Unika Soegijapranata Semarang Temukan Alat Pelumpuh Covid-19
Kamis, 4 Juni 2020 | 9:30 WIB

image

Pepohonan yang rindang di sekitar Universitas Katolik Unika Soegijapranata Semarang membuat udara semakin segar. Ditambah lagi, siang itu cukup mendung dengan aktivitas yang tampak tak begitu sibuk di area gedung-gedung perkuliahan. Termasuk satu ruangan di sisi kiri gerbang masuk kampus, yakni Laboratorium Elektro, yang tampak hanya beberapa mahasiswa sedang cermat menghadap ke meja penelitian, termasuk Asmara Samtesamka (28).

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro tersebut, baru-baru ini sedang mengembangkan frekuensi suara untuk terapi mengurangi stres, meningkatkan daya tahan tubuh hingga melemahkan virus yang masuk di tubuh manusia. Berdasarkan pengakuan dari lelaki muda berambut pirang itu, penelitiannya hanya membutuhkan waktu sepekan. Dalam waktu yang sesingkat itu, Asmara yang dibimbing oleh Dr Florentinus Budi Setiawan melakukan penelitian untuk tugas akhir.

“Ini sebenarnya sebagai tugas akhir. Jadi saya dibimbing oleh Pak Budi untuk mengonversi bentuk dari terapi cahaya Biophilia menjadi bentuk frekuensi suara. Di mana, sebenarnya penelitian tentang frekuensi suara untuk terapi ini sudah dilakukan oleh negara-negara lain, di antaranya China. Jadi penelitian ini istilahnya membuktikan hal itu,” papar Asmara, Rabu (3/6/2020).

Mahasiswa yang memang hobi dan suka dengan musik tersebut mengatakan, ia juga membaca buku-buku teori mengenai kekuatan frekuensi suara. Sehingga tidak dibutuhkan waktu lama untuk dirinya merancang penelitian yang dimaksud. Asmara kemudian menceritakan, dari ketiga fungsi terapi yang disebutkan, dua di antaranya sudah ia buktikan. Dikatakannya, untuk terapi stres dan meningkatkan daya tahan tubuh telah ia rasakan sendiri.

“Dua teori tentang terapi penurunan stres dan peningkatan daya tahan tubuh sudah saya uji coba sendiri. Saya mendengarkan frekuensi suara ini selama beberapa hari. Setiap hari dua kali, durasinya sekitar 40 sampai 60 menit. Frekuensinya masih di bawah 1.000 hertz. Antara 740, 1.237, 1.630, 1.855, 2.270 sampai 11.379 hertz. Untuk yang melemahkan virus belum dicoba,” kata dia.

Asmara mengatakan, fungsi frekuensi suara untuk lemahkan virus kemudian akan diuji coba dalam kasus Covid-19. Dikatakannya frekuensi yng dibutuhkan antara 12.400 sampai dengan 13.400 hertz. Kelemahannya, tingkat frekuensi tersebut terlalu tinggi. Sehingga jika didengarkan bisa membuat pendengar pusing sampai mual. Oleh karena itu, nantinya ia akan mencoba mixing frekuensi itu ke dalam lagu. Sehingga pengguna bisa mendengarkan lagu dan tanpa sadar sembari terapi.

“Untuk yang saya rangkai ini, dihubungkan dengan speaker. Jadi memang cara kerjanya sama dengan kalau kita mau dengerin musik pakai speaker. Karena ini bentuk filenya MP3, bisa didengarkan melalui HP dengan headset atau headphone, bisa pula dihubungkan dengan speaker. Dengan begini, jika nanti uji coba berhasil, harapannya bisa membantu masyarakat dalam memerangi virus Covid-19,” kata Asmara.

Hal tersebut dibenarkan oleh dosen pembimbing Asmara yang akrab di sapa Pak Budi. Dosen Teknik Elektro itu mengatakan, penelitian ini sebenarnya merupakan pengujian dari salah satu terapi oleh ayosehat.biz. Secara teknis kerjanya hampir sama dengan alat terapi Biophilia. Namun, kali ini dibuat lebih instan melalui frekuensi suara dengan bentuk file MP3, sehingga lebih mudah digunakan dan lebih murah secara biaya.

“Kalau frekuensi suara ini saya dapat dari ayosehat.biz. Di sana sudah ada menu terapi Covid-19 menggunakan frekuensi suara. Jadi setelah dikonversi dalam bentuk MP3 ini, pasien atau pendengar hanya membutuhkan headset atau speaker saja. Sehingga lebih praktis dan murah. Untuk uji cobanya sendiri, kami akan mencoba di Rumah Dinas Walikota Semarang daerah Manyaran, yang memang saat ini menjadi salah satu tempat untuk isolasi pasien Covid-19,” papar dia.

https://betanews.id/2020/06/unika-soegijapranata-semarang-temukan-alat-pelumpuh-covid-19.html

Kategori: