Pandemi, Kemanusiaan dan Kelenturan Kohesi Sosial
Rabu, 29 April 2020 | 9:17 WIB

TRB 29_04_2020 Pandemi, Kemanusiaan dan Kelenturan Kohesi Sosial

Oleh: Berta Bekti Retnawati, Kepala LPPM dan Dosen FEB Universitas Katolik Soegijapranata

“STATE of emergency, the planet’s having panic attacks", Eminem (rapper Amerika Serikat)

Dunia sekarang ini sedang darurat, ada kepanikan karena pandemi global, rasanya perkataan Eminem tersebut menjadi tepat dan kita amini bersama. Ibarat medan pertempuran semua aspek kehidupan manusia bumi ini menghadapi lawan yang tidak terlihat namun sangat perkasa pengaruhi kondisi manusia sejagat, tidak terkecuali di Indonesia. Jumlah masyarakat yang terpapar positif Covid-19 masih menunjukkan trend meningkat tiap hari.

Berita jumlah masyarakat terpapar masih menunjukkan peningkatan dan belum ada petunjuk pasti kapan pandemi ini berakhir. Masifnya paparan cakupan area terpapar virus ini memberi kekawaatiran nyata dan dampak dari pandemi ini sudah banyak dirasakan oleh banyak aspek, di antaranya adalah perekonomian, terganggunya mobilitas, sosial kemasyarakatan, psikologis dan aspek-aspek kehidupan lainnya.

Nyata benar bahwa ancaman pandemi ini sudah mengepung negara ini seperti halnya 200-an negara di belahan dunia lainya alami situasi sulit bersama-sama. Merebaknya gangguan kehidupan normal setiap sendi negara ini, terasa benar efek bagi semua jenis kegiatan kehidupan menjadi berubah dan menyesakkan. Situasi dunia tak lagi sama dengan kondisi sebelum ada pandemi, berbagai upaya memutusan rantai penularan mewujud dalam berbagai kebijakan yang harus ditempuh pemerintah. Pembatasan sosial berskala besar menjadi satu pilihan dari sekian opsi yang ada, tentunya dengan segala konskeuensi sosial ekonomi yang mengikutinya.

Kesehatan dan keselamatan masyarakat menjadi taruhan utama dari berbagai kebijakan pemerintah. Health before wealth menjadi cerminan betapa kesehatan dan keselamatan jiwa adalah yang harus diutamakan sebelum mencapai hal lainnya. Sungguh pemerintah tidak kurang-kurang mengeluarkan berbagai kebijakan dan keputusan yang ditujukkan untuk keselamatan masyarakat. Upaya pemerintah tidak bisa dilakukan sendirian, justru kemauan dan kerjasama masyarakat menjadi penentu nasib bangsa ini.

Sinergi keduanya menjadi penanda apakah bangsa kita bisa melewati pandemi ini dengan lebih baik atau tidak. Menurut teori dimensi budaya Hofstede, dalam konteks Indonesia sifat masyarakat kolektif lebih menonjol dibandingkan sifat masyarakat yang bersifat individuafistik. Beruntungnya dalam kondisi sulit seperti ini masyarakat yang bersinergi secara kolektif inilah yang mengurangi deraan kesusahan yang dialami saudara sebangsa. Keistimewaan sifat kolektif yang berwujud dalam kohesi sosial masyarakat memberikan kesejukan untuk bersama menghela napas saling menguatkan. Secara etimologi kohesi sendiri merupakan suatu kemampuan suatu kelompok untuk menyatu, terbentuk dari solidaritas mekanik dengan munculnya inisiator yang berperan kuat untuk mengarahkan kemampuan sekelompok masyarakat untuk membentuk solidaritas organik, yakni kemampuan untuk memahami satu-sama lain yang akhirnya menjadikan kuatnya ikatan sosial dalam kelompok masyarakat tersebut.

Munculnya inisiator-inisiator yang mampu menggerakkan solidaritas dalam kohesi sosial menunjukkan keistimewaan masyarakat yang human’s dan menyejukkan. Beragam bentuk cam inisiator ini secara lentur memainkan peranan penting dalam berbuat hal kecil namun berdampak besar saat diikuti oleh kelompok masyarakat yang lain. Contoh lenturnya kohesi sosial dalam hadapi pandemi sekarang dalam skala cukup luas, ada pimpinan daerah di JawaTimur yang menggerakkan ASN di wilayah kerjanya bahu membahu menyediakan minuman sehat untuk masyarakat umum, membuat APD dan masker untuk tenaga medis, membuat masakan bergizi untuk menambah imun masyarakat, serta melakukan gerakan disinfektan secara teratur ke berbagai kelurahan.

Di Jawa Tengah juga ada kohesi sosial dari pemerintah dengan menyediakan nasi gratis bagi ojol yang tentunya mengalami dampak penurunan penghasilan yang diperolehnya. Contoh dalam skala lebih kecil dan diinisiasi oleh individu seperti yang dilakukan penjual jamu gendong di Jakarta dengan sukarela tanpa memikirkan keuntungan dengan menyediakan secara gratis bagi para pekerja harian yang secara rutin ditemuinya (penjual makanan keliling dan ojol).

Ada juga kontribusi kemanusiaan dari mahasiswa Magister Psikologi Unika Soegijapranata yang dengan sepenuh hati menemani dan membangkitkan semangat para pasien baik PDP maupun yang sudah positif dan dirawat di sebuah RS swasta di Semarang. Inisiasi lain yang menunjukkan kuatnya kohesi sosial dalam mengurangi masyarakat terdampak Covid-19 banyak dilakukan juga oleh para pesohor negeri ini, dengan menggerakkan pengumpulan donasi untuk membantu peralatan bagi tenaga medis sebagai garda depan dan juga membantu berbagai usaha kecil untuk tetap hidup. Salah Satunya seperti Gerakan Rantang Hati dengan memberi subsidi permodalan untuk menghidupkan warung-warung tradisional agar mau menyediakan kebutuhan dasar berupa makan gratis bagi para pekerja informal.

Arus pemudik yang sebagian sudah masuk di desa-desa menggerakkan banyak masyarakat desa untuk siaga bersama, ada yang menyediakan rumahnya sebagai tempat perantau singgah selama masa karantina. Ini sungguh menunjukkan betapa kohesifitas dalam masyarakat senantiasa hadir dalam kegetiran bersama di tengah situasi pandemi. Masih banyak lagi gerakan bersama yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang secara sukarela dan sepenuh hati berkeinginan mengurangi beban derita sesamanya.

Pandem memang belum berakhir, kekuatiran akan dampak dari pandemi masih berlangsung, namun upaya bersama yang mewujud dalam lenturnya kohesi sosial minimal akan sedikit mengurangi kegetiran yang dirasakan oleh masyarakat yang sangat terdampak. Sinergitas kebangsaan yang terbentuk dalam kohesi sosial ini menjadi alas fundamental untuk berkontribusi secara konstruktif sesuai peran, porsi, serta kemampuanny masing-masing. Kekuatan kohesi sosial akan membantu pemerintah dalam bekerja bersama melalui pandemi Covid-19 ini.

Kekuatan jalinan kemanusiaan dalam masyarakat secara horizontal ini memberikan penanda bahwa siapapun yang terdampak pandemi ini tidaklah merasa sendiri dan tidak terperhatikan. Masih banyak kelompok masyarakat dan individu yang melebur dan menyatukan rasa untuk berbagi kasih, perhatian, dan saling kebergantungan sebagai makhluk sosial menumbuhkan harapan bahwa Indonesia bisa bergerak bersama, menjaga kohesifitas yang senantiasa lentur dan bermartabat.

 

►Tribun Jateng 29 April 2020 hal. 2

Kategori: ,