Progresivitas Dunia Pendidikan
Senin, 22 Juni 2020 | 10:02 WIB

 SM 22_06_2020 Progresivitas Dunia Pendidikan-
Oleh: Ridwan Sanjaya, guru besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata

Meskipun pandemi Covid-19 bukan hal yang patut disyukuri, namun sesungguhnya menciptakan sisi positif yang bisa direfleksikan.

AKIBAT pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, Unika Soegijapranata akhirnya memutuskan untuk menyelenggarakan wisuda daring seperti kampus lainnya. Wisuda yang disebut sebagai selebrasi virtual ini menggunakan teknologi animasi deteksi wajah (face-tracking animation). Meskipun pemanfaatan teknologi ini bukan hal yang asing dalam dunia perfilman Hollywood, inovasi ini baru pertama kali terjadi dalam wisuda di Indonesia, bahkan di dunia.

Hampir setiap hari muncul berbagai tawaran webinar yang bisa diikuti tanpa berbayar. Berbagai keahlian dan wawasan haru secara serempak dibagikan dalam seminar-seminar daring tersebut. Fenomena ini seperti melihat semua tokoh dan ahli keluar dari sarangnya. Banyak masyarakat yang mendapatkan manfaatnya dan acara-acara tersebut secara rutin. Sebuah kreativitas dan kebiasaan yang mungkin belum dilakukan sebelumnya pada masa normal, bahkan di institusi pendidikan sekalipun.

Perkuliahan-perkuliahan yang dulunya hanya meletakkan materi dan memberi tugas melalui email, WhatsApp, atau Line, kini mulai bergeser ke Learning Management System (LMS) seperti Moodle, Google Classroom, dan Microsoft Teams. Bahkan jika sebelumnya hanya menggunakan LMS untuk memasang pengumuman, materi, dan tugas, kemudian bergeser dengan memberikan e-tutorial dalam bentuk presentasi bersuara, rekaman di Youtube, podcast, atau memanfaatkan BigBlueButton, Google Meet, Jitsi, maupun Zoom untuk berinteraksi secara real-time.

Meskipun pandemi Covid-19 bukan hal yang patut disyukuri, namun sesungguhnya menciptakan sisi positif yang bisa direfleksikan. Berbagai kreativitas, inovasi, dan semangat berbagi di dunia pendidikan mungkin tidak akan semarak dan seprogresif ini. Pemahaman masyarakat juga mulai bergeser dari melihat pembelajaran daring hanya sekadar membagikan materi dan tugas ke arah pembelajaran yang sifatnya lebih interaktif. Meskipun masih banyak yang terkendala dengan akses intemet, baik biaya maupun sinyal, pergeseran minat terhadap pembelajaran daring menunjukkan kenaikan signifikan.

Pembiayaan
Pembiayaan memang menjadi masalah yang kompleks karena bukan saja bagi mahasiswa yang mengakses konten pembelajaran secara daring, melainkan juga kampus yang menyediakan akses pembelajaran daring. Dibutuhkan kemampuan finansial yang kuat untuk menyelenggarakan pembelajaran daring yang berkualitas karena harus menyediakan server yang mampu menangani ribuan mahasiswa dalam waktu yang sama dengan kelas yang berbeda-beda.

Selain itu, juga ada penguatan jaringan internet dan bandwidth untuk mengimbangi kebutuhan yang sebelumnya tidak sebesar sekarang.

Di sisi lain, kampus tidak otomatis kosong sehingga biaya tidak berkurang secara signifikan karena operasional kampus harus tetap berjalan dan dosen banyak yang tetap setia membuat konten pembelajaran di kampus. Pada masa pembelajaran daring ini, usaha dosen seringkali lebih besar daripada kuliah biasa. Materi yang dipersiapkan juga seringkali perlu disesuaikan dengan kondisi di dunia virtual yang tidak sama dengan kelas tatap muka.

Karena kemampuan yang berbeda-beda di setiap institusi, tidak semuanya dapat menyelenggarakan pembelajaran daring seperti yang diilustrasikan di atas. Terdapat dua jenis pembelajaran daring yang bisa ditemukan dalam masa pandemi ini, yaitu synchronous learning dan asynchronous learning.

Bagi kampus dengan keterbatasan infrastruktur, asynchronous learning atau pembelajaran tanpa interaksi secara langsung merupakan pilihan yang paling banyak digunakan. Dosen hanya perlu memasang materi dan tugas di Moodle, Google Classroom, Microsoft Meets, atau sejenisnya, sedangkan mahasiswa mengambil materi dan tugas dan LMS, kemudian mengirimkan balik jawaban tugas ke LMS dengan waktu yang telah ditentukan. Seringkali masyarakat melihat semua pembelajaran daring merupakan jenis seperti ini sehingga stigma pembelajaran daring sebagai versi ekonomis dan pembelajaran konvensional tidak bisa dipungkiri tercipta karena kondisi tersebut.

Padahal bagi kampus penyelenggara pembelajaran daring dengan jenis synchronous learning atau pembelajaran dengan interaksi secara langsung, dibutuhkan investasi yang jauh lebih besar dari operasional pembelajaran tatap muka. Dibutuhkan server yang stabil dan mampu menangani pengguna secara massal dan masif, dalam waktu yang sama. Stigma pembelajaran daring sebagai versi ekonomis dari pembelajaran konvensional menjadi salah kaprah dalam synchronous learning.

Namun dalam acara sosialisasi "Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19" Senin yang lalu, usulan Ketua Komisi X DPR RI untuk memberikan dukungan kepada kampus saat masa pandemi Covid-19 perlu bersama-sama didorong, terutama dalam rangka penyelenggaraan pembelajaran daring yang lebih berkualitas dan mampu menambah pengetahuan maupun wawasan mahasiswa. Meskipun belum dapat menjangkau selunih Tanah Air, progresivitas dan wilayah-wilayah yang telah mampu secara infrastuktur akan membawa dampak yang semakin luas untuk bangsa dan negara ini. Selain itu, perkembangan tersebut juga dapat meningkatkan pemahaman kita semua akan pembelajaran daring yang sebenar-benarnya.

►Suara Merdeka 22 Juni 2020 hal. 4 

Kategori: ,