Paskah, Merayakan Kehidupan
Kamis, 9 April 2020 | 12:29 WIB
img_title

Oleh: Aloys Budi Purnomo Pr

UMAT Kristiani menyambut Paskah di tengah pandemi Covid-19 yang dalam banyak kasus mendatangkan kematian. Sementara Paskah mengajak kita untuk memilih dan merayakan kehidupan, bukan kematian! Covid-19 menggoreskan sejarah tak hanya bagi kemanusiaan terkait kesehatan, melainkan juga bagi kehidupan iman terkait kerohanian. Permenungan saya tentang Paskah di tengah pandemi Covid-19 diperkaya dengan bahan yang menarik berupa video puisi yang berjudul ”Tuhan Mengajarkan Melalui Corona.” Entah siapa pembuat puisi itu, sayangnya ia ”mencatut” nama besar KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. Tapi siapa pun pembuatnya, puisi itu telah menginspirasi saya bahwa dalam ketidakpastian Paskah ini, kita harus tetap merayakan kehidupan sebagai anugerah Tuhan!

Kebetulan, beberapa waktu lalu di tengah arus pandemi Covid-19, saya menyapa tokoh-tokoh Muslim yang kukenal dan kukasihi, termasuk Gus Mus melalui WA. Sapaan berisi harapan doa, segalanya baik sehat untuk mereka, segenap keluarga, dan umat. Dengan ramah mereka pun menjawab sapaan saya, untuk saling melangitkan doa demi kesehatan masing-masing dan semua umat tanpa diskriminasi. Maka, saat menerima kiriman video puisi itu, saya langsung berterima kasih kepada Gus Mus melalui WA. Namun, hingga artikel ini saya tulis, WA saya tak berbalas. Maka, saya pun mencoba peka, ada apa? Baru kemudian kutemukan klarifikasi dari Ienas Tsuroiya, putri Gus Mus, bahwa puisi itu adalah hoaks. Gus Mus tidak menulis puisi itu! Meski demikian, mari kita simak sejenak baris-baris puisi yang terkait dengan Paskah dan Kristianitas sebagai bahan permenungan.

Inilah cuplikannya (dengan tidak mengutip hal-hal yang terkait dengan agama Islam). ”Vatikan Sepi/ Yerusalem Sepi/ Tembok Ratapan dipagari/ Paskah Tak Pasti/ Seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh/ Bahwa hura-hura atas nama Tuhan itu semu/ Bahwa simbol dan upacara itu banyak yang hanya menjadi topeng dan komoditi dagangan saja// Ketika Corona datang/ Engkau dipaksa mencari Tuhan/ Bukan di Basilika Santo Petrus/ Bukan di dalam Gereja/ Bukan di Mimbar Khotbah/ / Bukan dalam Misa Minggu/ Melainkan pada kesendirianmu, pada mulutmu yang terkunci/ Pada hakekat yang senyap, pada keheninganmu yang bermakna// Corona mengajarimu Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian/ Tuhan itu bukan (melulu) pada Ritual// Tuhan itu ada pada jalan keputusasaanmu dengan dunia yang berpenyakit// Corona memurnikan Agama/ Bahwa tidak boleh ada yang tersisa kecuali Tuhan itu sendiri/ Tidak ada lagi indoktrinasi yang menjajah nalar// Tidak ada lagi sorak-sorai memperdagangkan nama Tuhan// Datangi, temui, dan kenali Dia di dalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri// Temukan Dia di saat yang teduh di mana engkau hanya sendiri bersama-Nya// Sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada dalam dirimu// Hati orang yang beriman adalah rumah Tuhan/ Biarlah hanya Tuhan yang ada/ Biarlah hanya nuranimu yang bicara// Biarlah para pedagang, makelar, politikus dan para penjual Agama disadarkan oleh Tuhan melalui kejadian ini// Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini//î Bagiku, puisi yang tak jelas pembuatnya ini tetap membawa pesan kehidupan. Puisi itu mengajak saya dan umat Kristiani untuk kembali kepada hati nurani, sebab di dasar lubuk hati nurani itulah Tuhan bertahta. ”Sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada dalam dirimu!”

Merayakan Kehidupan

Maka, di saat pandemi Covid-19 ini, umat Katolik pun diajak menyambut Paskah dalam sunyi, sama seperti Paskah Perdana terjadi, tanpa ritual, tanpa hurahura, tanpa gegap gempita duniawi. Yang ada hanya keheningan yang suci, bahkan mulut para murid-Nya pun terkunci dalam sunyi yang masih ngeri akibat penyaliban Sang Guru yang terjadi secara keji! Dengan memahami kematian Kristus di tengah pandemi ini, semoga umat Kristiani pun kian memahami kebangkitan- Nya yang mulia dengan tetap merayakan kehidupan sebagai anugerah Tuhan yang berkenan menyelamatkan sesama dan semesta alam. Merayakan kehidupan yang diberkati Tuhan berarti merayakan kehidupan dalam kerukunan, kedamaian, kelestarian lingkungan hidup, dan keutuhan ciptaan.

Selamat Paskah.

Aloys Budi Purnomo Pr, Kepala Campus Ministry dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata Semarang

—–

https://www.suaramerdeka.com/news/nasional/225251-paskah-merayakan-kehidupan

Kategori: ,