Pentingnya E-Tutorial di Lingkungan Dikdasmen
Jumat, 19 Juni 2020 | 12:31 WIB

TRB 19_06_2020 Pentingnya E-Tutorial di Lingkungan Dokdasmen

Oleh: Posmaria Sitohang, SE, M.Si., Dosen Program Studi Manajemen Unika Soegijapranata

SEJAK Maret lalu Presiden menghimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas bersama yang melibatkan banyak pihak dan diganti menjadi kegiatan "bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan ibadah di rumah". Ketentuan belajar di rumah ditetapkan melalui Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid- 19) .

Jika sebelumnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini sepenuhnya dilaksanakan dalam waktu dan ruang yang telah ditetapkan, maka kemudian semua proses tersebut menjadi berbeda dan baru bagi sebagian besar pendidik. Menurut Hoskins dan Fredriksson (2008) belajar sesuatu hal yang baru menuntut suatu kemampuan (ability to learn) untuk beradaptasi terhadap perubahan, kemampuan untuk mempertahankan partisipasi penuh, dan kemampuan untuk mengambil risiko sosial.

Adaptasi terhadap perubahan
Adaptasi terhadap perubahan model pembelajaran tidak lagi terhindarkan untuk dijalani baik oleh para guru, para murid, maupun para orangtua murid. Jika semula model pembelajaran tradisional di sekolah didominasi oleh guru yang menjelaskan dan mengkomunikasikan materi secara verbal sedangkan murid cenderung untuk mendengarkan serta mencatat materi yang dijelaskan itu, maka dengan adanya belajar dari rumah mau tidak mau mengubah cara belajar siswa dari semula belajar terpimpin menjadi belajar mandiri.

Karena situasi yang mendadak, keterbatasan penguasaan teknologi, dan keterbatasan infrastruktur di sekolah maupun rumah, praktek pembelajran yang terjadi dalam dua bulan ini cenderung berupa aktivitas pengiriman materi pembelajaran dan tugas melalui internet. Siswa kemudian mengerjakan sejumlah soal dari materi yang sudah dikirimkan  terlebih dahulu. Kadangkala soal diberikan bersamaan dengan materi yang dibahas saat itu.

Pola ini menuntut para murid untuk mampu bekerja mandiri karena tidak ada pendampingan guru selama proses belajar dan menyelesaikan tugas. Di sinilah peran orangtua sebagai pembimbing diperlukan. Jika selama ini orangtua berada di luar gerbang sekolah saat putra-putrinya berada dalam jam sekolah, maka dengan adanya proses belajar daring ini peran orangtua menjadi lebih aktif.

Orangtua diperlukan untuk terlibat di dalam proses belajar anak. Ada berbagai ragam bentuk keterlibatan orangtua tergantung dari jenjang pendidikan anak. Bagi sebagian orangtua yang memiliki anak usia sekolah dasar, bantuan orangtua tentu jauh lebih besar dibanding untuk anak usia sekolah menengah.

Partisipasi penuh dan konsisten
Masih menurut Hoskins, mempelajari hal baru juga menuntut adanya kemampuan untuk mempertahankan partisipasi penuh secara konsisten. Ketabahan dan semangat untuk bertahan dalam kesulitan belajar membawa refleksi bahwa sesuatu yang semula sulit dan nampaknya mustahil untuk dilakukan, pada akhirnya menjadi suatu hal yang biasa. Proses tutorial diperlukan untuk menjaga keberlanjutan partisipasi ini.

Prensky (2002) menyatakan pembelajaran tutorial lebih efisien dibandingkan model kelas tradisional karena di dalam proses tutorial ada interaksi satu-satu (one-on-one) antara tutor dan siswa. Secara tradisional, proses belajar tutorial ini membutuhkan sumber daya yang lebih besar namun adanya teknologi, proses tutorial ini menjadi suatu pilihan yang mungkin untuk dilakukan di saat pandemi Covid-19.

Tutorial secara digital atau e-tutorial menjadi tepat untuk diterapkan di masa sekarang ini. Dalam TechLearn (2000), e-tutorial didefinisikan sebagai suatu proses mengajar, memberi dukungan, mengelola dan menilai kelayakan seorang siswa dalam suatu lingkup pembelajaran yang personal dan melibatkan penggunaan teknologi daring. Menurut Berge (1995), seorang tutor memiliki 4 peran yakni peran pendidik, peran pengelola, peran sosial dan peran teknikal dalam pelaksanaan E-tutorial.

Peran sebagai tutor pendidik dijalankan para guru melalui pemberian materi, instruksi pengerjaan tugas secara jelas, penyajian soal-soal dan penugasan, pemberian contoh-contoh, juga memberikan masukan atas hasil kerja siswa. Peran sebagai pengelola (managerial) dilaksanakan melalui proses administrasi hasil kerja siswa, membuat rekam jejak kemajuan belajar siswa dan data siswa lainnya. Sedangkan peran sebagai tutor sosial adalah memberikan stimulasi positif seperti halnya situasi belajar yang menyenangkan dan ramah bagi siswa seperti halnya sapaan guru di kelas pada situasi belajar tatap muka secara fisik. Peran terakhir tutor dalam e-tutorial menurut Teles(2001) adalah sebagai instruktur teknis bagaimana penggunaan piranti ICT dan aplikasi pembelajaran daring kepada siswa.

Keempat peran ini tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan dalam waktu sesaat. Dengan adanya situasi pandemi Covid-19 ini, banyak guru maupun siswa yang harus berlatih keras untuk belajar hal baru ini. Belajar dari pengalaman (learning by doing) dan premis pengalaman adalah guru yang terbaik benar benar terlaksana saat ini. Para guru dan siswa mendapat pembelajaran dari pengalaman penggunaan metode belajar daring yang terus menerus; dan praktik penggunaan yang kontinyu akan semakin mengasah kemampuan dan ketrampilan dalam melaksanakan proses pembelajaran daring selama masa covid-19 ini.

Risiko sosial
Dengan berbagai keterbatasan dalam pelaksanaan pembelajaran daring, aktivitas yang tidak maksimal ini memang akhirnya hanya diminati oleh sebagian dari siswa. Berdasarkan hasil survei pada sejumlah responden dari kalangan siswa sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) bahwa setelah seminggu belajar di rumah, sejumlah 48,6 persen responden mulai mengalami kejenuhan. Mereka lebih menyukai belajar di sekolah (69,2 persen) dibanding belajar di rumah (31,8 persen).

Alasan para responden lebih menyukai belajar di sekolah adalah karena siswa bertemu dengan teman-teman (50,6 persen); di sekolah ada Bapak Ibu guru yang menjelaskan pelajaran (10,4 persen). Selain itu ada sejumlah alasan lain, yaitu responden bisa melakukan kegiatan lainnya jika ke sekolah. Alasan lainnya, jika ke sekolah maka responden akan mendapat uang saku.

Walaupun tidak cukup, menjadi representasi pendapat para siswa namun adanya lontaran bahwa dengan bersekolah, para remaja itu bisa bertemu dengan teman-temannya hal ini menunjukkan adanya kebutuhan sosial yang tak cukup terpenuhi. Belajar di sekolah menjadi pemenuhan kebutuhan siswa untuk bersosialisasi bersama teman temannya.

Sisi baik dari proses e-tutorial ini adalah para guru dan siswa memiliki penguasaan ICT yang semakin baik dalam hal proses belajar mengajar melalui sistem pembelajaran daring. Sistem belajar daring juga meniadakan batas waktu interaksi antara guru dan siswa dan hal ini akan semakin mengintensifkan komunikasi antar keduanya. Menurut Ridwan Sanjaya (2020), pemanfaatan metode gamifikasi dalam pembelajaran juga menjadi penting dan dibutuhkan untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik.

Namun adanya belajar dari rumah memberikan dampak positif yakni kemandirian cara belajar siswa. Dengan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) ini diharapkan proes siswa dalam memahami suatu materi menjadi lebih mendalam karena adanya proses belajar dari pengalaman (learning by doing) dengan melibatkan proses berpikir siswa untuk mengkoding informasi (encoding), menyimpan dalam ingatan dan proses memanggil kembali dari ingatan secara lebih intens dibanding proses belajar dengan cara mendengar dan mencatat. Walaupun ada berkah tersamar dari adanya wabah Covid-19 ini, kita tetap berharap semoga wabah ini segera berakhir.

►Tribun Jateng 19 Juni 2020 hal. 2

Kategori: ,