Unika Gelar Diskusi Soal Pembangunan Infrastruktur dan Perencanaan Kota pada Masa Pandemi Corona
Senin, 27 Juli 2020 | 10:14 WIB

image

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata Semarang menggelar serial diskusi seputar pandemi corona, pada Kamis (23/7) kemarin, melalui ruang virtual. Serial dikusi ini mengangkat tema terkait pembangunan Infrastruktur dan Perencanaan Kota pada Masa pandemi corona.

Acara yang dipandu oleh moderator dari  Sekretaris Program Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan (RIL) Unika Soegijapranata Dhiyan Krishna Wardani ST MUE ini menyajikan paparan dua narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni pada bidangnya. Narasumber pertama yaitu Ketua Program Studi RIL Unika; Dr Rr MI Retno Susilorini ST MT yang mengulas soal "pembangunan Infrastruktur di Tengah pandemi corona", dan Seorang Dosen Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Unika yang juga menjadi salah satu pengajar aktif di Radboud University Nijmegen; Dr Datuk Ary Adriansyah Samsura yang lebih menyoroti tentang "Peran Perencanaan Kota Dalam Menghadapi corona”.

Dalam paparannya, Dr Rr Retno Susilorini menjelaskan kondisi krisis pandemi corona yang masih melanda Indonesia dan dunia.

“Dengan jumlah penderita corona yang masih tinggi tentu mempengaruhi kehidupan kita pada segala aspek, baik itu di Indonesia maupun di dunia secara umum. Ini ada kaitannya juga dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs yang semestinya harus bersama-sama oleh seluruh umat manusia ini dicapai pada tahun 2030. Ini adalah tepat 10 tahun sebelum tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut,” ucap Dr Retno.

Ia pun tak memungkiri kalau krisis pandemi corona ini juga berpengaruh pada pembangunan infrastruktur di Indonesia, salah satunya yaitu jalan tol tanggul laut Semarang-Demak yang masalahnya sudah hampir 10 tahun belum terselesaikan.

pembangunan infrastruktur jalan tol tersebut sendiri berkaitan dengan proyek-proyek konstruksi yang tengah berjalan. Dalam masa pandemi ini, proyek-proyek mengalami ‘shock’ karena tiba-tiba berpengaruh pada supply dan demand.

“Jadi dalam masa pandemi ini, proyek mengalami penghentian dalam proses pembangunannya. Ini sebagai efek dari ‘lockdown’ atau ‘shutdown’ yang terjadi di beberapa negara di luar Indonesia,” sambungnya.

Dr Retno menambahkan saat ini Indonesia mengalami masa ‘after shock’ yang merupakan masa era new normal. Hal tersebut karena di dunia konstruksi tidak bisa dilakukan secara 100% daring. Ini menjadi tantangan yang melibatkan sumber daya manusia, supply, manajemen, dan pasti melibatkan ranah hukum yaitu kontrak-kontrak yang berjalan.

“Masalah yang dihadapi pembangunan infrastruktur pada masa pandemi corona adalah kesehatan dan keselamatan pekerja, keterlambatan maupun penundaan supply bahan bangunan dan peralatan konstruksi, kegelisahan klien dan pemberi pinjaman atas pendanaan proyek konstruksi, karantina dan pelarangan perjalanan material atau peralatan proyek, masalah hukum dan ketidakpastian global,” imbuhnya.

Dengan adanya permasalahan tersebut, Dr Retno menyarankan agar para pemangku kepentingan bisa duduk bersama dan membahas kembali kontrak-kontraknya, kemudian keadaan kesehatan jelas harus dikelola dengan baik. Hal ini dirasa perlu agar para pengaku kepentingan seperti pekerja maupun para pemegang keputusan dapat mendukung agar proyek itu berjalan kembali.

