Lokakarya Peningkatan Prestasi Kemahasiswaan, JAKA APTIK 2020
Selasa, 21 Juli 2020 | 13:58 WIB

Pada hari Sabtu tanggal 18 Juli 2020,  Unika Soegijapranata menghadiri kegiatan LOKAKARYA PENINGKATAN PRESTASI KEMAHASISWAAN yang diselenggarakan secara daring oleh JAKA APTIK (Jaringan Kemahasiswaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik). Kurang lebih 15 Perguruan Tinggi Katolik , yang menghadirkan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Pusat Karir, kurang lebih 35 orang. Dari Unika, hadir Wakil Rektor III dan Ka UPT Pusat Karir / SSCC.

Daring yang dimulai pukul 8.30 ini berlangsung dengan sangat baik dengan suasana kekeluargaan. Masing-masing wakil perguruan tinggi saling menyapa, pertanda kerinduan untuk akan adanya pertemuan.

Lokakarya kali ini menampilkan dua pembicara utama dengan tema “Pandemi yang Memerdekakan” oleh Rektor Universitas Sanata Dharma, yaitu bapak Johanes Eka Priyatma, MSc. PhD. Sedangkan pembicara kedua adalah Wakil Rektor Universitas Katolik Musi Charitas yaitu romo RD Gunadi E, ST., M.Eng dengan “Konsistensi Pengembangan Nilai-nilai Kristiani dalam Merdeka Belajar – Kampus Merdeka”.

Rektor USD yang lebih dikenal dengan sebutan pak Eka ini mengangkat satu pertanyaan besar yaitu Seberapa besar konsep kampus merdeka relevan bagi masa depan/ prestasi mahasiswa terutama di masa covid ini?  Dengan adanya konsep Kampus Merdeka yang telah dicanangkan oleh menteri pendidikan, serta pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia ini, seolah-olah mengkondisikan bahwa everywhere is a school and every one is a teacher. Belajar menjadi tidak penting lagi pada ruangan atau siapa yang mengajar. Bahkan bisa dikatakan bahwa keberadaan kampus atau perguruan tinggi seolah-olah menjadi tidak penting. Hal ini yang menjadi tantangan terberat perguruan tinggi di masa kini dan mendatang, yaitu menemukan hal yang membuka paradigma baru bahwa perguruan tinggi memiliki sesuatu yang istimewa untuk diberikan kepada mahasiswa, sehingga perguruan tinggi masih dan akan selalu dibutuhkan.

Bahwasanya di masa pandemi ini, merdeka belajar dengan moda daring mempunyai hal-hal positif yaitu sangat fleksibel dalam pembelajaran, menembus tapal batas, efisien dan efektif serta adanya kemandirian. Sebuah peluang untuk dapat menuju satu tujuan dengan banyak cara. Adapun di sisi lain, ada hal-hal yang mungkin menjadi ancaman seperti: tidak adanya lagi otentitas – apakah kegiatan online benar-benar diikuti, rendahnya formalitas – karena hanya berbatas monitor PC/laptop atau handphone, ancaman kegiatan fisik yang menghilang karena kegiatan olahraga menjadi tidak ada. Adanya anggapan dari mahasiswa bahwa rumah bukanlah tempat untuk study, sehingga kehadiran secara nyata menjadi kurang penting lagi, hanya presensi lalu menghilang. Atau benar-benar hadir, menyimak, namun dilakukan sambil lalu atau sambil melakukan hal lain yang kurang begitu berkaitan. Mahasiswa bukan hanya memerlukan inovasi baru karena gawai sudah menjadi hidup mereka. Yang diperlukan adalah perpsektif baru, pedagodi baru dan cara pendampingan baru.

Sementara itu, romo RD Gunadi, ST., M.Eng. menyampaikan akan adanya pertanyaan selama pembelajaran moda daring: berapa persen mahasiswa menemukan pengalaman baru selama masa pandemi ini, hingga mampu meningkatkan kompetensi secara utuh dan siap kerja?

Beliau menggariskan bahwa “kehadiran” dalam sebuah proses (pembelajaran) sangat penting, baik itu secara pribadi ataupun grup. Pendampingan personal maupun kelompok, baik secara hadir fisik ataupun dukungan riil sangat berarti bagi anak muda (mahasiswa). Bahwa karakter anak muda saat ini adalah mudah menyebar, bertemu dan menemukan jati diri sehingga mereka menemukan integritas, harga diri dan penerimaan diri di antara teman-temannya. Potensi diri menjadi peluang ketika mereka berhadapan dengan lingkungan sehingga menjadikannya kreatif, inovatif dan aplikatif.

