Menyambut Buah Hati di Masa Covid-19
Senin, 4 Mei 2020 | 9:44 WIB

SM 3_05_2020 Menyambut Buah hati di Masa Covid

Oleh: dr Indra Adi Susianto MSi Med SpOG, Dekan Fakultas Kedokteran UNIKA Soegijapranata dan Dokter Kandungan

Di saat pandemi Covid-19 ini, tidak hanya pemerintah yang sibuk dengan berbagai macam kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat . Garda terdepan yaitu tenaga kesehatan juga merapatkan barisan agar tidak tertular virus korona di saat membantu pasien.

Data pada April disebutkan bahwa 2.178.848 kasus positif Covid-19 di seluruh dunia dengan 546.743 dinyatakan sembuh. Tetapi mortality rate yang 6,6% masih dianggap tinggi, sehingga masih diperlukan upaya-upaya demi mencegah penularan.

Saat ini ada banyak imbauan untuk para pasien untuk hanya memeriksakan diri ke dokter apabila ada hal yang gawat. Hal ini merupakan salah satu cara yang dianjurkan oleh Ikatan Dokter Indonesia untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Salah satu keadaan yang mengharuskan periksa secara rutin adalah kehamilan, di mana dokter akan menyarankan pemeriksaan kehamilan rutin satu kali setiap bulan atau bahkan satu minggu sekali di saat mendekati perkiraan hari lahir.

Namun di tengah badai Covid-19, dokter punya kekhawatiran tertular Covid-19 oleh pasien yang memeriksakan diri, terutama ketika pasien tidak jujur bercerita mobilitasnya sebelum periksa. Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia(POGI) sebagai organisasi yang menghimpun para dokter kandungan di Indonesia kini fokus pada pencegahan serta pemutusan rantai penularan pada ibu, bayi, dan tenaga kesehatan selama masa kehamilan ataupun proses melahirkan dan menyusui.

Beberapa program penapisan terhadap setiap ibu hamil menggunakan Early Warning System (EWS) Covid-19 yang mengombinasikan berbagai faktor anamnesis, seperti riwayat kontak, umur, jenis kelamin, riwayat demam, keluhan (terkait pernapasan), pemeriksaan fisik (suhu tubuh), dan pemeriksaan laboratorium darah tepi serta gambaran pneumonia pada foto rontgen.

Pembatasan pemeriksaan selama kehamilan juga dilakukan demi memutus rantai penularan, di mana pada usia kehamilan satu sampai tiga bulan cukup dilakukan satu kali pelayanan kesehatan ibu hamil dengan disertai pemeriksaan darah dasar. Apabila ada kecurigaan kehamilan di luar rahim maka bisa lakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang sesuai dengan standar nasional. Sementara kehamilan bulan ke-4 sampai ke-8 cukup dilakukan konsultasi secara video conference (vicon) kecuali ada kondisi gawat darurat seperti mual-muntah hebat, perdarahan banyak, gerakan janin berkurang, ketuban pecah, nyeri kepala hebat, tekanan darah tinggi, kontraksi berulang, dan kejang.

Setelah masuk ke usia kandungan sembilan bulan, maka wajib memeriksakan diri ke dokter untuk mempersiapkan cara persalinan yang terbaik dan teraman, baik untuk pasien maupun tenaga medis di fasilitas kesehatan yang siap untuk menangani persalinan.

OTG pada Ibu Hamil
Munculnya orang tanpa gejala (OTG) yang menjadi penyebab orang lain tertular Covid-19, menimbulkan pertanyaan bagi dokter kandungan ketika menangani ibu hamil. Fasilitas kesehatan yang baik akan mempersiapkan kemungkinan tersebut demi proses persalinan yang aman. Fasilitas yang aman ini bertujuan untuk menurunkan risiko penularan tenaga medis serta mencegah angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) ibu, mengingat 13,7% pasien hamil bisa datang tanpa gejala atau orangtanpa gejala (OTG). Dengan demikian, tenaga medis harus mempersiapkan diri dengan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI)dan Royal Collage of Obstetric& Gynecologist.

Persalinan harus dilakukan di ruangan steril dengan disertai delivery chamber yang diletakan di sisi pasien. Selain itu, tindakan bedah sesar dilakukan di ruangan operasi khusus bertekanan negatif, baik persalinan normal maupun operasi harus ditangani olehtim medis yang menggunakan APD level 3 (terbaik).

Sesuatu yang menggembirakan adalah sudah ada penelitian yang dilakukan oleh suatu rumah sakit di Wuhan terhadap tiga ibu yang mengalami gejala terinfeksi Covid-19. Setelah proses kelahiran, ternyata bayi tidak terpapar oleh virus atau tidak ada penularan dari ibu ke bayi di dalam kandungan. Maka sesuai kesepakatan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi yang lahir dari ibu yang OTG, ODP, PDP bahkan positif Covid-19 sekalipun dapat menyusui, dengan catatan ibu dan bayi menggunakan APD berupa face shield (penutup wajah) dan masker N-95, sedangkan bayi menggunakan face shield khusus. Namun bayi yang baru dilahirkan tidak diperkenankan untuk rawat gabung, sehingga dia akan dirawat oleh tim medis di ruang isolasi.

Suara Merdeka 3 Mei 2020 hal. 13

Kategori: ,