Wanita dan Media Sosial
Selasa, 21 April 2020 | 8:48 WIB

SM 21_04_2020 Wanita dan Media Sosial

 

Oleh Cecilia Titiek M

BEBERAPA hari lalu, ada dua warga kami yang bersedih. Kesedihan itu bukan disebabkan oleh korona, tapi karena sakit dan dirawat di rumah sakit. Sebagai tetangga, tentu saja kami merasa sedih dan prihatin.

Karena wabah Covid-19, kami tidak bisa ke rumah sakit atau menjauhkan diri dari rumah sakit. Yang bisa kami lakukan adalah berdoa dari rumah masing-masing.

Dengan hati yang berat, kami, para ibu PKK di RT saya, hanya bisa mendoakan mereka berdua dari rumah agar segera bisa pulih dan kembali sehat.

Bagi beberapa ibu, ternyata mengirim teks dan berdoa sendiri-sendiri kurang afdol. Lalu ada seorang ibu yang memiliki ide bahwa kami perlu berdoa bersama dan ide itu kami sambut dengan gembira.

Maka kami, para ibu di RT saya yang sudah menginstall aplikasi video conference (yang jelas bukan aplikasi yang kontroversial), sepakat untuk berdoa bersama lewat video conference.

Dalam waktu 30 menit, kami berdoa bagi dua warga kami yang sedang sakit tersebut dengan doa yang berdasarkan kepercayaan kami masing-masing.

Wanita dan Media Sosial

Menurut Pew Research Center, wanita sangat lekat dengan penggunaan media sosial. Dalam survei mereka pada tahun 2019 di Amerika Serikat, wanita yang menggunakan media sosial meningkat dari 73% tahun 2018 menjadi 78% pada tahun 2019 (Pew Research Center, 2020).

Di Indonesia, persentase wanita pengguna media sosial terbanyak adalah wanita usia 18 ñ 34 tahun (28%). Persentase wanita pengguna media sosial lebih sedikit dari pengguna pria tapi tren ini meningkat sejak 2018 (wearesocial.com, 2020).

Sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir ini pula, kita semua tahu dari pemberitaan di media, banyak ibu rumah tangga (IRT) yang ditahan karena terbukti bersalah dengan menyebarkan hoaks. Pada dua bulan terakhir ini, saat berita tentang Covid-19 menyeruak, banyak IRT yang dengan sengaja membuat keresahan dan kecemasan.

Namun, media sosial juga bisa membawa berkat, jika kita memang bisa menggunakannya dengan bijaksana. Saat korona membanjiri group chat, berita yang bagus dan berguna sering kali tertutup oleh berita yang menakutkan dan mencemaskan.

Di lingkungan saya, mungkin saya termasuk ketua PKK yang galak karena saya tidak segan-segan mengingatkan para ibu untuk tidak memasang berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di group chat lingkungan kami.

Literasi digital dan literasi informasi bukan hanya untuk mahasiswa atau generasi Z saja, melainkan literasi yang penting dimiliki oleh semua pengguna internet dan media sosial. Para ibu, baik yang bekerja maupun tidak, perlu mempunyai literasi digital dan informasi. Wanita adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga.

Sebagai penjaga gawang awal informasi dan pendidikan anak, akan sangat celaka jika wanita tidak mampu menyaring berita mana yang perlu dibagikan, berita mana yang kredibel dan akurat, serta mana informasi yang tidak berguna dan menyesatkan.

Dengan media sosial, semua orang bisa mendapatkan informasi apa saja dan kapan saja, tetapi bagaimana menggunakan media sosial untuk sesuatu yang bisa menjadi berkat bagi orang lain itulah yang menjadi pokok permasalahannya.

Jika ada teman yang membutuhkan, apakah kita bisa menggunakan media sosial untuk membantu, atau apakah media sosial dan group chat hanya ramai jika ada berita panas atau kontroversial?

Penjaga Kemanusiaan

Ada peribahasa yang mengatakan the enemy of my enemy is my friend. Artinya, jika dua orang yang bertentangan mempunyai musuh yang sama, maka dua orang tersebut akan bekerja sama untuk memeranginya. Saat ini, terlepas dari semua perbedaan, kita mempunyai musuh bersama yang tak kasat mata.

Dalam kasus korona, kita melihat betapa banyak uluran kasih untuk membantu sesama tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan. Musuh bersama kita membuat kita sadar bahwa setiap orang pada dasarnya mempunyai niat baik.

Dalam lingkungan saya tidak terkecuali: kemalangan, kepedihan, dan korona telah meluluh-lantakkan tembok-tembok yang berisiko menjadi pemicu konflik. Dan para wanita adalah penggeraknya. Yang terjadi di lingkungan saya adalah kepedulian terhadap sesama.

Kepedulian ini meruntuhkan sekat-sekat suku, agama, ras, dan golongan. Kami para ibu, di rumah masing-masing, menyiapkan diri, jiwa dan raga, untuk berdoa bersama secara bergiliran sesuai kepercayaan kami masing-masing.

Setiap akhir doa, kami bersama-sama mengucapkan "Aamiin." Yang menarik dan penting dalam doa bersama ini adalah para ibu yang muslim berdoa dengan mengucapkan Al Fatihah dalam bahasa Arab, para ibu yang Kristiani juga berdoa dengan cara mereka masing-masing.

Siapa pun yang berdoa, kami semua yang lain mendengarkan dengan khusyuk dalam sikap doa, dan begitu selesai kami semua mengamininya. Inilah media sosial dan teknologi at their best. Hal ini membuktikan bahwa sebetulnya kaum wanita mempunyai kesempatan yang luar bisa untuk berperan sebagai penjaga kemanusiaan (the guardian of humanity).

Kalau saja kaum wanita, yang sekaligus ibu dan pendidik pertama anak, menyadari hal ini dan bisa mewariskan bahwa nilai kemanusiaan itu adalah milik semua orang dan mengatasi masalah-masalah suku, agama, ras, dan golongan, maka anak-anak kita akan menghargai kemanusiaan itu sendiri.

Dalam salah satu suratnya, Kartini mengatakan bahwa tugas pendidik adalah mendidik budi pekerti. Untuk bisa menjadi pendidik yang baik, kaum wanita modern perlu melek teknologi dan mampu menggunakannya dengan bijak.

Kartini, yang berjuang untuk kesetaraan wanita Indonesia lebih dari seabad yang lalu, pasti akan merasa bangga dengan apa yang bisa dilakukan oleh kaum wanita Indonesia sekarang. (37)

Dra Cecilia Titiek Murniati MA PhD, Wakil Rektor Bidang Akademik, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Katolik Soegijapranata, dan Ketua PKK RT3 RW 9 Kelurahan Mangunharjo.

 

https://www.suaramerdeka.com/news/opini/226658-wanita-dan-media-sosial, Suara Merdeka 21 April 2020 hal. 4

Kategori: , ,