Investasi Gizi di Masa Pandemi
Sabtu, 20 Juni 2020 | 11:47 WIB

 

Oleh Dr.Ir.Ch. Retnaningsih, MP, Dosen Program Nutrisi dan Teknologi Kuliner Program Studi Teknologi Pangan, Unika Soegijapanata Semarang

PandemiCorona (Covid-19)telah memporakporandakan perekonomian sebagian besar keluarga-keluarga di Indonesia. Yang paling rentan terserang adalah mereka yang hidupnya tergantung dari penghasilan harian, serta mereka yang tabungannya tipis, atau bahkan tak punya.

Sebagai pihak yang lama bergelut di bidang pangan dan gizi, pertanyaan yang mengemuka di benak penulis adalah sampai seberapa dalam pandemi ini menurunkan asupan gizi –kuantitas maupun kualitas— bagi keluarga-keluarga?

Di dalam suatu keluarga, ada anggota-anggota yang termasuk dalam kelompok “rawan gizi”, yakni anak usia di bawah lima tahun (balita), ibu hamil dan menyusui. Kecukupan gizi bagi mereka harus diupayakan secara serius, karena jika tidak, risikonya sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi mendatang. Bagi kelompok itu, kecukupan gizi ibarat “investasi” bagi generasi baru, yang hasilnya bisa dilihat beberapa tahun ke depan.

Menurutdata dariProfil Anak Indonesia 2019,jumlah balita di Indonesia sebanyak 21,9 jutajiwa. Jumlah itu setara dengan27,6% dari totaljumlah anak (usia0-17tahun) yang mencapai79,5 jutajiwa. Mereka akan menjadi generasi masa depan. Gizi yang cukup dan seimbangbagi balita bisa menjadi fondasi awal untuk pertumbuhan dan kesehatan di usia selanjutnya karena juga terkait dengan imunitasnya.

Pentingnya Pengetahuan Gizi

Usia balitasering disebut sebagai “golden age”.Kerawanan gizi pada kelompok ini tak bisa direhabilitasi. Untuk itu,gizi seimbangpada usia balita inimutlak diberikan, mencakup kecukupanprotein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral agar pertumbuhan fisik, mental dan kecerdasan anak optimal.

Salah satu indikator kekurangangizi pada balita,khususnya dalam 1000 hari kehidupannya, adalahpertumbuhan balita terhambat sehingga tubuhnya menjadi pendek dibandingkan dengan usianya atau dikenal dengan “stunting”.Gangguan tidak hanya terjadi di aspek fisik. Kecerdasannya pun terganggu.

Pada usia bayi 0 – 6 bulan,air susu ibu (ASI) menjadi makanan utamanya.Secara umum ASI memiliki sejumlah keunggulan dibanding susu formula. ASI yang pertama kali keluar, yakni kolustrum, yang berwarna agak kekuningan, merupakan zat gizi yang sangat penting, untuk membentuk antibodi anak, yang berguna membangun kekebalan tubuh.

Selain itu, ASI jugakayaakansenyawa prebiotik (oligosakarida) yang menjadi sumber makanan untuk bakteri baik yang ada di perut bayi,sehingga proses pencernaan bayi lancar dan tidak mudah terinfeksi oleh virus.Di dalam ASI juga banyak terkandung asam lemak penting yang sering disebut dengan DHA (asam dokosaheksanoat) dan EPA (asam eikosapentanoat) yang sangat baik untuk perkembangan kecerdasan bayi.

Makanan tambahan baru diberikan setelah bayi berusia lebih dari 6 bulan. Kebutuhankalori meningkat, sejalan dengan berkembangnya usia. Namun demikian, pada saat ada asupan makanan tambahan,pemberian ASI hendaknyatetap diberikanhingga anak berusia dua tahun. Makanan tambahan bayi bisa berupa nasi tim yang dihaluskan, dengan kandungan gizi yang seimbang.

Fasepemberian asupan tambahaninimerupakankesempatan orang tua untukberperan maksimal, dalammembuat makanan yang bergizi lengkapbagi sang buah hati. Sumber karbohidrat bisa didapat dari nasi atau umbi. sumber protein dari telur, daging, ikan, tahu dan tempe. Sumber vitamin dan mineral dari sayuran dan buah-buahan.

Apa yang dikonsumsi balita tergantungdaripemberian orang tuadan pendamping lainnya (pengasuh, nenek, saudara).Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kecukupan gizi balita diantaranya pengetahuan giziorang tua dan/ atau pendamping lain,kondisi sosial ekonomi keluarga, dukunganseluruh anggotakeluarga terhadap anak balitatersebut.

Pada keluarga-keluargayang kebetulan mengalami keterbatasan dalamhal ekonomi,pengetahuan gizi menjadi sangat penting. Seseorang dengan pengetahuan gizi yang baik akan memiliki pilihan yang lebih banyak dalam membelanjakan uangnya yang terbatas, dan dapat memberikan prioritas konsumsiuntukbalita.

Sebagai contoh,makanan sumber beta karoten (pro vitamin A) selain pada wortel juga terdapat pada sayur-sayuran hijau tua. Buah jambubijimemiliki kandungan vitamin C yang dua kali lebih banyak dibandingkan jeruk. Ikan dan telur merupakan makanan yang kaya akan protein dan mengandung asam lemak esensial linolenat yang sangat baik untuk tumbuh kembang balita

Kebutuhan Anak vs Orang Dewasa

Pertumbuhan anak balita sesungguhnya lebih pesat dibandingkan orang dewasa dan membutuhkan gizi yang lebih banyak per kg berat badannya. Sebagai contoh kebutuhan potein bayi adalah 2,2 g/kg berat badan (BB) sedangkan orang dewasa hanya membutuhkan 0,8 g/kg BB, namun kendala pada mereka adalah alat pencernaan yang belum berkembang sempurna.

Selain itu,juga jumlah giginya masih terbatas, belum tumbuh maksimal sehingga ada kesulitan dalam mengerat dan mengunyah makanan yang keras. Hal tersebut dapat menyulitkan dalam pemberian makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.

Makanan anak balita sedikit berbeda dari makanan orang tua. Misalnya dalam konsumsi lemak, asupan lemak pada balita diperlukan dalam jumlah lebih banyak dari makanan seperti minyak ikan, daging, susu full cream dan telur yang diperlukan untuk perkembangan otak.

Sedangkan untuk asupan serat tidak perlu terlalu banyak seperti halnya yang dikonsumsi orang dewasa (standar kebutuhan serat orang dewasa menurut WHO adalah 25 – 40 g per hari), karena serat dengan sifatnya yang tidak mudah dihidrolisis oleh enzim pencernaan serta mengikat air lebih banyak membuat asupan serat memberi rasa kenyang lebih lama. Hal itu akanberpengaruh padajumlah makanan yang dikonsumsi dan dikawatirkan kecukupan gizinya tidak terpenuhi.

Beberapa hal yang diperlukan untuk mencukupi gizi balita, antara lain :

https://jateng.tribunnews.com/2020/06/20/opini-investasi-gizi-di-masa-pandemi?page=all

Kategori: ,