Metode Reflektif: Pendamping Pembelajaran Online
Senin, 20 Juli 2020 | 9:20 WIB

TRB 20 Juli 2020 Metode Reflektif - Pendamping Pembelajaran Online

Oleh: Ferdinan Hindiarto, Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata

PROSES pendidikan untuk semua jenjang pada tahun akademik 2020 akhirnya harus dilakukan secara online. Sebuah keputusan yang paling kecil risikonya di tengah situasi pandemi yang tidak dapat diprediksi kapan akan berhenti. Sebuah pilihan yang harus dijalani, baik oleh guru/pengajar, siswa maupun orang tua. Tentu dengan berbagai tantangan yang menanti: kualitas jaringan internet yang belum merata; kejenuhan para siswa; beban orang tua untuk menyediakan kuota Internet; dan hal yang jarang mendapat perhatian adalah para guru/pengajar sebenarnya juga menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah terkait dengan metode pembelajaran dan evaluasinya. Untuk itu diperlukan sebuah metode alternatif atau pendamping bagi para pengajar untuk melaksanakan tugas pembelajaran selama masa pandemi ini.

Pembelajaran Reflektif
Menurut penulis, metode reflective learning atau pembelajaran reflektif dapat menjadi alternatif atau metode pendamping yang efektif selama proses pembelajaran online. Disebut metode alternatif atau pendamping karena memang tidak semua materi pembelajaran dapat dengan mudah disampaikan dengan metode ini. Namun demikian jika para pengajar berani kreatif dalam mengelola kelas, metode ini akan sangat membantu. Penelitian yang dilakukan oleh Riana Indriani (2017) menemukan bahwa metode pembelajaran reflektif efektif untuk meningkatkan kemampuan induktif matematis siswa. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh ordo Jesuit di seluruh dunia juga menerapkan metode ini, yang disebut dengan Ignatian Pedagogical Paradigm (IPP) sejak tahun 1993.

Metode pembelajaran reflektif adalah bentuk pembelajaran yang mengajak seseorang untuk merefleksikan dirinya atas pengalaman yang dimiliki ataupun tindakan yang dilakukan. Tujuan refleksi tersebut untuk mendapatkan makna dan setiap peristiwa sehingga akan mengubah perspektif konseptualnya. Pendekatan ini dikemukakan oleh John Dewey, yang kemudian dikembangkan salah satunya oleh David Kolb (1984) dengan konsep experiential learning.

Dalam experiential learning, pembelajaran mengikuti siklus 4 tahap, yaitu: pengalaman konkrit – refleksi – generalisasi – aksi. Proses pembelajaran dimulai dengan menemukan pengalaman atau serangkaian kejadian yang ditemui oleh individu. Tentu dalam masa pandemi ini, para siswa memiliki begitu banyak pengalaman konkrit. Pengalaman merasakan wabah yang belum pernah terjadi, belajar secara daring dan rumah, mengerjakan tugas kelompok secara online, rasa bosan yang menumpuk, menahan keinginan untuk bertemu teman dan nongkrong di kafe, menahan diri untuk tidak ngemall, gagal/ tertundanya rencana-rencana yang telah dibuat dan masih banyak lagi. Terlebih jika siswa yang merupakan keluarga dari tenaga medis yang pontang-panting menjalankan tugasnya, atau siswa dari keluarga korban covid-19. Tentu pengalamannya akan lebih kompleks.

Menurut Caroline Ramsey (2006), tahap pengalaman konkrit ini dapat digali dengan pertanyaan what, who dan when. Pengajar harus kreatif untuk mengaitkan pengalaman-pengalaman para siswa itu dengan matode pembelajaran yang disampaikan. Mungkin tidak hams semua mated, namun sebagian mated saja sudah cu-kup untuk membantu siswa sekaligus para pengajar mengatasi kejenuhan.

Selanjutnya seluruh pengalaman nyata yang ditemui para siswa akan direfleksikan. Tahap refleksi dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan why dan how atas peristiwa yang terjadi. Pada tahap ini diperlukan pendampingan yang dapat dilakukan oleh pengajar atau orang tua. Tidak ada refleksi yang salah, namun guru atau orang tua cukup membantu menstimulasi saja jika siswa kesulitan menemukan jawabannya. Misalnya saja seorang siswa merefleksikan bahwa wabah ini terjadi karena kutukan Tuhan, maka guru/orang tua dapat memancing dengan menanyakan apakah tidak ada kemungkinan lain? Apakah tidak mungkin ini disebabkan oleh kecerobohan dan rakusnya manusia terhadap alam?

Setelah melakukan refleksi, maka tahap selanjutnya adalah generalisasi atau menarik kesimpulan pembelajaran dari proses refleksi. Pertanyaan yang dapat diajukan pada tahap ini: "so what?‘ atau "now what?". Jika seorang siswa merefleksikan bahwa mengerjakan tugas kelompok secara online tidak berjalan mulus karena salah satu teman kesulitan sinyal atau kuota, maka dapat diajukan pertanyaan di atas. Individu bebas untuk menentukan pilihannya. Pengajar atau orang tua berperan mendampingi saja. Misal saja kesimpulan yang ditarik adalah bahwa teknologi tidak selamanya dapat mengatasi masalah manusia.

Tahap terakhir dari experiential learning adalah merumuskan aksi berdasar pada kesimpulan yang telah diambil. Maka pertanyaannya adalah apa yang dapat dilakukan? Jika disimpulkan bahwa teknologi tidak dapat mengatasi semua masalah, apa yang dapat dilakukan? Bisa saja muncul jawaban: kita sebagai manusia tetap harus menjalin relasi dengan orang lain di dunia nyata. Dalam konteks mengerjakan tugas kelompok secara online, lalu apa yang dapat dilakukan? Misalnya iuran untuk membantu teman mendapatkan kuota.

Menurut Andrew Pollard, 2002, dalam buku Reflective Teaching, kelebihan pembelajaran reflektif mampu memberikan siswa pemahamannya sendiri. Hal tersebut dikarenakan dalam proses pembelajaran reflektif melibatkan berfikir reflektif di dalamnya. Pada saat berfikir reflektif berlangsung pada siswa, siswa tersebut akan mempelajari apa yang dihadapinya, berasumsi, menilai, dan menyelesaikan permasalahan dengan pengalamannya sendiri. Selain itu metode ini juga dapat membantu para pengajar untuk keluar dan kejenuhan selama proses pembelajaran dilakukan secara online.

►Tribun Jateng 20 Juli 2020 hal. 2

Kategori: ,