Di Rumah Unika Serial ke-3, Bahas Tantangan dan Solusi Pandemi Covid-19 di Sektor Ekonomi, Perpajakan dan Investasi
Minggu, 7 Juni 2020 | 19:56 WIB

Kembali hadir sebuah forum diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata yang dilakukan secara serial dengan istilah Diskusi Rutin Bersama Hadapi Covid-19 oleh Unika (Di Rumah Unika) pada Kamis lalu (4/6) dengan menghadirkan beberapa pakar ilmu dari masing-masing program studi di bawah naungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unika Soegijapranata.

Acara yang berlangsung secara online di ruang virtual Unika Soegijapranata ini merupakan diskusi serial yang ke-3, dengan dipandu oleh seorang moderator dari dosen prodi akuntansi FEB Unika, yaitu Vena Purnamasari MSi, juga menghadirkan tiga narasumber yang mewakili masing-masing prodi di FEB Unika Soegijapranata.

Mereka adalah Dr Ika Rahutami dari prodi manajemen yang mengulas tentang “Ekonomi Rakyat Jalan Kebudayaan Paska Pagebluk”. Kemudian Paulina Rini Hastuti MSi yang memaparkan materi tentang “Stimulus Pajak & Geliat WP, Melawan Belenggu Corona” dari prodi Perpajakan. Serta yang ketiga adalah Dr Elizabeth Lucky Maretha Sitinjak dari prodi akuntansi yang membidik topik tentang “Perilaku Investor Pasar Modal Masa Pandemi Covid-19.”

Hadir pula untuk memberi dukungan dalam acara virtual ini, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP serta Kepala BAPPEDA Jateng Dr Prasetyo Aribowo SH MSoc SC, serta Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC.

Dalam pesannya Dr Berta Bekti Retnawati selaku Kepala LPPM Unika Soegijapranata juga mengingatkan perlunya sinergitas antara akademisi dengan pemerintah, dalam mencari solusi-solusi terbaik di berbagai bidang terutama dalam menjawab tantangan dalam masa pandemi covid-19.

“Sebagai lembaga institusi perguruan tinggi di Jawa Tengah, Unika Soegijapranata sesuai dengan tagline ‘Talenta Pro Patria et Humanitate’, harus mampu memberikan kontribusi sebagai bagian dari modal pendidikan yang kami miliki dan memberikan manfaat bagi negeri,” ucapnya.

Sedang para narasumber dalam paparan mereka, tampak memberikan wacana dan wawasan baru terkait bidang masing-masing yang berhubungan dengan covid-19 dan dampaknya serta memberikan langkah-langkah alternatif atau solusi yang bisa ditempuh bersama dengan pemerintah. Seperti halnya yang dipaparkan oleh salah satu narasumber Dr Ika Rahutami.

“Covid-19 ternyata memiliki efek ekonomi yang sangat besar. Karena covid-19 membawa dampak pada supply and demand shock secara bersamaan. Sehingga membawa dampak yang cukup berat baik dari sektor formal maupun sektor informal,” jelas Ika Rahutami.

Maka pemerintah diharapkan dapat melakukan langkah-langkah yang tampaknya sudah dilakukan yaitu (1) kebijakan yang cepat (decisive), (2) kebijakan yang didukung scientific thinking yang komprehensif, (3) edukasi dan komunikasi yang efektif, lanjutnya.

Paket ekonomi penanganan covid-19 di Indonesia adalah 5,4 % dari PDB, hal tersebut karena negara kita tidak memiliki dana yang cukup. Hal tersebut karena salah satu penyebabnya adalah sektor perpajakan dalam masa pandemi covid ini tidak banyak pemasukan.

Rini Hastuti dari prodi perpajakan, dalam paparan materinya, merespon apa yang disampaikan oleh Ika Rahutami.

“80% pendapatan negara itu dari sektor pajak. Dan berdasarkan informasi dari pemerintah, hasil pelaporan SPT tahun 2020 turun sebesar 9,43% untuk semua jenis SPT, dari SPT tahun 2019 sebesar 12,11 juta turun menjadi 10,97 juta di tahun 2020,” ungkap Rini.

Selain itu sektor usaha yang akan terdampak oleh covid-19 baik dari sisi operasional maupun volume produksi antara lain adalah jasa wedding, jasa transportasi, jasa keuangan, jasa pendidikan/kursus, manufaktur non makanan dan jasa otomotif.

Sedang yang sedikit atau tidak terpengaruh covid-19 antara lain sektor usaha industri pengolahan makanan, jasa konsultan, pertambangan dan SDA, perdagangan eceran maupun grosir, urainya.

Dari apa yang dipaparkan oleh narasumber sebelumnya, Elizabeth Lucky Maretha juga menambahkan bahwa jika dilihat dari peluang investasi maka saat seperti ini adalah momen yang baik untuk investasi.

“Perilaku investor itu ada dua jenis, yaitu perilaku investor individu dan investor institusi. Sedangkan dari perilaku individu kita bisa bedakan menjadi 2(dua) yaitu perilaku individu rasional dan perilaku individu irrasional,” paparnya.

Dan posisi kita saat dalam berinvestasi saat ini adalah masuk pada masa hope (harapan) artinya para investor memiliki kesamaan dalam menyikapi informasi sehingga dengan adanya new normal akan menjadikan investasi pada kondisi hope, lanjutnya.

Pada sesi akhir, ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati yaitu (1) dalam masa new normal maka pemerintah dan masyarakat harus bisa bersama dan bekerja sama (2) harapannya dengan new normal, yang akan semakin menguat dan bertumbuh adalah adanya kemandirian ekonomi dan kebersamaan dalam mewujudkan kemakmuran yang adil dan merata (3) sifat sosial lebih kuat daripada individualis dan kapitalis. (FAS)

Kategori: ,