Perlukah Kita Kembali ke Masa Cordon Sanitaire?
Rabu, 1 April 2020 | 11:50 WIB

TRB 1_04_2020 Perlukah Kita Kembali ke Masa Cordon Sanitaire

Oleh: Perigrinus H Sebong, Dosen Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata, Anggota TDR Global

SETELAH diumumkan sebagai pandemi, beberapa minggu terakhir pemberitaan terkait Covid 19 telah meramaikan headline berbagai media baik cetak maupun online. Hampir sebagain besar pemberitaan mengulas wabah Covid 19 telah menyebabkan kepanikan di masyarakat termasuk di Indonesia. Tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan bertambahnya jumlah pasien yang dirawat, bencana kesehatan ini juga mengharuskan kita untuk sejenak membatasi rutinitas sosial seperti sekolah, kerja dan kegiatan yang melibatkan banyak orang dilakukan secara daring atau bahkan ada yang sampai dibatalkan tanpa ada kepastian batas waktunya. Tidak jarang juga di beberapa negara mulai muncul berbagai opini yang meragukan kemampuan para ilmuwan untuk bisa membawa kita keluar dari situasi mengerikan ini.

Pandemi Covid 19 terjadi ketika virus telah menyebar dari orang ke orang secara berkelanjutan dan mencakup wilayah yang lebih luas (lintas negara). Hampir sama seperti kasus pandemi yang pernah terjadi sebelumnya (SARS), sebelum ditemukan terapi medis (vaksin, antiretroviral), karantina adalah strategi yang paling powerful, murah dan mudah dilakukan. Karantina merupakan salah satu metode pengendalian penyakit menular yang sudah lama dikenal dalam sejarah kesehatan global dan dinilai efektif. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa bagi sebagian masyarakat atau negara tertentu karantiha diidentikan sebagai kondisi yang menakutkan dan membahayakan sehingga timbul sikap menolak. Walaupun memiliki persepsi yang berbeda di masyarakat, terlepas dari itu semua melalui tulisan ini penulis berfokus pada aspek historis, prinsip dan faedahnya dalam upaya pengendalian penyakit di masyarakat.

Sejak abad 14 praktik karantina sudah menjadi semacam strategi jitu untuk pengendalian wabah penyakit di masyarakat. Kala itu, kebijakan karantina mewajibkan semua kapal yang tiba di pelabuhan Venesia, Itali yang sebelumnya berasal dari wilayah yang diduga terinfeksi wabah untuk tidak bersandar dan harus menjauh dari tepi pelabuhan selama 40 hari. Atas tujuan menyelamatkan penduduk dari ancaman wabah maka tidak ada toleransi terhadap semua penumpang maupun awak kapal yang akan masuk ke Venesia. Namun, dengan semakin berkembangnya ilmu kesehatan saat ini kebijakan karantina lebih bersifat manusiawi dan berbasis pada pendekatan ilmiah. Sebagai contohnya pada tahun 2003 selama epidemi SARS pelaksanaan karantina dinilai berhasil di beberapa negara (Mahendradhata dick, 2019). Hal ini merupakan bukti bahwa strategi karantina masih relevan!

Cordon Sanitaire vs Social Distancing
Outbreak Covid 19 yang bermula dari Wuhan, China terus menjadi pandemi dengan jumlah korban yang banyak tentu menjadi kritikan bagi peraktisi kesehata secara khusus kolega dan para senior saya yang berkecimpung di bidang kesehatan global. Bagaimana mungkin di tengah berkembangnya teknologi kesehatan, surveilans, penelitian dan aplikasi teknologi untuk modeling dan prediksi kejadian penyakit masih bisa terjadi outbreak Covid 19? Belum lagi publik dibuat semakin ketakutan akibat belum jelasnya informasi tentang vaksin atau obat Covid 19 yang memiliki efek terapi yang tepat. Dalam situasi ini, masyarakat kemudian dibuat tenang dengan keluarnya himbauan dari lembaga kesehatan terpercaya bahwa penularan virus ini dapat dicegah melalui proteksi diri dan pembatasan kontak. Kembali ke topik karantina tadi! Saat ini pilihan untuk terus melakukan karantina dinilai efektif untuk merespon situasi outbreak dan pandemi yang sangat dinamis.

Dalam kondisi yang dinamis, tentu sulit untuk memastikan suatu kejadian kapan dan dimana akan terjadi meskipun sudah ada prediksi sebelumnya. Mengingat ketidakpastian dan keterbatasan tersebut maka sejumlah ahli dan praktisi kesehatan masyarakat terus mengupayakan pendekatan public health (nonpharmacologic) sebagai tindakan mitigasi pencegahan penularan berbasis wilayah. Pendekatan public health yang digunakan dimulai dari strategi yang sifatnya ringan seperti surveilans (pemantauan penyakit dari waktu ke waktu) dan tindakan higienis individu seperti cuci tangan, hingga strategi pada tingkat komunitas yang lebih bersifat membatasi (community containment) seperti menjaga jarak kontak fisik (social distancing/physical distancing), pembatasan perjalanan (travel restriction), dan isolasi kasus.

Dari beberapa strategi tersebut, social distancing atau physical distancing merupakan strategi yang familier di masyarakat kita saat ini. Strategi social distancing sebenarnya lahir dari prinsip cordon sanitaire, yaitu kebijkan karantina wilayah di Prancis. Prinsip dari keduanya sama yaitu merupakan pembatasan perpindahan dan kontak sosial yang bersifat kewilayahan seperti melalui penutupan dan perbatasan mobilisasi masyarakat atau pembatasan geografis dari masuknya atau perpindahan populasi dari luar. Walaupun sama, social distancing dinilai lebih mengedepankan pendekatan public health yang bisa dikatan lebih modern. Di sini modern berarti pratik social distancing menempatkan karantina dalam dimensi yang lebih luas yaitu interaksi agent-host-lingkungan dengan tetap menjamin hak individu.

Social Distancing: Bukan Sekadar Mengikuti Tren Global
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya interaksi agent-host-lingkungan adalah pendekatan epidemiologi untuk memahami terjadinya penyakit. Interaksi ini secara sederhana dapat dipahami bahwa pandemi Covid 19 saat ini merupakan kondisi yang terjadi akibat hadirnya agent: yaitu Covid 19 yang kemudian menginfeksi host (manusia): yaitu individu, apabila individu yang terinfeksi berada dalam lingkungan sosial (tanpa social distancing) maka kemudian dapat menularkan ke individu di sekitarnya. Gambaran ini kemudian memberikan rekomendasi bahwa social distancing adalah salah satu langkah mitigasi selama pandemi Covid 19 berlangsung. Pertanyaan kritisnya ialah bagaimana relevansi social distancing dalam mitigasi outbreak/pandemic Covid 19 yang menakutkan ini? Jawabannya ialah social distancing dapat merubah laju terjadinya infeksi skunder akibat infeksi primer pada populasi rentan atau dikenal dengan nilai R0 (basic reproduction number). Bukti studi epidemiologis menunjukkan bahwa dengan menjaga jarak kontak sosial bisa menurunkan nilai R0 Nilai R0 ini menjadi parameter penting untuk mengetahui potensi suatu penyakit akan menjadi outbeak atau tidak seperti ketika pandemi SARS 2003, pandemi Influenza H1N1 2009 dan epidemi Ebola di Afrika Barat tahun 2014.

Selain itu, nilai R0 juga mewakili potens epidemi maksimum suatu patogen. Misalnya dengan mengetahui nilai R0 seorang peneliti bisa menggambarkan apa yang akan terjadi jika orang yang terinfeksi memasuki komunitas yang rentan tertular. Ketika nilai R0 dapat ditekan maka itu berarti penularan penyakit dari orang ke orang dapat dikendalikan. Namun, harus dipahami bahwa dengan menekan nilai R0 bukan berarti infeksi telah berakhir tetapi paling tidak social distancing telah membantu mengurangi penularan di komunitas. Mengapa demikian? karena nilai R0 juga dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti sifat patogen misalnya tingkat penularannya; karakteristik host seperti seberapa rentan orang dengan riwayat status gizi tertentu atau penyakit lain yang telah diderita yang dapat memperburuk kondisi; dan juga dipengaruhi oleh lingkungan seperti kontak erat, interaksi sosial, sosial ekonomi dan faktor iklim.

Sebagai contoh nilai R0 campak berkisar 12-18, dan nilai ini dipengaruhi oleh kepadatan populasi. Berbeda halnya dengan virus influenza yang memiliki nilai R0 2-3 dan Covid 19 yang menurut penelitian terakhir memiliki estimasi nilai R0 2,24-3,58 (Zhao et al, 2020). Meskipun berbeda nilai R0-nya tetapi kita sebaiknya tidak hanya berfokus pada besar kecilnya nilai R0 semata karena jika nilai R0 lebih dari 1 itu berarti penyakit tersebut berpotensi menular dan menyebabkan outbreak seperti pandemi Covid 19 sekarang ini. Tetapi tidak ada kata terlambat dalam mengakiri atau mencegah outbreak/pandemic Covid 19 semakin memburuk.

Kita dapat berupaya menekan nilai R0 serendeh mungkin. Hal ini telah terbukti ketika pandemi SARS tahun 2003, para ahli memperkirakan nilai R0 sekitar 2,75. Namun, berkat upaya yang luar biasa beberapa bulan kemudian pascaoutbreak, nilai R0 turun menjadi < 1. Salah satu bukti yang mencengangkan ialah bahwa selain intervensi medis praktik pengurangan kontak melalui isolasi dan social distancing juga turut berkontribusi.

Perlu Social Distancing yang "Ekstrem"
Dalam forum diskusi bersama dengan rekan, senior dan ahli di bidang kesehatan global dalam rangka mencari inisiatif mengakiri pandemi Covid 19, penulis mencatat banyak rekomendasi untuk melakukan social distancing secara "ekstrem". Tentu "ekstrem" di sini bukan berarti tidak ada toleransi tetapi lebih pada upaya yang bersifat massif, serius dan berkelanjutan. Mengapa demikian? Karena perilaku manusia bisa merubah gelombang outbreak. Melalui social distancing kita dapat menunda atau menekan epidemi sampai tersedia pengobatan yang tepat (Reluga, 2010).

Kembali pada judul tulisan ini: Perlukah kita kembali ke masa Cordon Sanitaire? Jawabannya adalah kita tidak perlu kembali situasi dimana manusia, hewan, barang-barang, makanan dan kapal dan segala isi kapal diperlakukan dengan cara yang sama yakni harus dikarantina setelah berpergian atau datang dari wilayah yang diduga menjadi sumber infeksi.

Melalui upaya social distancing yang "ekstrem" baik pemerintah daerah, dinas terkait, masyarakat, sektor swasta kita bersama-sama memerangi Covid 19 dengan patuh dan serius melaksanakan social distancing. Patuh berarti menginternalisasikan dalam keseharian kita.

Serius berarti pemerintah harus tegas bila perlu meberikan sanksi apabila masih ada masyarakat yang tidak patuh melakukan social distancing. Dengan demikain kepatuhan masyarakat dan keseriusan pemerintah melakukan pengawasan terhadap implementasi strategi tersebut menjadi sinergi bersama agar mengakiri pandemi Covid 19 atau paling tidak untuk saat ini bisa mengurangi wabah Covid 19 semakin memburuk. Salam Sehat!!!!

►Tribun Jateng 1 April 2020 hal. 2

Kategori: ,