Makna Ndelalah Kersaning Allah
Rabu, 13 Mei 2020 | 15:23 WIB

Solopos 13_05_2020 Makna Ndelalah Kersaning Allah

Oleh: Aloys Budl Purnomo Pr. , Rohaniwan Budayawan interreligius

Hari Kamis,14 Mei 2020, bersamaan dengan umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa pada bulan suci Ramadan, Paus Fransiskus-pemimpin tertinggi dan pelayan terendah segala hamba (servus servorun)-mengajak seluruh umat manusia di seluruh dunia menjalankan puasa sehari.

Tujuannya untuk membangun sikap ugahari dalam melawan pandemi Covid-19 sambil berserah kepada Allah. Kita boleh percaya, dengan sikap ugahari dan penyerahan diri, wabah bisa musnah. Lebih penting dari semua itu, kita pun semakin berjiwa solider, dipenuhi bela rasa kepada sesama dan semesta.

ltulah inti pesan Paus Fransiskus. Sahabatnya, yakni Imam Besar Al Azhar Ahmad Al Tayeb dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, mendukung inisiatif ini.

Tidak ketinggalan Presiden Lebanon Michel Aoun, Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartolomew, dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guteres. Termasuk pula Presiden Joko Widodo.

Pandemi Covid-19 memang sedang menggila. Siapa saja bisa menjadi sasarannya. Dunia tercekam olehnya, termasuk kita. Bahkan, segala daya upaya untuk mencegah belum juga mampu menghentikan laju persebarannya sebab semuanya juga terutama tergantung diri kita sendiri.

Eling Ian Waspada
Dalam keadaan ini, seruan Paus Fransiskus agar semua orang menjalankan puasa sehari bisa direnungkan dalam perspektif kearifan Raden Ngabehi Ranggawasita. Merenungkan seruan itu, saya teringat refleksi adiluhung Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha.

Dalani bait ke-7, sang pujangga Jawa ini memperingatkan orang-orang pada zamannya, dan peringatan itu masih sangat relevan-signifikan untuk kita saat ini. Beginilah. Ranggawarsita berpesan. Amenangi jaman edan; Ewuh aya ing parnbudi; Melu edan nora tahan; Yen tan melu angIakoni; Boya kaduman melik; Kaliren wekasanipun; Ndilalah karsaning Allah; Begja-begjane kang Luwih begja kang eling lawan waspada!" (Serat Kalatidha pupuh kapitu/ bait ke-7).

Pesan ini sudah sangat terkenal, masih terus diingat sampai sekarang. Kita semua tahu arti dan maknanya. Pesan Ranggawarsita: mengalami hidup pada zaman gila memang serba repot, mau ikut menggila hati tak sampai, kalau tidak mengikuti tidak kebagian apa-apa, akhirnya malah kelaparan.

Namun, sudah menjadi kehendak Allah, bagaimanapun, sebahagia-bahagianya orang lupa dan gila-gilaan, masih bahagia orang yang ingat dan waspada! Wabah virus corona tipe baru ini memang sudah bikin semua orang nyaris gila, tak hanya kehilangan kesabaran tetapi juga kewaspadaan.

Yang terdampak secara langsung terinfeksi virus ini memang tidak sebanyak yang masih sehat, namun, jangan lengah bila kita tidak eling Ian waspada, virus itu bisa tiba-tiba menyerang dan menggerogoti kita. Nyawa bisa hilang melayang sia-sia, meski hidup dan mati adalah kehendak-Nya.

Syukurlah, pesan Ranggawarsita masih bisa menjadi inspirasi kita. Anggap saja ini adalah zaman edan di tengah pandemi. Pada zaman ini, baiklah kita tetap eling Ian waspada, jangan lengah apalalagi gundah. Sikap eling Ian waspada inilah yang akan membuat kita tetap bahagia meski sedang berjuang di tengah derita.

Ndilalah karsaning Allah; begja-begjane kang tali; luwih begja kang eling lan waspada. Adalah kehendak Allah, seberuntung yang lupa, masih lebih bahagia yang tetap ingat dan waspada. Ungkapan ndilalah kersaning Allah perlu digarisbawahi, terutama pada kata ndilalah.