Adanya pendampingan mahasiswa akan menjadikan mereka open minded, membuka perspektif baru bahwa ada saatnya untuk meninggalkan kebiasaan lama menuju kebiasaan baru. Sedangkan dari perguruan tinggi harus dapat menciptakan system baru agar mahasiswa dapat belajar dengan pemikiran baru dan masih dengan gaya anak muda. Ditekankan pula bahwa teknologi harus ada, namun tidak bisa mengambil alih pembentukan karakter mahasiswa.

Tanya jawab maupun sharing sesama anggota Jaringan Kemahasiswaan APTIK ini berlangsung seru. Antusias para peserta untuk dapat berbagi pengalaman dan adanya peluang membuka kerjasama antar perguruan tinggi dalam sharing kegiatan kemahasiswaan. Berbagai cara untuk dapat menyulut semangat mahasiswa agar tetap berprestasi dan berkiprah di masyarakat menjadi topik menarik.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unika, ibu Dr. V. Kristina Ananingsih, ST., MSc mengutarakan bahwa selama pandemi ini, mahasiswa Unika tetap berkegiatan meskipun secara daring. Seminar dan lokakarya mahasiswa dalam pembuatan penelitian mahasiswa, bedah buku, pemilihan mahasiswa berprestasi, bahkan game e-sport juga diadakan. Masih banyak agenda kegiatan mahasiswa yang akan diadakan selama kurun waktu satu semester ke depan. Kegiatan-kegiatan ini ditanggapi positif oleh perguruan tinggi lainnya.

Sesi kedua dalam lokakarya ini adalah penetapan kegiatan mahasiswa selama pandemi di tahun ini dan tahun depan. Kegiatan pengabdian pada masyarakat di pantai Grigak, ditunda pada tahun 2021 atau jika kondisi memungkinkan. Kegiatan ini juga diarahkan untuk pengabdian di area lain oleh pengurus APTIK, karena Jaka APTIK mempunyai jangkauan yang luas. Sedangkan Intercultural Student Camp batch 6, juga ditunda ke tahun 2021 atau jika kondisi memungkinkan. Bapak Augustinus Widyaputranto, selaku Direktur kegiatan APTIK, memberikan arahan bahwa kegiatan kemahasiswaan diharapkan lebih implementatif. Dapat dimungkinkan bahwa kegiatan pengabdian tersebut tidak tersekat-sekat lagi menjadi kegiatan pengabdian khusus dosen atau  pengabdian mahasiswa, tapi merupakan pengabdian kolaborasi, yang juga dapat sebagai kegiatan penelitian sekaligus.

Romo Bambang Irawan, Universitas Sanata Dharma, mengutarakan pendapat bahwa sangat dimungkinkan ada kegiatan kemahasiswaan dengan melakukan sharing, agar dapat belajar satu sama lain dan mahasiswa tidak hanya diam melakukan daring perkuliahan. Kegiatan keperdulian di tingkat universitas kiranya lebih diperdalam lagi refleksinya, misalnya Unika dengan kegiatan lingkungan hidup akan membuat goal tertentu yang akan disharingkan dalam pertemuan kemahasiswaan, agar apa yang sudah dilakukan akan semakin menguatkan satu sama lain. Hal ini bersambut baik dengan tawaran dari bu Tina, bahwa Unika bersedia untuk mengawali kegiatan kemahasiswaan APTIK dengan pelatihan pengelolaan lingkungan.

Lokakarya berakhir pada pukul 12.10 dengan beberapa bundling dari bapak Pupung Arifin, Msi, bahwa ide cluster pengabdian akan diwujudkan dalam lokakarya yang akan datang. Yang kedua adalah akan diadakan Pelatihan – webinar yang merupakan kekhasan masing-masing perguruan tinggi, kemudian ISC dan Pengabdian akan dilaksanakan jika mempunyai keleluasan waktu, minimal berupa sharing moda daring. Yang keempat adalah sharing simkatmawa, untuk mendapatkan pembelajaran dari perguruan tinggi lain, yang akan diawali dengan link draft instrument tentang kepemeringkatan.(sscc-yoel-wr3)

Kategori: ,