Ruang Rabu Unika Soegijapranata Diskusi Belajar Penanganan Virus Corona dari Vietnam
Jumat, 8 Mei 2020 | 9:25 WIB

image

Forum Diskusi Ruang Rabu Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijapranata selenggarakan diskusi dengan tema Belajar dari VietnamCovid-19 Response, Rabu (6/5/2020).

Diskusi yang rutin digelar dengan tema-tema tertentu itu dipandu oleh Ketua Program Studi PMLP, Donny Danardono dan sebagai pembicara yakni Regional Director of Asia of The World Mosquito Program yang saat ini sedang bertugas di Vietnam, Dr Claudia Surjadjaja.

Diskusi Ruang Rabu PMLP ini biasanya diselenggarakan secara tatap muka, namun karena pandemi corona ini diselenggarakan secara online.

Donny Danardono menyampaikan, Vietnam merupakan salah satu negara yang berhasil keluar dari wabah covid-19 pada akhir April lalu.

"Karena itu menarik untuk mengetahui strategi pemerintah dan masyarakat Vietnam dalam menghadapi pandemi virus covid-19 di negara mereka,” ucap dosen yang akrab dipanggil Donny itu.

Dia menyampaikan, Vietnam merupakan negara yang berbatasan langsung dengan China dan berpenduduk sekitar 96 juta.

Padahal, Kota Wuhan sebagai sumber wabah yang pertama kali juga dekat dengan Vietnam.

"Perlu kita ketahui juga, Vietnam adalah bekas negara komunis dengan sistem pemerintahannya adalah sentralistik dan semi otoriter.

Tetapi perekonomiannya sudah liberal.

Demikian juga masyarakatnya, karena bekas negara komunis, maka tingkat kepatuhannya kepada pemerintah masih tinggi," ungkapnya.
Dia berharap, forum diskusi Ruang Rabu ini memberikan sumbangan yang positif bagi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah.

Bagi seluruh warga Indonesia pada umumnya, maupun warga Semarang pada khususnya mengenai strategi menghadapi pandemi covid-19.

Dr Claudia menyampaikan beberapa hal yang perlu diketahui terkait penanganan pemerintah Vietnam dan perilaku warganegara terhadap pandemi covid-19.

“Di Vietnam hanya ada satu partai, dan belum tentu jika negara sosialis pasti rakyatnya selalu patuh.

Tapi jika di lihat di Indonesia kita adalah negara kepulauan, sehingga mungkin karena kondisi tersebut perlu menggunakan pendekatan yang lain,” jelasnya.

Dia menuturkan, Indonesia juga memiliki berbagai macam suku dan kultur yang berbeda-beda, sehingga mungkin akan lebih sulit untuk penanganannya.

Namun demikian ada beberapa hal yang menarik jika berbicara tentang masa pemulihan pascapandemi covid-19.

“Ada suatu istilah yang muncul yaitu The New Normal, artinya akan ada kebiasaan-kebiasaan baru sebagai dampak pandemi covid-19.

Hal itu antara lain adalah kebiasaan sanitasi, ekonomi, religius, dan sebagainya," ungkapnya.

Dia memastikan, akan ada perubahan pada masa setelah covid-19, yang tentu masing-masing negara pola perubahannya akan berbeda-beda.

Perubahan itu, bergantung lama atau tidaknya lockdown itu dilakukan dan seberapa besar dampaknya.

"Ada beberapa hal yang layak kita contoh terkait penanggulangan pandemi covid-19 di Vietnam, yaitu antara lain adalah perlu tindakan tegas oleh pemerintah dan menyatakan covid-19 sebagai ancaman utama dan memutuskan kesehatan di atas pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.

Dia menuturkan, respon awal yang harus dilakukan dengan adanya kasus pertama positif adalah dilaporkan dalam pengendalian kesehatan.

"Harus ada deklarasi kesehatan dan karantina, fokus pada pencegahan, informasi yang efektif, informasi sumber tunggal, dan meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku," tegasnya.

Pemerintah harus pula melakukan pengujian yang ditargetkan, meningkatkan produksi perangkat uji-diagnostik, meningkatkan kapasitas lab untuk melakukan RT-PCR.

"Untuk itu, sering juga memperbarui SOP pengobatan.

Diperlukan juga dukungan sektor swasta terhadap sistem kesehatan dan kepatuhan publik," ucapnya.

https://jateng.tribunnews.com/2020/05/06/ruang-rabu-unika-soegijapranata-diskusi-belajar-penanganan-virus-corona-dari-vietnam?page=all.

Kategori: