Perencanaan Tata Kota dalam Menghadapi Situasi Bencana Harus Jadi Perhatian
Jumat, 24 Juli 2020 | 8:11 WIB

image

Pusat Studi Urban (PSU) LPPM Unika Soegijapranata kembali menggelar webinar dengan topik bahasan utama adalah “Membangun Kepekaan Kota Terhadap Bencana”.

Ketua PSU LPPM Unika Soegijapranata Dr Trihoni Nalesti Dewi mengatakan, perencanaan tata kota di Indonesia dalam situasi darurat menghadapi situasi bencana merupakan hal yang menjadi perhatiannya.

"Situasi bencana yang sedang kita hadapi ini, juga terkait dengan resiko-resiko bencana alam lainnya, mendorong kami untuk berpikir bagaimana membangun tata kota yang peka terhadap bencana dari sisi makro maupun mikronya," ujarnya belum lama ini.

Dr Ing Wiyatiningsih, memaparkan Tata Ruang Kota Berbasis Pengurangan Resiko Bencana. Menurutnya, apabila penting bagi suatu daerah melakukan proses pengurangan resiko bencana atau sudah memasukkannya dalam rencana tata ruang.

"Pasti Rencana Tata Ruang Wilayahnya atau RTRW-nya sudah memasukkan elemen-elemen yang harus dipertimbangkan di dalam merencanakan daerah yang kira-kira nanti bisa mengurangi resiko bencana yang akan terjadi,” terangnya.

Adapun langkah yang harus dilakukan diantaranya adalah pengendalian atau pembatasan pembangunan fisik di daerah rawan bencana.

“Selain tata ruang, diperlukan juga pranata atau perangkat pencegahan yang berupa peraturan-peraturan atau strategi mitigasi yang terkait struktur dan konstruksi yang harus diatur," imbuhnya.

Narasumber kedua, Robertus Aji Nugroho PhD, memaparkan, Big Data untuk Tata Ruang Kota yang Tanggap Bencana.

“Kita sulit sekali mendapatkan data yang riil, karena banyak sekali hal yang belum kita miliki, seperti halnya data integrated medical record  yang diperlukan untuk penanganan pandemi covid-19 di Indonesia,” katanya.

Problem lain adalah sulitnya kita memodelkan people mobility (movement) yang diperlukan untuk memprediksi naik turunnya kurva pandemi covid-19. 

"Namun di sisi lain dalam people mobility di Indonesia yang pada saat pandemi covid-19 ini sangat aktif dan meningkat tajam penggunaan social media-nya, terdapat sisi positif karena mereka sangat “cerewet sekali” di social media, apa pun diomongkan di social media sehingga dengan demikian bisa menguntungkan bagi kita karena bisa menjadi sarana yang efektif untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita, bahkan bisa juga digunakan untuk mitigasi sebelum viral," ucapnya.

Selanjutnya pada narasumber lainnya, yaitu Samsidar dari Aktivis HAM, Asia Justice and Rights dalam paparannya mengulas tentang hak-hak pada manusia yang terdampak bencana. Sejauh mana hak-haknya terlindungi dan bisa didapatkan pada saat terjadi bencana.

Dan pada sesi materi keempat dengan narasumber Weslly Johannes, dalam materinya lebih membahas tentang kearifan lokal. Bagaimana kearifan lokal di daerah-daerah itu terutama di daerah Ambon bisa membuat warga kota yang terdampak bencana bisa tumbuh hasrat untuk saling membantu dan menolong satu sama lain.

https://www.ayosemarang.com/read/2020/07/23/60837/perencanaan-tata-kota-dalam-menghadapi-situasi-bencana-harus-jadi-perhatian

Kategori: