Bangkitan Rasa Kekeluargaan saat Pandemi
Senin, 27 Juli 2020 | 9:35 WIB

TRB 25_07_2020 Bangkitan Rasa Kekeluargaan saat Pandemi

Oleh Lucia Hernawati, Dosen Fakultas Psikologi-Unika Soegijapranata

PANDEMI covid-19 yang belum nampak ujungnya telah memporak-porandakan tatanan hidup yang telah terbentuk. Pegawai kantoran biasanya pergi pagi pulang sore ke tempat kerja, anak-anak sibuk dengan aktivitas akademik dari pagi sampai siang atau bahkan sore hari, ibu-ibu berbelanja ke pasar dan bersenda gurau dengan teman-teman se-rukun tetangga menjadi harus benar-benar menjaga protokol kesehatan (masker, hand sanitizer, cuci tangan, jaga jarak, durasi bercakap cakap 15 menit, dan konsumsi vitamin C) sesuai dengan himbauan pemerintah.

Belum lagi pemberitaan tentang penderitaan orang-orang yang terpapar covid 19 dan stigma negatif bagi keluarga semakin santer terbaca di berbagai media sosial dan terdengar dari lingkungan sekitarnya. Semua itu menimbulkan rasa cemas, “bagaimana bila saya atau anggota keluargaku terpapar covid 19”, merasa hidup semakin rumit “harus berkali-kali cuci tangan atau memakai hand sanitizer, memakai masker yang kerap membuat sulit bernafas, kehilangan teman-teman bersenda gurau. Keadaan seperti ini sudah dilalui sejak akhir maret 2020 hingga saat ini, selanjutnya menimbulkan rasa bosan.

Dalam kebosanan ini banyak yang sudah mulai melanggar protokol kesehatan. Terlihat semakin banyak orang di jalanan tanpa masker, begitu pula di kantor. Cuci tangan atau memakai hand sanitizer mulai dirasa tidak perlu, ngobrol gayeng dengan teman-teman sudah dimulai, konsumsi vitamin C mulai dihentikan karena faktor ekonomi yang kurang mendukung.

Keadaan di atas bila kita refleksikan lebih jauh lagi nampak bahwa kebiasaan hidup sehat masyarakat Indonesia selama ini belum memadai. Imbauan pemerintah tentang protokol kesehatan mulai diabaikan, sementara cara hidup yang dipilih tidak mendukung kesehatan diri sendiri dan orang lain. Ini terbukti angka kenaikan penderita covid 19 di Indonesia masih cenderung meningkat hingga saat ini. Oleh karenanya, perlu aktivitas pendukung protokol kesehatan yaitu kesadara diri untuk hidup sehat holistik

Hidup sehat holistik

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sehat adalah keadaan yang sempurna, baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat. Dengan demikian yang disebut sehat itu tidak bisa dipisahkan sehat fisik dari mental dan sosial, harus menjadi satu kesatuan.

Bila ingin tidak terpapar covid 19 maka yang harus dijaga bukan hanya kesehatan fisik namun juga kesehatan mental dan sosialnya. Tidak bisa menghindari covid 19 hanya dengan melindungi fisikal dengan masker, hand sanitizer, cuci tangan, jaga jarak, durasi bercakap-cakap 15 menit, konsumsi vitamin C namun cara berpikir dan kesadaran bersosialisasi juga harus diubah.

Supaya dapat hidup sehat holistik yang pertama harus ditata adalah cara berpikir untuk menerima keadaan yang terkini apa adanya. Selanjutnya beradaptasi dan berpikir positif tentangnya, menangkap pembelajaran darinya, menyelesaikan masalah dan bersosialisasi dengan cara baru serta mewujudkan semua pemikiran tersebut pada perilaku yang nyata (Myers & Sweeney, 2008). Pemikiran Myers & Sweeney ini berangkat dari konsep individu yang bersifat multidimensional, tidak terpisahkan fisik-mental-sosial.

Pandemi covid 19 harus diterima apa adanya dengan semua suka dukanya. Untuk kesehatan fisik, protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah tetap bermakna. Namun perlu ditambah dengan konsumsi makanan berimbang karbohidrat, protein, lemak, serat, mineral, dan vitamin. Dengan demikian kita tidak memerlukan lagi suplemen vitamin C. Makanan sehari-hari orang Indonesia dengan menu nasi, sayur, lauk (protein hewani/nabati), dan buah sudah mencukupi.

Mindful eating (menyadari semua makanan yang masuk ke dalam tubuh) nampaknya perlu dilakukan. Di masa pandemi, perkembangan kuliner Indonesia berkembang pesat, tampak dengan semakin bervariasinya tawaran makanan yang dijajakan lewat media sosial maupun di toko-toko. Untuk ini rasanya perlu bijak dalam memilih. Camilan yang terbuat dari terigu, mentega, keju akan berpotensi mengacaukan keseimbangan karbohidrat, protein, lemak, serat, mineral, vitamin yang dibutuhkan tubuh. Oleh karenanya bisa dikonsumsi hanya sesekali saja. Penyedia camilan hendaknya juga memperhatikan kebutuhan kalori konsumennya.

Selain makanan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengupayakan agar tubuh terus bergerak. Khusus berolah raga untuk sebagian orang mungkin akan sulit. Namun membersihkan rumah (menyapu, mengepel lantai), menyetrika, memasak, mencuci motor/mobil juga mampu membakar kalori. Mengerjakannya bersama keluarga tentu menjadi aktivitas yang menyenangkan walau di rumah tersedia asisten keluarga. Orang tua sebaiknya menjadi teladan bagi anak untuk tidak hanya rebahan di kasur atau sibuk dengan gadget namun beraktivitas produktif di rumah.

Fisik yang sehat memungkinkan untuk berpikir jernih. Bisa jadi berbagai masalah menghampiri di masa pandemi ini. Dinamika perekonomian yang menurun berpotensi menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK), selanjutnya KDRT berpotensi terjadi dalam keluarga karena menurunnya income membuat emosi sulit dikendalikan, hal lain yaitu membantu anak belajar secara daring.

Apapun masalah yang menghampiri hendaknya ditanggapi dengan pemikiran yang positif dan fokus pada penyelesaian masalah, jangan dibesar-besarkan bagai drama dalam sinetron. Misalnya terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di tempat kerja yang tak terelakkan. Segera fokus pada penyelesaian masalah, kira-kira aktivitas produktif apa yang bisa dilakukan untuk mendapat uang. Terus berpikir positif dan mengembangkan harapan agar tidak mudah menyerah.

Hubungi teman-teman yang berpotensi memberikan informasi lowongan pekerjaan. Yakin Tuhan akan membuka jalan. Dengan demikian dapat diminimalkan kebuntuan pikiran, keputusasaan dalam menjalani hari-hari di masa pandemi ini. Berupaya untuk menangkap pokok pembelajaran dari masalah yang dialami.

Dengan memikirkan mungkin Tuhan ingin memberi kesempatan untuk lebih sukses pada jenis pekerjaan yang lain.

Fisik dan mental yang sehat besar kemungkinan menimbulkan keterjalinan relasi sosial yang sehat. Lama tidak bertemu teman-teman, rasa kehilangan senda gurau bersama pasti dirasakan. Hal ini masih bisa dikompensasikan dengan melakukan video call dalam kelompok atau melakukan chat dalam whatsapp grup.

Dalam keaktifan di media sosial, tahan diri untuk tidak melepas kejengkelan pada situasi yang dialami sekarang dengan memberi komentar yang negatif pada orang lain. Kembangkan empati dan toleransi yang tinggi pada orang lain. Memakai masker, tidak bercakap-cakap dengan orang lain lebih dari 15 menit dan tetap menjaga jarak dilakukan dalam rangka menjaga keselamatan bersama, menyayangi hidup diri sendiri dan orang lain.

Kembangkan kesadaran saling bantu dengan orang lain terutama korban covid 19.Diakhir tulisan ini saya mengajak kita semua untuk memasrahkan hidup kita pada Sang Empunya Kehidupan (Tuhan), di samping semaksimal mungkin menjaga kesehatan dan terus berupaya agar hidup kita menjadi berkah bagi orang lain.

https://jateng.tribunnews.com/2020/07/25/opini-bangkitan-rasa-kekeluargaan-saat-pandemi?page=all. Tribun Jateng 25 Juli 2020 hal. 2

Kategori: , ,