Adaptasi dan Mitigasi Pandemi Covid-19,LPPM Unika Adakan Diskusi Serial
Jumat, 15 Mei 2020 | 15:31 WIB

Diskusi berseri Di Rumah Unika, diawali oleh narasumber dari Fakultas Psikologi

Kamis sore kemarin (14/5) adalah awal pelaksanaan kegiatan diskusi mingguan secara daring yang digagas oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata secara serial dan diselenggarakan setiap satu minggu sekali pada hari Kamis, yang disingkat ‘Di Rumah Unika’ (Diskusi Rutin Bersama Hadapi Covid-19 oleh Unika).

Sedang dalam pelaksanaannya, diskusi serial ini akan diisi oleh para narasumber dari masing-masing fakultas di Unika Soegijapranata secara bergantian. Dan yang mendapat kesempatan pertama untuk menjadi pemateri diskusi mingguan LPPM adalah dari fakultas Psikologi Unika Soegijapranata yang diwakili oleh Augustina Sulastri SPsi  PhD Psikolog dan Kuriake Kharismawan SPsi MSi Psikolog, yang masing-masing menyampaikan materi yang berhubungan dengan pandemi covid 19 tetapi dengan topik yang berbeda, serta dimoderatori oleh Christa Vidia Rana Abimanyu SPsi MPsi Psikolog.

Seperti yang disampaikan oleh Kepala LPPM Unika Soegijapranata Dr Berta Bekti Retnawati melalui kontak WhatsApp, “Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung secara global ini memberikan dampak di semua aspek kehidupan masyarakat dan bangsa kita. Dinamika yang ditimbulkan membutuhkan berbagai pemikiran dan kajian untuk bisa mengatasi dan meminimalisir dampak negatif yang muncul dengan melakukan edukasi, sosialisasi dan mitigasi akibat pandemi ini,” demikian ungkap Dr Berta.

Unika Soegijapranata sebagai bagian dari institusi keilmuan dengan berbagai fakultas dan pusat studi sebagai modal sosial untuk turut berkontribusi dalam memberikan pengetahuan dan urun rembug yang bisa menjadi dasar pertimbangan atau solusi cerdas bagi pemerintah sebagai pengambil kebijakan, tambahnya.

Sesi pertama dalam diskusi mingguan ini disampaikan oleh Augustina Sulastri PhD yang memaparkan tentang Edukasi Psikososial Pada Masa Pandemi Berbasis Kognitif-Behavioral dan Komunitas.

“Psikososial itu menolong kita untuk berpikir bagaimana kita menganalisis inner world (individual psychology, world view, beliefs) dari masyarakat Indonesia tapi sekaligus edukasi psikososial dari pemerintah,” jelas Augustina Sulastri.

Dan pemerintah Indonesia dapat mulai merancang komunikasi antisipatif sebagai bentuk edukasi psikososial untuk persiapan memasuki “the new normal”pada masyarakat Indonesia apabila berharap pada bulan Juli 2020 sudah normal kembali.

Artinya, pemerintah perlu memberikan informasi kepada masyarakat agar mereka mampu memberikan keputusan yang tepat untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat, lanjutnya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah apabila ingin mengisi kognisi atau pikiran masyarakat yang setepat-tepatnya dalam mengantisipasi pandemi covid-19, yaitu (1) terus menerus secara transparan menyampaikan data-data covid-19, (2) memberikan instruksi yang tegas apa yang harus dilakukan oleh masyarakat, (3) membuat informasi-informasi yang terus tersaji secara serial terkait apa yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah selama situasi pandemi belum sepenuhnya teratasi (4) pembenahan secara cepat big-data kesehatan dan ekonomi.

Selain itu kita perlu melakukan edukasi psikososial berbasis komunitas, artinya kita perlu bersama-sama komunitas atau masyarakat membangun  sarana yang informatif bahkan instrumental untuk membangun keselarasan individu dan lingkungan yang didukung oleh masyarakat yang lebih luas.

Roh edukasi psikososial yang berbasis komunitas yang menjadi kekhasan Indonesia adalah religius, Pancasila, gotong royong, masyarakat kolektivistik, harmoni, tepa selira, dan perberdayaan alam kita secara lebih tepat. Adapun contoh-contohnya yaitu seperti di Jawa Tengah adalah Jogo Tonggo dan Canthelan, tandasnya.

Sedang Kuriake Kharismawan SPsi MSi Psikolog sebagai pembicara kedua dalam sesi itu, menegaskan adanya pandemi covid-19 telah berdampak mengubah banyak hal mulai dari masyarakat atau komunitas hingga individu, salah satunya adalah munculnya gejala stres yang ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut, untuk stres fisik cirinya adalah melemahnya sistem imune, dan perubahan gaya hidup yang ditandai diantaranya dengan munculnya sariawan, naiknya asam lambung, rambut rontok, migrain, asma , dan eksim.

Sedang stres psikis yang ditandai diantaranya dengan munculnya perasaan mudah marah, sensitif, sedih berlebihan, mimpi buruk, pesimis dan moody. Kemudian stres perilaku ditandai antara lain dengan kondisi pelupa, bingung, sulit konsentrasi, susah tidur, panik, cemas, dan makan terlalu banyak/sedikit.

“Untuk mengatasi stres maka kita perlu menjaga diri kita dan memiliki self care yang bagus yaitu dengan membatasi informasi yang masuk ke otak kita, isirahat yang cukup dan mindful living,” urai Kuriake.

Dan untuk meningkatkan imune tubuh kita juga bisa menaikkan 4 (empat) hormon bahagia yaitu (1) dopamin, dengan memiliki target dan pengembangan diri, (2) Oksitosin, yang bisa didapat dengan pelukan dan waktu bersama dengan keluarga atau pasangan, (3) seretonin, didapat dengan adanya penghargaan pada diri sendiri dan orang lain, dan melakukan proyek kebaikan, (4) endorphin, melalui kegiatan agama dan budaya, self hypnosis, terapi meta dan tertawa, pungkasnya. (FAS)

Kategori: ,