Pernah Dengar Pepatah Banyak Jalan Menuju Roma? Begini Sejarahnya
Senin, 8 Juni 2020 | 10:50 WIB

image

Dalam masyarakat Indonesia dikenal ada pepatah atau peribahasa Banyak Jalan Menuju Roma. Pepatah tersebut muncul kali pertama dalam bahasa Latin yakni mīlle viae dūcunt hominēs per saecula Rōmam yang artinya adalah seribu jalan membimbing orang selamanya ke Roma. Pepatah itu tidak muncul tiba-tiba.

Ketua Program Studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan Unika Soegijapranata, Dr Retno Susilorini menyampaikan, pepatah itu muncul karena adanya ekspansi yang dilakukan oleh Imperium Romawi pada 312 Sebelum Masehi (MS) untuk menaklukan wilayah jajahannya.

“Kalau kita baca sejarah tentang pentingnya jalan yang dibuat oleh manusia, pepatah Banyak Jalan Menuju Roma itu ada karena Romawi sadar betul wilayah taklukannya diharuskan untuk menyetor semacam upeti kepadanya. Maka, dia membangun jalan dari berbagai wilayah taklukannya menuju ke Romawi. Jadi, salah satu sejarah adanya jalan di Eropa bermula masa Romawi,” ucapnya dalam Seminar Online yang diselenggarakan The Java Institute (TJI), Kamis (4/6/2020).

Dalam makalah yang dia sampaikan, mengutip pendapat Jacobson (1940), Dr Retno Susilorini menyampaikan, pertumbuhan jalan kuno dan modern dimulai sejak masa Mesir Kuno.

“Sejak masa peradaban Mesir Kuno pada tahun 3000-4000 SM pembangunan jalan sudah dimulai. Jangan dibayangkan jalan yang dibangun seperti jalan sekarang, beraspal dan bisa dilewati mobil. Waktu itu jalan yang dibangun ya hanya jalan setapak dan berbatu,” ungkapnya.

Sejarah mencatat, tuturnya, Peradaban Babilonia dan Asiria membangun jalan pada tahun 3000-3800 SM, China pada tahun 2582-2704 SM serta Jalan Suteranya pada Abad ke-17 dan 18.

“Jalan itu bukan hanya soal aspek infrastruktur dan hasil karya orang teknik sipil. Jalan, seiring perkembangan zaman dapat dimaksudkan sebagai karya desain, kebudayaan, dan desain peradaban,” tuturnya.

Dia menuturkan, sejarah perkembangan Kerajaan Mataram Islam, Jalan Pantura, dan Masa Kolonial Belanda tidak bisa dilepaskan dari riwayat Jalan Daendels.

“Melalui penaklukan, pada masa Sultan Agung Kerajaan Mataram menyatukan wilayah pesisir utara Jawa yang membentang dari Brebes, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Jepara, dan Rembang. Mataram mengontrol daerah taklukannya, antara lain dengan mewajibkan kunjungan tertentu dari wilayah taklukan ke pusat Mataram. Sehingga, dibutuhkan infrastruktur jalan,” ungkapnya.

Sementara, untuk Jalan Daendels atau Jalan Raya Pos, sebagian besar orang menurutnya membayangkan jalan tersebut membentang lurus di sepanjang pantai utara Jawa.

“Antara Anyer sampai Panarukan, Jalan Daendels tepatnya di daerah sebagian Jawa Barat jalan tersebut tidak berada persis di dekat garis pantai. Lalu mulai dari Cirebon ke timur hingga Panarukan berada di sisi garis Pantai Utara Jawa,” ucapnya.

 

https://jateng.tribunnews.com/2020/06/05/pernah-dengar-pepatah-banyak-jalan-menuju-roma-begini-sejarahnya?page=all.

Kategori: