Solusi kesenjangan kompetensi Lulusan
Kamis, 23 Juli 2020 | 9:20 WIB

SM 23_07_2020 Solusi Kesenjangan Kompetensi Lulusan

Oleh: Dr Ferdinand Hindiarto, dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang.

“Akibat pandemi ini, akan terjadi kesenjangan kompetensi pada lulusan. Karena itu, perlu dipersiapkan berbagai Iangkah antisipasi sebagai solusi atas kesenjangan tersebut”

SALAH satu bidang yang amat terdampak oleh wabah Covid-19 adalah pendidikan. Dampak itu tidak hanya dalam proses pembelajarannya, namun juga pada kualitas atau kompetensi lulusan.

Para peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan tidak dapat menjalani proses pembelajaran secara utuh sesuai dengan kurikulum yang telah dipersiapkan. Pembelajaran online atau dalam jaringan (daring) hanya mengembangkan aspek knowledge (pengetahuan) peserta didik. Padahal sebuah kompetensi memiliki tiga aspek utama, yaitu knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), dan attitude/behavior (sikap).

Lebih-lebih pada sekolah-sekolah vokasi yang seharusnya lebih menitikberatkan pada aspek keterampilan. Dapat diprediksi, akibat pandemi ini, akan terjadi kesenjangan kompetensi pada lulusan. Karena itu, perlu dipersiapkan berbagai langkah antisipasi sebagai solusi atas kesenjangan tersebut. Agar mendapatkan solusi yang tepat, diperlukan pula koordinasi yang rapi antar berbagai pihak yang memangku kepentingan di dunia pendidikan, baik Kementerian Pendidikan, pihak sekolah, lembaga sertifikasi profesi, organisasi asosiasi profesi, maupun perusahaan-perusahaan yang akan menerima para lulusan ini sebagai tenaga kerja mereka.

Hal pertama yang harus dipahami bersama adalah bagaimana sebuah kompetensi terbentuk dan dikembangkan. Merujuk pada buku The Art & Science of Competency Models yang ditulis oleh Anntoinette D Lucia & Josep Lepsinger (1999), kompetensi memiliki tiga aspek, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Ketiganya akan menentukan keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik.

Menurut kedua penulis buku tersebut, pengetahuan adalah aspek yang paling mudah dikembangkan, sedangkan mengembangkan aspek keterampilan dan sikap relatif membutuhkan waktu dan usaha yang lebih. Aspek keterampilan harus dikembangkan melalui latihan, simulasi, praktik berulang yang disertai dengan pemberian feedback.

Aspek sikap idealnya dikembangkan melalui pengalaman interaksi nyata di lapangan. Di sinilah sumber kesenjangan yang dialami oleh para lulusan lembaga pendidikan selama masa pandemi ini.

Kesempatan untuk berlatih, praktik, dan mengalami secara langsung pun hilang. Jika latihan dan praktik untuk mengembangkan keterampilan dilakukan secara virtual, tentu saja hasilnya juga akan berbeda jika dibandingkan dengan keterampilan yang dikembangkan secara langsung. Sebagai contoh para mahasiswa program studi keperawatan yang tidak dapat melakukan praktik di rumah sakit, tentu akan kehilangan banyak keterampilan dan pengalarnan yang tidak dapat digantikan oleh pembelajaran secara daring.

Demikian juga dengan para siswa SMK yang kehilangan kesempatan untuk melakukan praktik atau magang sebagai media untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang diperlukan dalam dunia kerja. Praktik lapangan atau magang tidak hanya berperan untuk mengembangkan hard skill (keterampilan fisik), namun sekaligus juga untuk membangun sikap atau sering disebut soft skill.

Melalui kegiatan praktik kerja lapangan atau magang para siswa atau mahasiswa akan mendapatkan berbagai macam pengalaman tentang sikap dan perilaku kerja.

Alternatif Solusi
Kesenjangan kompetensi para lulusan akibat pandemi Covid-19 tidak mungkin dihindari. Satu-satunya jalan adalah mengeksplorasi berbagai alternatif solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kesenjangan tersebut.

Pertama, diperlukan kejujuran dari institusi pendidikan untuk mencantumkan kompetensi-kompetensi yang belum seluruhnya dimiliki oleh para lulusan sebagai akibat tidak dapat dilaksanakannya program praktik lapangan atau magang.

Kejujuran ini menjadi hal yang mutlak. Bagi lulusan, catatan kesenjangan kompetensi itu dapat menjadi reminder bahwa mereka masih harus terus belajar untuk mengembangkan kompetensi secara utuh. Bagi pengguna lulusan, catatan kesenjangan kompetensi ini dapat menjadi dasar untuk menyusun program pembekalan calon karyawan yang lebih diarahkan untuk melengkapi kompetensi yang gagal mereka peroleh.

Kedua, institusi pendidikan tetap memberikan kesempatan kepada para lulusan untuk "kembali" dan menjalani program pengembangan kompetensi jika situasi telah membaik. Institusi pendidikan yang telah melepas para lulusan itu memiliki tanggung jawab secara moral untuk memberikan bekal kompetensi secara utuh kepada para lulusannya. Terkait dengan pembiayaan program ini, seyogianya Kementerian Pendidikan dapat membantu institusi pendidikan.

Ketiga, para pengguna lulusan dapat menyiapkan program coaching and mentoring bagi para calon karyawan yang memiliki kesenjangan kompetensi tertentu. Program coaching and mentoring, menurut disertasi Anthony M Grant (2011), memiliki efektivitas yang tinggi untuk membantu SDM dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan, termasuk pengembangan kompetensi. Bagi para pengguna lulusan, waktu dan energi yang dikeluarkan untuk program ini seyogianya dihitung sebagai investasi mengingat bahwa kesenjangan kompetensi ini terjadi oleh faktor yang tidak dapat dihindari oleh para lulusan.

Keempat, asosiasi-asosiasi profesi sudah seharusnya berperan dalam mengatasi kesenjangan kompetensi ini dengan menyiapkan berbagai crash program untuk membantu para lulusan. Untuk mengantisipasi penularan Covid-19, maka program dapat dilaksanakan dalam jumlah peserta yang sedikit. Asosiasi profesi dapat meminta para anggotanya untuk menyediakan kesempatan kepada para lulusan berlatih dan belajar melalui program ini.

Terkait dengan sertifikasi kompetensi, maka asosiasi profesi dapat berkoordinasi dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sehingga uji kompetensi dapat diselaraskan dengan program ini. Dengan beberapa alternatif solusi tersebut, semoga generasi yang menjalani pendidikan dan lulus selama masa pandemi Covid-19 ini tetap dapat mengembangkan dan memiliki kompetensi yang seharusnya mereka miliki. 

►Suara Merdeka 23 Juli 2020 hal. 4

https://www.suaramerdeka.com/news/opini/235610-solusi-kesenjangan-kompetensi-lulusan

Kategori: , ,