Menurut hemat saya,  ndilalah itu sebuah jarwa dosok alias singkatan penuh makna, namun juga pesan peringatan kearifan. Misalnya, tebu bermakna antebing kalbu. Sebuah tekad yang kuat. Jarwa dosok prokem bisa dipakai untuk "gelas", yen tugel ora bisa dilas.

Kalau gelas yang terbuat dari kaca itu patah dan pecah, tak mungkin kita bisa menyambungnya lagi dengan cara mengelasnya. Ndilalah pun sebuah pesan dalam jarwa dosok itu. Sebetulnya. kata yang tepat menurut saya yang dimaksudkan oleh Ranggawarsita-adalah ndelalah.

lnilah jarwa dosok-nya: ndelalah itu sama dengan ngandel marang Allah. Orang yang percaya kepada Allah, pastilah juga selalu mengandalkan kekuatan-Nya. ltulah sebabnya, Ranggawarsita menuliskan pesannya: Ndilalah karsaning Allah.

Artinya, orang yang mau mengandalkan Allah berarti pula percaya (ngandel) kepada kehendak Allah (kersaning Allah). Ketika kita mau mengandalkan kehendak Allah (fiat voluntas Tua-terjadilah padaku menurut kehendak-Mu), kita akan diperhitungkan sebagai orang yang bahagia karena tetap eling lan waspada, bukan sekadar untung karena tidak buntung, alias sabegja-begjane kang lali luwih begja kang eling lawan waspada.

Baglan dari lkhtlar
Karenanya, tidak seperti yang sering diungkapkan kebanyakan orang saat mengatakan ndilalah karsaning Allah itu seakan-akan yang serba kebetulan! Oh, tidak! Tilak ada yang kebetulan seakan-akan semuanya tidak sengaja dan terjadi tiba-tiba.

Ndilalah karsaning Allah itu suatu ungkapan iman, harapan, dan setiap orang yang berserah kepada dan mengandalkan kehendak Allah, apa pun agama dan kepercayaan kita. Dalam arti ini, ajakan dan seruan puasa sehari yang disampaikan Paus Fransiskus juga bukan kebetulan.

ltu adalah bagian dari ikhtiar kita dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang laksana siluman, tiba-tiba bisa menyerang dan mematikan kita. Bahkan, tak pandang bulu, orang-orang sebaik semulia para dokter dan perawat yang dengan setia pengorbanan dan keikhlasan mendedikasikan hidup mereka untuk melayani para korban virus ini pun bisa menjadi sasaran.

ltulah sebabnya, dalam puasa sehari ini, kita pun diajak untuk berdoa bagi para dokter, perawat, dan ilmuwan yang telah berusaha melayani para korban pandemi bahkan dengan menpertaruhkan jiwa dan raga, agar mereka semua di berkati Tuhan.

Para dokter dan ilmuwan, terutama, dapat menemukan obat terbaik untuk melawan virus corona ini yang bisa datang setiap saat di kala kita lengah (tidak eling Ian waspada). Mari, kita upayakan yang terbaik untuk mengandalkan kehendak Allah, ndilalah karsaning Allah, melalui doa dan puasa kita, bangsa dan dunia ini segera terbebaskan dari pandemi ini.

Dan lebih dari itu, akar penyebab pandemi, yang tak terhindarkan juga akibat krisis ekologi yang menjadi sumber penyakit baru di bumi ini, harus pula diatasi dan disembuhkan.

Artinya, berhentilah bersikap tamak dan serakah merusak alam semesta demi keuntungan sesaat dan merugikan generasi masa depan! Kalau pun pandemi Covid-19 berhenti, mari tetap eling Ian waspada, bahwa pandemi krisis ekologi akihat sikap tamak dan serakah mengeksploitasi alam semesta itu pun akan menjadi ancaman kehidupan yang tak kalah mengerikan dibandingkan dengan virus corona!

Mari kita benkhtiar untuk tetap berserah kepada Allah, Sang Pencipta, seraya membangun solidaritas dengan sesama dan alam semesta! Selamat melanjutkan ibadah puasa bagi para sahabatku umat Islam. Selamat berpuasa sehari bagi yang mau menjalankan.

►Solopos 13 Mei 2020 hal. 4

Kategori: ,