“Dari situ muncullah Instruksi Menteri (Inmen) Nomor 02/IN/M/ 2020 tentang Protokol Pencegahan Penyebaran Virus corona dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. Serta pemerintah memandang perlu adanya percepatan penyiapan dan pembangunan infrastruktur seperti yang tercantum dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 / 2020 tentang Refocusing Kegiatan, Realokasi Anggaran, serta Pengadaan Barang dan Jasa dalam Rangka Percepatan Penanganan  Virus corona,” pungkasnya.

Lima Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Perencanaan Kota

Sementara itu, narasumber kedua Dr Datuk Ary lebih berbicara tentang dampak corona terhadap prespektif perencanaan kota.

“Ada beberapa wacana yang berkembang bahwa semakin padat kota itu semakin tinggi untuk terdampak pandemi corona. Memang kantung-kantung pandemi corona itu memang di kota-kota yang kita lihat saat ini. Namun apabila kita tinjau datanya lebih jauh, sebenarnya korelasi antara kepadatan penduduk dengan corona itu tidak begitu kuat,’ sebut  Dr Ary.

Dengan demikian Dr Ary menegaskan tingginya sebaran kasus corona di suatu daerah buka karena kepadatan penduduknya. Melainkan karena hubungan antar manusia yang ada di dalamnya yang akhirnya menyebabkan sebaran kasus corona itu semakin tinggi.

“Dan karena hubungan antar manusia ini yang menjadi permasalahan utamanya, maka dampak mobilitas dan pemanfaatan ruang menjadi hal yang perlu diperhatikan. Apalagi dengan pembatasan pergerakan manusia melalui beberapa kebijakan yang dipilih oleh beberapa negara di Eropa (lockdown) telah menurunkan prosentase pergerakan manusia hingga sampai 90%,” bebernya.

Turunnya jumlah pergerakan manusia itu terbanyak dialami pada perjalanan jarak jauh. Perjalanan jauh itu sendiri yang biasanya memiliki tujuan wisata. Sehingga karena hal tersebut, otomatis berdampak pula pada penurunan angka kunjungan wisata yang juga turun drastis.

“Karena adanya lockdown, work from home, dan adanya keterbatasan pergerakan ini, maka akhirnya banyak yang berubah, salah satu yang berubah adalah perkantoran atau perusahaan mulai membuat kebijakan untuk tidak lagi fokus pada penyediaan ruang kerja,” tambahnya.

Dengan hal tersebut, maka pihak manajemen kantor dapat merubah struktur ruang. Hal itu karena kantor–kantor banyak yang kosong dan perusahaan-perusahaan bakal  mengurangi ruang kantornya, kemudian orang-orang juga semakin jarang berjalan jauh yang pada akhirnya ruang terbuka menjadi kebutuhan sebagai bentuk kompensasi orang-orang banyak yang berjalan, bersepeda.

Hal lain, meskipun di beberapa kota yang terkena corona ini adalah lebih banyak kalangan menengah ke atas, namun yang terkena dampak terbesar dari corona sebenarnya adalah justru masyarakat yang menengah kebawah.

Oleh karena itu, ia merasa perlu pihak terkait memikirkan perencanaan kota ke depan sebaiknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut, (1) perencanaan yang fokus pada penyediaan akses pelayanan publik seperti kesehatan dan pendidikan terutama untuk masyarakat bawah, (2) memprioritaskan pembangunan perumahan yang terjangkau dan penyediaan ruang terbuka yang inklusif untuk semua masyarakat, (3) membangun fasilitas yang disebut sebagai active mobility seperti ruang pedestrian dan ruang bersepeda, (4) mendukung infrastruktur yang disebut sebagai tele activities, jadi internet ke depan bukan menjadi barang secondary atau tertiary tetapi menjadi barang yang primer, dan (5) data kesehatan masyarakat harus menjadi bagian sistem yang disebut dalam sistem informasi perencanaan pembangunan kota, pungkasnya.

https://kuasakata.com/read/berita/16436-unika-gelar-diskusi-soal-pembangunan-infrastruktur-dan-perencanaan-kota-pada-masa-pandemi-corona

Kategori: