Meredam Kekerasan dalam Keluarga di Tengah Pandemi
Rabu, 29 Juli 2020 | 15:11 WIB

TRB 29_07_2020-meredam-kekerasan-dalam-keluarga-di-tengah-pandemi

Oleh: DP. Budi Susetyo, Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata

PANDEMI Covid 19 yang telah berlangsung beberapa bulan belakangan ini memberi dampak pada peningkatan kekerasan dalam keluarga atau biasa disebut KDRT. Kekerasan lebih banyak menimpa perempuan dan anak-anak. Seperti disampaikan Komnas Perempuan melalui survei yang dilakukan, dinyatakan bahwa KDRT terhadap perempuan meningkat selama pandemi Covid-19. Sayangnya kebanyakan korban memilih diam atas pengalaman buruknya (Kompas.com, 3/6/2020). Dalam situs Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dimuat hasil penelitian yang menunjukkan peningkatkan kekerasan pada anak di masa pandemi terutama kekerasan seksual. (www.kemenpppa.go.id, 23/6/2020).

KDRT merupakan tindakan memaksakan kemauan dengan menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap keluarga sendiri dan masih menjadi ancaman serius sampai sekarang. Bagaimana kontribusi pandemi Covid 19 terhadap peningkatan KDRT tersebut? Pandemi menyebabkan beban keluarga semakin meningkat dengan beralihnya aktivitas kerja dan sekolah di rumah. Belum lagi urusan pekerjaan rutin rumah tangga yang tidak kalah beratnya.

Ironisnya tanggung jawab tersebut kebanyakan dibebankan kepundak seorang ibu ataupun istri. Itulah sebabnya banyak ibu yang berkeluh kesah dengan keadaan ini. Sebagaimana ditulis Eva Kusuma Sundari (dalam Kompas.com, 23/4/2020) akibat harus di rumah saja, ibu-ibu diibaratkan berperan sebagai CEO rumah tangga sehingga semakin terkuras energinya. Pandemi mengubah hampir segala aspek kehidupan mulai pendidikan, pekerjaan, ibadah agama, bahkan "rumah sakit" beralih ke dalam rumah.

Jerih payah ibu-ibu menyelesaikan pekerjaan di rumah seringkali tidak diikuti imbal balik perhargaan ataupun perhatian dari suami dan anak. Rumah berubah menjadi kelas sekolah, kantor, bahkan klinik untuk merawat orang sakit, baik jiwa maupun raga. Multitasking perempuan bertambah seperti deret ukur dalam bulan-bulan pandemi ini. Tidak bisa dibantah bahwa beban berlebih di rumah menjadi sumber frustrasi keluarga. Ditambah lagi situasi ke depan yang serba tidak pasti, bahkan jalan di tempat serta menghadapi kebuntuan. Hal demikian sangat mudah memicu akumulasi furstrasi yang tidak jarang berujung pada kekerasan. Frustrasi ibarat luapan air ketika direbus di dalam ketel, yang bisa reda ketika uap air tersalurkan melalui lubang katup ketel. Ketika ditengarai lubang katup ketel tersumbat maka dapat terjadi ledakan akibat akumulasi tekanan mencari jalan keluar.

Dalam teori hipotesis frustrasi agresi dijelaskan bahwa kekerasan dapat dipicu oleh frustrasi. Pengalaman frustrasi mengaktifkan keinginan bertindak agresif terhadap sumber frustrasi sehingga mencetuskan perilaku kekerasan. Meskipun kenyataanya tidak semua frustrasi diikuti tindakan kekerasan karena orang mungkin mampu mengelola frustrasi dengan efektif. Namun keadaan bisa terjadi sebaliknya, yaitu keadaan berlarut-larut tanpa kepastian solusi. Hal ini mengakibatkan potensi frustrasi memicu kekerasan meningkat. Demikianlah yang terjadi dengan situasi pandemi sekarang ini, masih banyak orang memiliki kendala untuk meredakan frustrasi karena terpasung oleh persoalan yang menumpuk di rumah serta menghadapi jalan buntu. Dampaknya terjadi eskalasi frustrasi bahkan sampai memuncak hingga memicu kekerasan.

Pelampiasan frustrasi dengan kekerasan terhadap pihak-pihak yang dianggap lemah merupakan modus yang sering terjadi. Mengacu teori kambing hitam (the scapegoat theory), energi frustrasi diarahkan kepada mereka yang dianggap lemah ketika pelaku tidak mampu mengatasi sumber frustrasi. Perempuan dan anak-anak. sering ditempatkan sebagai sasaran pelampiasan ataupun disalahkan sebagai sumber persoalan karena kedudukan yang lemah.

Katakanlah frustrasi itu dialami seorang suami/ayah karena terkena PHK, maka yang paling mungkin adalah pelampiasan dengan menyalahkan istri dan anak-anak. Saling menyalahkan juga bisa terjadi dari istri terhadap suami, orangtua terhadap anak ataupun anak terhadap orang tua.

Kekerasan juga dapat disebabkan pengelolaan konflik yang tidak efektif karena menghasilkan win-lose solution. Idealnya pemecahan konflik berorientasi pada problem solving dengan hasil win-win solution. Ketika solusi belum ditemukan, bolehlah orang melupakan sejenak dengan menarik diri dari konflik. Semua berupaya menahan diri sampai saatnya solusi ditemukan. Namun mengatasi konflik dengan pertengkaran seringkali tidak bisa dihindari. Kondisi harus tinggal di rumah akibat pandemi, sulitnya menemukan solusi atas persoalan yang menumpuk meningkatkan intensitas pertengkaran. Akibatnya eskalasi perasaan negatif meningkat dan keluarga menjadi rentan pertengkaran.

Bagaimana meredam kekerasan dalam keluarga di era pandemi? Mengelola frustrasi merupakan cara yang disarankan. Hal tersebut melalui berbagai aktivitas yang menciptakan kegembiraan dan emosi positif. Sesekali luangkan waktu berolahraga, jalan-jalan bersama, berkebun atau penyaluran hobi di luar rumah. Tentu saja dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Demikian pula menciptakan kegembiraan di rumah misalnya dengan bercanda, bernyanyi, bermusik dan cara lain.

Mengelola emosi lebih tenang dan sabar daripada menuruti kekhawatiran dan amarah sangat dianjurkan. Meredam kekerasan juga dapat dengan membuka komunikasi untuk menyampaikan pendapat, kanalisasi pengungkapan perasaan terpendam, berupaya mencari solusi dengan mengedepankan kesepakatan daripada perbedaan. Tidak kalah penting adalah dengan kesetaraan di antara anggota keluarga sehingga tidak lagi saling menyalahkan namun berupaya saling membantu dan meringankan beban.

►Tribun Jateng 29 Juli 2020 hal. 2 

Kategori: ,