Pengelolaan Keuangan di Tengah Ketidakpastian
Rabu, 13 Mei 2020 | 9:09 WIB

TRB 13_05_2020 Pengelolaan Keuangan di Tengah Ketidakpastian

Oleh: Dr. Theresia Dwi Hastuti, SE., MSi.Akt, CPA, CA, Dosen Prodi Akuntansi Unika Soegijapranata

Di tengah ketidakpastian seperti saat ini, perusahaan menghadapi, tantangan yang tidak mudah dalam hal pengelolaan keuangan. Padahal pengelolaan keuangan dibutuhkan oleh setiap perusahaan untuk memaksimalkan bisnisnya. Perencanaan yang telah dibuat sebelum wabah Covid-19 tidak semuanya bisa dijalankan dengan baik, sehingga dibutuhkan pengambilan keputusan yang tepat untuk memperketat anggaran dan mempertahankan sumber-sumber penerimaan.

Tantangan lainnya, perusahaan harus tetap memegang prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang baik dan benar meskipun ada banyak konsekuensi yang harus dihadapi. Kepentingan stakeholder, pemerintah, dan masyarakat diharuskan untuk tetap dijaga meskipun ini memunculkan konflik kepentingan. Bagaimana berbagai kepentingan tersebut bisa terjaga dan janji kepada konsumen tetap terjamin?

Kepercayaan publik merupakan hal yang harus dipertanggungjawabkan oleh perusahaan dengan tetap menjaga kualitas barang/jasa untuk pelanggannya. Namun ada kepentingan pegawai yang harus tetap dijaga kesejahteraannya serta berbagai kemungkinan pengeluaran yang tetap harus didanai. Padahal, shareholdertentu masih mengharapkan target minimalnya dapat terpenuhi meskipun kondisi ketidakpastian yang tinggi sedang terjadi. Pendapatan perusahaan akan sangat berfluktuasi dan sulit untuk dikendalikan agar tidak menurun.

Akuntabilitas dan Integritas
Akuntabilitas pengelolaan keuangan merupakan tahapan, pertama yang harus diurus. Sebab akuntanbilitas merupakan kewajiban dasar secara moral dan hukum yang melekat dalam individu untuk bisa dipercaya mengelola dana dan menggunakan kewenangan secara bertangungjawab kepada pihak yang berkepentingan. Diperlukan adanya pemisahan fungsi antara pengelolaan operasional, penyimpanan, dan pencatatan, sehingga ada saling kontrol. Fungsi kontrol ini dapat diperkuat dengan adanya audit secara rutin.

Berbicara mengenai akuntabilitas, tentunya tidak dapat dilepaskan dari integritas. Integritas ditandai oleh satunya kata dan perbuatan. Pimpinan yang berintegritas dipercaya karena yang menjadi ucapannya juga menjadi tindakannya.

Dalam masa sulit yang mengandung ketidakpastian, setiap saat bisa saja terjadi perubahan dan nilai integritas menjadi poin utama. Integritas akan membawa orang tetap setia kepada organisasi, memberikan energi yang dimiliki untuk membawa organisasi keluar dan berbagai kesulitan. Orang yang memiliki integritas lebih menyukai proses yang benar untuk menghasilkan sesuatu yang benar.

Agar bisa melihat kecenderungan integritas setiap individu di dalam organisasi, ada baiknya mempelajari konsep teori agensi yang disampaikan oleh Eisenhard (1989). Teori agensi ini memunculkan tiga asumsi, yaitu asumsi sifat manusia, asumsi keorganisasian, dan asumsi informasi.

Asumsi sifat manusia menekankan pada sifat manusia yang mementingkan diri sendiri, memiliki keterbatasan rasionalitas dan tidak menyukai resiko. Sedangkan asumsi keorganisasian menekankan adanya konflik antar anggota organisasi. Sedangkan asumsi informasi menekankan pada informasi sebagai barang komoditi yang bisa diperjualbelikan.

Individu yang bertindak memaksimalkan kepentingan sendiri akan bertentangan dengan tujuan organisasi. Bagaimana manajemen menyikapi perbedaan kepentingan? Dibutuhkan kekuatan prinsip di dalam dirinya dan kesanggupan untuk menghadapi berbagai benturan kepentingan.

Manajemen Risiko
Kondisi sulit dan penuh ketidakpastian mengharuskan pengelola keuangan mengambil langkah konstruktif yaitu penguatan manajemen risiko perusahaan. Dalam pengelolaan risiko perusahaan terutama di masa ketidakpastian yang tinggi, top manajemen dituntut untuk mampu mengkoordinasikan strategi dan 5 fungsi manjemen dengan baik.

Game Theory yang disampaikan oleh John Nash (2019) membahas mengenai perilaku pengambil keputusan (player) yang keputusannya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keputusan Player lain. Game theory merupakan model dari dua pemain atau lebih yang saling berinteraksi karena adanya ketidakpastian dan informasi asimetris. Masing-masing individu berusaha memaksimalkan potensi yang mereka miliki untuk memecahkan masalah mereka.

Game theory dapat membantu mereka memahami bagaimana manajer, investor dan lainnya yang dipengaruhi oleh konsekuensi ekonomi dan pelaporan keuangan. Dalam game theory ini, seorang pemain selain memperhitungkan ketidakpastian situasi yang akan terjadi juga akan memperhitungkan tindakan yang dilakukan oleh pemain lainnya.

Tindakan yang diambil bisa bersifat non-kooperatif maupun kooperatif. Non-kooperatif adalah situasi dimana dua pemain saling memperhitungkan kemungkinan perilaku satu sama lain sambil masing-masing menetapkan harganya. Sedangkan kooperatif adalah kondisi dimana para pemain dapat menegosiasikan kontrak yang mengikat yang memungkinkan mereka merencanakan strategi bersama.

Manajemen yang unggul dalam mengatasi kondisi ketidakpastian akan menempatkan tatanan nilai pengelolaan yang baik, memiliki team yang °solid, tetap menjaga akuntabilitas dan integritas, serta mampu mengambil strategi pengelolaan risiko yang tepat dengan melihat berbagai peluang pengembangan. Selain itu, mereka dapat terus memotivasi timnya dan menciptakan keadaan yang kondusif, sehingga kondisi yang sulit bisa diatasi bersama dan efek negatif yang ditimbulkannya dapat dicegah.

►Tribun Jateng 13 Mei 2020 hal. 2

https://jateng.tribunnews.com/2020/05/13/opini-theresia-dwi-hastuti-pengelolaan-keuangan-di-tengah-ketidakpastian

Kategori: , ,