif melalui tanya jawab antara peserta webinar dengan kedua narasumber. Banyak hal menarik yang menjadi topik perbincangan khususnya terkait prospek ke depan seorang sarjana teknologi pangan.

Dari segi kacamata bisnis dan industri, pangan menjadi salah satu segmen yang akan terus berjalan sebab pangan merupakan kebutuhan pokok kedua manusia di samping sandang dan papan. Ini merupakan salah satu alasan Ivanna menekuni bidang teknologi pangan. Sesco, sapaan akrab Fransesco Limawan, juga menambahkan bahwa passion dan kesukaan di suatu bidang akan memberikan nilai tambah pada bidang yang ditekuni.

Prospek Industri Pangan

Dalam konteks saat ini, Sesco menyebutkan bahwa industri pangan relatif stabil dan masih relevan hingga saat ini. “Dunia teknologi pangan dari dulu sampai sekarang masih diminati dan pasarnya masih besar, karena masih banyak orang yang menginginkan kenyamanan dari makanan.”

Untuk memasuki dunia kerja, softskill dan hardskill adalah kemampuan yang perlu dipersiapkan. Hardskill adalah kemampuan yang dipelajari dan didapatkan selama kuliah dan itu akan menjadi bekal bagi kita, terang Ivanna.

Hardskill yang dibutuhkan tentunya berbeda-beda untuk setiap jenis industri pangan. Misalnya, technical skill yang dibutuhkan dalam industri dairy tentu berbeda dengan industri bakery. “Namun, tidak usah terlalu kawatir dengan technical skill atau hardskill tersebut. Sebab ketika memasuki dunia kerja, seorang fresh graduate akan ditempatkan sebagai trainee. Jadi, tentunya akan ada kesempatan belajar dan dilatih saat masuk industri,” terang Sesco.

Sementara itu, softskill termasuk salah satu hal yang membantu kita untuk mampu berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar kita. Teamwork, integritas, mampu menyelesaikan tugas dan pekerjaan tepat waktu, tanggung jawab, serta kemampuan berkomunikasi dengan kolega dan tim. “Softskill ini perlu dikombinasikan dengan hardskill. Penguasaan kedua kemampuan ini menurut saya sangat dibutuhkan untuk bekerja di dunia industri pangan”, ungkap Ivanna.

Softskill ini harus terus dibangun sejak mahasiswa. Salah satu hal yang mempengaruhi softskill itu menurut Sesco adalah pergaulan. “Kita akan menjadi seperti dengan siapa kita bergaul. Di Unika, saya bersyukur karena saya bisa bertemu dengan teman-teman yang hebat. Pengalaman selama kuliah dengan banyak kegiatan sebagai mahasiswa juga telah membentuk diri saya yang sekarang,” ungkap Sesco.

Hal penting lainnya bagi Ivanna dalam berproses sebagai mahasiswa adalah konsistensi atau persistensi. “Konsistensi dan persistensi dari diri kita adalah hal penting. Jika ada kemauan dari dalam diri kita, ada dukungan dari orang lain dan ada kesempatan yang baik, maka jangan ragu untuk mengambil kesempatan itu,” ungkap Ivanna yang menyelesaikan studinya di FTP Unika dalam 3 tahun, dengan strateginya yang selalu mengambil semester sisipan saat kuliah.

Peluang Kerja di Industri Pangan

Situasi pandemi saat ini tentunya tidak mudah bila dibandingkan dengan kondisi normal sebelumnya. Kondisi ini tentunya juga dialami oleh semua jenis industri. Normal baru ini merupakan realita yang harus kita sadari. Akan tetapi, ini juga bisa menjadi salah satu peluang untuk berwirausaha dan membuka peluang usaha untuk orang lain.

“Membuka usaha tentunya juga nggak gampang. Kita harus bisa merancang produk yang bagus, yang memiliki value dan pemasaran yang baik. Salah satu keunggulan seorang lulusan foodtech menjadi wirausaha adalah dapat lebih memahami competitive advantage produk pangan miliknya dengan produk kompetitor,” terang Ivanna.

Koneksi yang terjalin baik antara dari lulusan fresh graduate dengan alumni FTP Unika yang bekerja di berbagai bidang industri pangan juga sangat membantu. Seperti diungkapkan Sesco dan Ivanna, alumni FTP Unika dikenal karena memiliki kinerja, sikap, dan track record yang baik. Maka, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk terus membawa nama baik dan integritas almamater kita, Unika Soegijapranata.

Bekerja di Luar Negeri dan Siap Menghadapi Perubahan

Kesempatan untuk bekerja di perusahaan pangan multinasional juga terbuka bagi para lulusan teknologi pangan, seperti Ivanna yang saat ini bekerja di perusahaan multinasional bertempat di Belanda. “Ketika ada hal baru tentunya ada target baru yang harus dipenuhi karena ada tanggung jawab yang lebih besar. Maka, kita harus siap beradaptasi dengan perubahan dan harus siap untuk berubah. Memang ini bukan sesuatu yang mudah, sehingga kita harus mau menginvestasikan waktu untuk mempelajari pengetahuan baru,” terang Ivanna.

Perusahaan besar akan mencari orang yang punya kemampuan, kemauan belajar, dan kemampuan bradaptasi dengan perubahan karena change is the only constant. Sehingga kita harus siap untuk mulai belajar hal baru, lanjutnya.

Untuk itu, pertama-tama kita harus benar-benar tahu apa yang kita mau dan apa yang menjadi passion kita, karena life is about balance. Kalau kita sudah tahu dan siap, maka kita akan mampu untuk belajar lebih lagi. Kita harus percaya diri pada kualitas dan kemampuan kita, ide-ide kreatif yang kita miliki, softskill dan hardskill, serta senantiasa mau belajar dari hal kecil. Never give up, ungkap Ivanna.

“Salah satu hal penting yang membawa saya sampai pada saat ini adalah softskill dalam kemampuan berkomunikasi. Kemampuan menyampaikan informasi, mengkomunikasikan hal negatif dengan cara yang tepat, dan tentunya tetap menjalin koneksi dengan para alumni, teman, dosen, dan stay positive,” pungkas Ivanna.

(B. Agatha)

Kategori: ,