Diskusi Serial ke-9 LPPM oleh Fikom Unika, Dalami Telemedecine dan Cara Membuat Aplikasi Mobile Belajar Anak Usia Dini
Jumat, 17 Juli 2020 | 9:06 WIB

Diskusi Serial ke-9 “di Rumah Unika” LPPM Unika oleh FIKOM secara online

Dalam diskusi serial ke-9 yang diselenggarakan oleh LPPM Unika Soegijapranata atau sering disebut dengan istilah “Di Rumah Unika”, Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Unika dengan dua narasumber yang hadir dan memaparkan topik mereka pada Kamis (16/7), mereka mengupas tentang dua topik yang berbeda.

YB Dwi Setianto ST MCs membahas tentang “Mendadak IT Karena Pandemi-Telemedicine’s Hardware Security System”. Sedang Agus Cahyo Nugroho MT memaparkan tentang “Membuat sendiri aplikasi mobile belajar anak usia dini di tengah Pandemi Covid-19.”

Dalam acara yang dimoderatori oleh Albertus Dwi Yoga Widiantoro MKom dan ditayangkan juga secara streaming ini, Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC tampak menegaskan kembali kiprah IT dalam kehidupan manusia terutama di masa pandemi covid-19.

“Kondisi pandemi covid-19 ini, membuat kita tiba-tiba jadi IT. Jadi semua menjadi berbasis IT, karena pertemuan-pertemuan secara fisik sudah tidak dimungkinkan lagi. Begitu juga intensifitas secara fisik tidak mungkin lagi dilakukan seperti dulu, dengan begitu teknologi informasi menjadi satu solusi atau pilihan yang paling masuk akal pada saat ini,” ucapnya.

Selain itu, teknologi informasi juga tidak hanya berperan sebagai nilai tambah saja untuk sebuah organisasi, tetapi harus berperan sebagai perantara atau fasilitator bagi pencapaian strategi suatu organisasi.

Keberadaan Fakultas Ilmu Komputer dengan keberadaan program studi sistem informasi dan teknik informatika di Unika Soegijapranata, juga jadi kunci dalam perkembangan teknologi informasi, perkembangan organisasi, perkembangan proses pembelajaran, selama masa pandemi ini, sehingga dimungkinkan kita tetap melayani yang terbaik untuk mahasiswa, lanjut Prof Ridwan.

Mengawali sesi diskusi, pemateri pertama YB Dwi Setianto memaparkan tentang dampak pandemi covid-19 terhadap telemedecine. “Dengan pandemi covid-19 masyarakat merasa terbantu dengan telemedecine, karena bisa menjadi solusi saat kita membutuhkan fasilitas alat kesehatan untuk mendeteksi kesehatan kita. Artinya adalah examinasi kesehatan secara jarak jauh. Jadi bidang kesehatan itu terdampak teknologi sebelum pandemi covid-19, namun dengan munculnya covid-19 seakan didorong berkembang semakin cepat, mulai digitalisasi alat kesehatan, meningkatkan customer engagement dan diagnosa pun mulai dipikirkan melalui daring,” paparnya.

Pertanyaan besarnya adalah apakah alat kesehatan itu kalibrasinya bagus? Apakah akurasinya bagus? Dan apakah alat itu bisa dipakai secara benar walaupun dipakai oleh mereka yang bukan tenaga kesehatan.

Sehingga dengan demikian kita harus melindungi alat kesehatan itu supaya dapat menghasilkan diagnosa yang tegak. Maka riset saya selama hampir dua tahun ini adalah bagaimana menyusun sebuah protokol untuk menjamin bahwa alat-alat kesehatan ini apabila masuk ke dalam telemedecine harus terkalibrasi dan terotorisasi. Begitu alat itu tidak terdaftar di BPFK (Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan) maka dalam alat ini akan ada peringatan terhadap dokter atau tenaga kesehatan bahwa alat ini sudah tidak ditera dan sebagainya, lanjutnya.

Sementara salah satu narasumber lain dengan topik  “Membuat sendiri aplikasi mobile belajar anak usia dini di tengah Pandemi Covid-19”, Cahyo Nugroho memaparkan bagaimana orangtua bisa berkreasi membuat aplikasi mobile belajar anak usia dini.

“Pada awalnya saya terinspirasi dengan anak saya  sendiri yang masih sekolah di PAUD di masa pandemi Covid-19 ini. Dalam pembelajarannya selama covid-19 ini, dia mendapat tugas dari gurunya untuk mewarnai atau membuat huruf. Lalu sekilas terpikirkan kenapa orangtua tidak membuat aplikasi sendiri, terutama aplikasi mobile yang bisa digunakan selama pandemi covid-19,” tuturnya.

Kemudian ide itu saya realisasikan dengan pelatihan pembuatan aplikasi dengan basicnya adalah mobile baik handphone maupun tablet. Hal tersebut karena anak-anak zaman sekarang tidak bisa lepas dari gadget, oleh karena itu kenapa tidak kita manfaatkan secara  lebih positif yaitu dengan membuat  permainan sambil belajar pada anak.

“Dalam proses pembuatannya kita menggunakan MIT APP Inventor, Jadi keunggulannya karena yang digunakan adalah block programming, artinya block programming ini akan membantu kita seperti menyusun puzzle, sehingga orangtua atau pemula tidak kesulitan dalam mengetik baris-baris kode atau syntax error apabila di dalam bahasa pemrograman,” jelasnya.

Jadi yang material yang dibutuhkan dalam pembuatan aplikasi mobile adalah komputer,  device-nya (boleh handphone atau tablet), koneksi wifi atau internet, tutupnya. (FAS)

Kategori: ,