Apa Dampak Terlalu Lama Kuliah Online karena Wabah Virus Corona? Ini Kata Psikolog
Senin, 11 Mei 2020 | 8:16 WIB

image

Hampir dua bulan perguruan tinggi melakukan kuliah daring.

Di awal pembelajaran daring, beberapa mahasiswa belum merasakan kebosanan.

Namun, kini banyak keluhan dan rasa bosan sudah mulai dirasakan.

Menurut Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, Dr Siswanto pada awalnya terasa agak canggung menggunakan berbagai fasilitas pembelajaran daring yang disediakan oleh pihak kampus.

"Namun hal tersebut dapat segera teratasi dengan adanya panduan manual yang juga telah disiapkan dan mudah dipelajari, sehingga pembelajaran daring dapat dilakukan tanpa kesulitan berarti,” ungkapnya kepada Tribun Jateng, Jumat (8/5/2020).

Dia menuturkan, mahasiswa yang mengikuti kuliah daring ada banyak hal menarik yang muncul.

"Semakin meningkatnya keaktifan mahasiswa dalam kelas.

Mereka juga merespon positif berkaitan pembelajaran daring, di antaranya adalah berbagai kemudahan versi mahasiswa yang tampaknya lebih akrab dengan gawai dan dunia maya," tuturnya.

Siswanto berpesan, perlu juga mewaspadai munculnya kejenuhan dalam penggunaan pembelajaran daring.

"Ada beberapa mahasiswa yang secara pribadi telah menghubungi dan berdialog tentang kondisi mereka setelah beberapa waktu menjalani pembelajaran daring," ucapnya.

Maka, dia menyampaikan menjadi sangat penting bagi para pendidik untuk mempersiapkan materi pembelajaran dan melakukan evaluasi.

"Para pendidik juga harus memberikan dorongan dan semangat kepada anak didiknya supaya tetap bisa nyaman dalam mengikuti perkuliahan online.

Jangan sampai jenuh, bahkan bisa muncul juga adiksi terhadap penggunaan internet yang berlebihan," ucapnya.

Dia menuturkan, hal itu karena banyak waktu luang di rumah, akhirnya bukan hanya kuliah tetapi juga bisa nonton, main game, dan sebagainya yang sulit mereka hindari.

"Oleh karenanya ke depan perlu dipikirkan berbagai alternatif kegiatan yang membantu mahasiswa agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di depan gawai," tuturnya.

Dia mengajak, perlu juga kesadaran bersama bagi siapa saja yang sedang belajar dari rumah maupun work from home (WFH) selain interaksi dengan gawai, harus diperbanyak kegiatan-kegiatan yang bersifat variatif.

"Misalnya yang tidak terbiasa membantu orangtua, bisa mulai membantu orangtua di rumah disesuaikan dengan kondisi.

Bisa juga melakukan olahraga yang sifatnya tidak harus kumpul-kumpul, misalnya yoga, senam, jalan pagi dan sebagainya," ungkapnya.

Dia berharap, dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, tidak menyikapi dengan rasa takut, perasaan tegang, atau stres yang berkepanjangan.

"Hal itu justru akhirnya akan menjadi kontraproduktif, malah tubuh kita jadi lemah, dan imunitas tubuh kita turun.

Maka, justru sebaliknya kita perlu jernih menyikapi ini, dengan tidak mudah terpengaruh pada berita-berita yang belum tentu sama kondisinya dengan di lingkungan kita," ucapnya.

Kondisi yang tidak sama itu, misal perampokan dan pembunuhan di negara lain yang bisa dilihat di sosial media sehingga bisa muncul perasaan takut, was-was, dan merasa terancam.

Padahal kejadian sebenarnya jauh di luar area kita.

"Takut boleh, cemas boleh, tapi yang realistis yang diharapkan. Yang penting kita ikuti anjuran pemerintah tetapi jangan berlebihan.

Tetap jaga hati kita, pikiran kita tetap jernih dan gembira.

Karena dengan modal gembira, senang, bahagia, dan tidak takut tanpa kita sadari telah menjaga dan melindungi diri kita dari virus corona," tandasnya.

https://jateng.tribunnews.com/2020/05/08/apa-dampak-terlalu-lama-kuliah-online-karena-wabah-virus-corona-ini-kata-psikolog?page=all.

Kategori: