Perempuan di Garda Depan
Senin, 20 April 2020 | 9:11 WIB

SM 19_04_2020 Perempuan di Garda Depan

Sosok Kartini yang tangguh dan pantang menyerah berjuang membebaskan dari belenggu kebodohan pada masa lalu menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan.

Pun dalam situasi pandemi korona ini. Kaum perempuan ikut di garda depan dan berkolaborasi dengan seluruh rekan sejawat menghadapi pandemi korona Kabupaten Rembang menjadi salah satu zona merah penyebaran Covid-19 di Jateng. Ada delapan pasien dalam pengawasan (PDP), dan tiga pasien positif Covid-19 yang saat ini dirawat intensif di ruang isolasi RSUD dr R Soetrasno.

Kondisi itu membuat paramedis, dokter dan perawat tidak bisa berleha-leha. Sejak pandemi terjadi, mereka seolah dituntut melipatgandakan tenaga, pikiran dan juga mental dalam mejalankan profesi mulianya.

Pandemi yang kebetulan berlangsung pada April ini seolah membangkitkan inspirasi para perawat dan dokter RSUD dr R Soetrasno pada perjuangan pahlawan emansipasi perempuan, RA Kartini. Kondisi itu yang membuat mereka masih fight menjadi garda terdepan pencegahan korona.

Seperti yang dirasakan dokter yang bertugas di ruang isolasi RSUD dr R Soetrasno Yusia Mega Relita. Dokter umum itu yakin betul kalangan perempuan bisa berperan aktif melawan pandemi korona ini.

Sosok Kartini membuatnya merasa tangguh dan pantang menyerah berjuang dan berkolaborasi dengan seluruh rekan sejawat menghadapi pandemi korona. Meski, dalam praktiknya ia merasakan banyak kendala.

”Ada beberapa kendala yang kami alami. Padatnya jadwal jaga membuat kami harus ekstra menjaga stamina agar tetap fit dan tidak tumbang. Kelangkaan alat pelindung diri (APD) membuat kami harus bisa berhemat. Belum lagi ketidakterbukaan pasien,” terang dia.

Satu hal yang membuat Mega terharu adalah banyaknya pihak bersimpati dengan mengirimkan bantuan makanan, APD hingga karangan bunga untuk paramedis RSUD dr R Soetrasno. Hal itu membuatnya bersyukur.

Pengalaman kurang mengenakkan dirasakan seorang perawat RSUD dr R Soetrasno, Istiqomah. Saat ia ingin relaksasi pijat selepas lelah bertugas, tukang pijat langganannya ketakutan. Penyebabnya, ia bekerja di rumah sakit.

Ia pun menyadari risiko terpapar virus lebih besar dibandingkan orang dengan profesi lainnya. Oleh karena itu, sejak pandemi terjadi ia memilih lebih menjaga jarak dengan keluarga dan tetangga. ”Saya selalu merawat pasien dengan hati. Harapan saya kondisi kembali normal dan membaik. Masyarakat taat dengan anjuran pemerintah, sehingga upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 bisa optimal,” tandasnya.

Sementara itu Hari Kartini yang selalu diperingati di 21 April setiap tahun yang juga sebagai tanggal kelahirannya, dipandang Ketua Pusat Studi Wanita Unika Soegijapranata yakni Dr Rustina Untari sebagai momen seseorang untuk berlaku inklusif di masyarakat. Inklusifitas dalam hal ini melibatkan seseorang di masyarakat tanpa terkecuali.

Ia melihat esensi perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini di zaman dulu yakni, memperjuangkan inklusifitas perempuan agar tidak lagi dieksklusifkan di masyarakat. Sehingga muncul istilan emansipasi wanita yang saat ini sudah diakomodasi secara legal dan formal di masyarakat.

Wanita kini sudah ada di jajaran pengambil keputusan seperti anggota legislatif, pemimpin eksekutif di tingkat kelurahan hingga negara, dan beberapa sektor yang dulu distigmakan hanya bisa dilakukan laki-laki. Namun ia juga masih melihat stigma kepada perempuan masih kerap terlihat di masyarakat saat ini , meskipun secara legal dan formal sudah terakomodir.

”Saat itu perjuangan beliau ditujukan agar perempuan diikutsertakan dalam berbagai hal, yakni untuk melawan stigma bahwa perempuan ini lemah dan selalu di bawah perlindungan laki-laki. Inklusifitas yang dibawa RA Kartini kini, sudah diakomodir terkait persoalan gender,” katanya .

Dia memandang perayaan seremonial di Hari Kartini bagus untuk dilakukan. Hal itu sebagai pengingat soal perjuangan melawan eksklusifitas.

Namun kini persoalannya, seremonial yang biasanya dilakukan tidak bisa digelar karena adanya pandemi Covid- 19. Masyarakat diharuskan tidak berkumpul dan tetap tinggal di rumah untuk membatasi penyebaran penyakit. ”Nilai-nilai perjuangan RA Kartini di masa pandemi tentu saja masih bisa masyarakat wujudkan. Tentunya dengan, jangan sampai eklusifitas terjadi bagi mereka yang menangani pasien Covid-19 maupun orang yang baru sembuh dari penyakit itu,” papar nya.

”Jangan mengucilkan mereka , masyarakat harus bergotong royong untuk mendukung penuntasan pandemi Covid-19 ini. Hal ini sebagai contoh perjuangan RA Kartini yang tidak lagi terkait inklusifitas gender tapi juga merambah ke hal yang lebih luas,” imbuhnya.

Pandemi Covid-19 juga saat ini mengancam pada hal ekonomi. Banyak orang yang terancam kehilangan pekerjaan dan memacu timbulnya eksklusifitas golongan lagi. Rustina Untari mengingatkan jangan sampai hal itu terjadi. Gotong royong masyarakat menjadi kunci dari penerapan inklusifitas di masa pandemi ini.

”Setelah pandemi berakhir, inklusivitas di seluruh elemen masyarakat juga harus dibangkitkan tanpa terkecuali. Perjuangan RA Kartini membuka mata kita untuk menginklusivan segala hal,” tandasnya.

►Suara Merdeka 19 April 2020 hal. 1, https://www.suaramerdeka.com/news/nasional/226454-perempuan-di-garda-depan

Kategori: ,