Puasa Sehari Melawan Pandemi
Kamis, 14 Mei 2020 | 10:46 WIB

TRB 14_05_2020 Puasa Sehari Melawan Pandemi

Oleh: Aloys Budi Purnomo, Rohaniawan, Kepala Kampus Ministry, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata

HINGGA pekan kedua Mei 2020, pandemi virus-corona (Covid-19) yang melanda dunia tak juga kunjung berakhir, termasuk di negeri kita. Merespons keadaan ini, Paus Fransiskus menyerukan dan mengajak semua orang, apa pun agama dan kepercayaannya, menjalankan puasa sehari untuk melawan pandemi Covid-19. Puasa sehari dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2020.

Inisiatif itu disambut baik Imam Besar Al Azhar Mesir di Kairo, Ahmad Al Tayeb, didukung Putra Mahkota Abdu Dhabi, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Turut menyambut baik adalah Presiden Lebanon Michel Aoun, Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartolomew, Sekretaris-Jenderal PBB Antonio Guteres.Tak ketinggalan pula Presiden Jokowi di Indonesia.

Sebagaimana dirilis Vatican News (2/5), seruan Paus Fransiskus disampaikan oleh Komite Tinggi Persaudaraari Manusia, sambil mengakui peran sains dalam memerangi penyakit ini. Alasan mendasar di balik seruan itu adalah kesadaran bahwa kita tidak boleh lupa untuk berlindung pada Tuhan, Sang Pencipta, di saat kita menghadapi krisis yang sangat parah. Komite Tinggi Persaudaraan Manusia dibentuk untuk mempromosikan dokumen tentang Persaudaraan Manusia yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmad Al Tayeb di Abu Dhabi Februari 2019 yang lalu.

Selain berdoa sesuai ajaran iman, agama, atau sekte masing-masing untuk memohon kepada Tuhan agar mengangkat pandemi ini dari kita dan seluruh dunia demi keselamatan kita semua dari kesulitan ini, kita juga memohon kepada Tuhan untuk menginspirasi para  ilmuwan agar menemukan obat terbaik untuk menyembuhkan penyakit ini. Kita mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar melindungi seluruh dunia, membantu kita mengatasi pandemi ini, sehingga keamanan, stabilitas, kesehatan, dan kesejahteraan dipulihkan. Harapan selanjutnya , dengan berakhirnya pandemi ini, dunia kita akan menjadi tempat yang lebih baik untuk kemanusiaan dan persaudaraan dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.

Tradisi semua
Puasa adalah tradisi semua agama, kepercayaan, dan kebudayaan. Saat ini, Umat Islam di seluruh dunia juga sedang menjalankan Ibadah Puasa selama bulan suci Ramadhan. Sebelumnya, Umat Katolik di seluruh dunia juga menjalani ibadah puasa selama Masa Prapaskah hingga Paskah. Di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dalam tiga tahun terakhir ini dilaksanakan tradisi yang baik, kecuali di masa pandemi ini. Dalam salah satu hari di bulan Ramadhan, pengurus MAJT mengundang para tokoh lintas agama untuk mengadakan buka bersama di ruang VIP MAJT. Pada kesempatan itu, Ketua Dewan Pelaksana Pengelola MAJT, Prof. Dr. H. Noor Achmad, MA., mempersilakan perwakilan dari agama-agama untuk mensharingkan pengalaman tentang puasa sesuai tradisi agamanya. Biasanya, Prof Noor mengundang saya untuk mewakili dari unsur Katolik.

Semua tradisi keagamaan, kepercayaan, dan kebudayaan menjunjung tinggi ibadah puasa sesuai dengan ajarannya masing-masing. Agama Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Penghayat Kepercayaan pun mengajarkan kepada pengikutnya untuk berpuasa. Para leluhur dalam tradisi dan kebudayaan Jawa, misalnya, mengenal puasa mutih, ngrowot, ngebleng, atau puasa Senen Kamis.

Puasa tidak hanya soal mengurangi makan dan minum, melainkan mengendalikan diri, sikap, tutur kata, pikiran dan hati agar semakin terarah kepada Allah, Sang Pencipta. Dengan semakin terarah kepada Allah, maka hidup kita juga menjadi berkat bagi sesama dan semesta alam. Maka, puasa dalam tradisi semua agama, kepercayaan, dan kebudayaan mengajarkan kepada kita tentang keilahian, kemanusiaan, dan kesemestaan.

Ungkapan pertobatan
Puasa juga menjadi ungkapan pertobatan personal, sosial, bahkan ekologal. Bertobat berarti mengubah kehidupan dari yang buruk menjadi baik, yang benci menjadi cinta, dari sikap bermusuhan menjadi bersahabat dengan sesama dan semesta. Pertobatan personal membuat masing-masing pribadi semakin tangguh dan teguh dalam iman sesuai agama dan kepercayaannya. Pertobatan sosial membuat kita semakin peka kepada kebutuhan sesama melalui solidaritas dan bela rasa. Pertobatan ekologal menyadarkan kita bahwa menjaga semesta dan merawat Bumi sebagai rumah bersama adalah tanggung jawab kita, baik pribadi maupun bersama.

Khusus untuk yang terakhir ini, semua agama dan kepercayaan mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan. Merusak alam, mengeruk isi Bumi untuk kepentingan sesaat dan merugikan generasi mendatang merupakan dosa ekologis yang harus dilawan dengan pertobatan ekologal.

Selamat melanjutkan Ibadah Puasa di Bulan Suci Ramadhan kepada para Sahabatku, Umat Islam. Selamat menjalankan Ibadah Puasa Sehari demi kemanusiaan, keutuhan ciptaan, dan kelestarian lingkungan kepada siapa saja yang mau menjalankannya. Semoga pandemi segera berlalu, dan kita kembali bersaudara dengan sesama dan semesta.

►Tribun Jateng 14 Mei 2020 hal. 2

Kategori: ,