Pandemi Belum Sampai Puncak
Senin, 13 April 2020 | 8:51 WIB

image

Di tengah keterbatasan penyediaan alat pelindung diri (APD) bagi seluruh tenaga kesehatan dalam penanganan Covid-19, muncul gerakan-gerakan swadaya dari berbagai kalangan. Mulai dari tokoh masyarakat, artis/selebritis, perusahaan swasta dan BUMN/BUMD mengalokasikan dana corporate social responsibility (CSR)-nya hingga masyarakat yang memiliki kepedulian untuk bersama-sama menghentikan penyebaran virus yang dampaknya luar biasa ini. Tidak hanya mengambil jiwa manusia, tetapi juga menghempaskan sendi-sendi yang menyatu di dalamnya seperti di sektor kesehatan, ekonomi, sosial dan budaya.

Sudah cukup banyak korban baik dari petugas medis, seperti dokter mupun perawat akibat berjuang melawan Covid-19. Direktur Utama Rumah Sakit Nasional Diponogoro Dr dokter Sutopo Patria Jati mengungkapkan, sudah menjadi tugas pemerintah untuk melindungi setiap warga negara termasuk tenaga kesehatan (nakes). Prioritas kesehatan ini menjadi nomor satu sehingga alokasi anggaran semaksimal mungkin peruntukannya tepat sasaran.

Dengan gerakan swadaya yang makin marak ini menurut Sutopo menjadi modal sosial yang andal untuk membantu mereka yang berhadapan langsung terpapar risiko Covid-19. Menurut Sutopo, masyarakat tetap tidak boleh lengah dan displin dalam menerapkan social/physical distancing. ‘’Mekanisme APD sudah mulai tertata. Tapi ini belum mencapai puncaknya, masyarakat tidak boleh lengah,’’ ujar Sutopo dalam focus group discussion (FGD) online bertema “Strategi Holistik Penanganan dan Pascapandemi Covid-19 di Jateng, Kamis (9/4).

Kedisiplinan masyarakat untuk menjaga jarak dan tetap berada di rumah sesuai instruksi pemerintah ini harus lebih ketat dijalankan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Jateng Prasetyo Aribowo menyampaikan, gelombang pemudik yang sudah masuk ke desa-desa di berbagai wilayah di Jawa Tengah tercatat mencapai 351.115 hingga 8 April kemarin. Ratusan ribu manusia yang kembali pulang ke kampung, khususnya dari daerah zona merah Covid-19, menjadi kekhawatiran tersendiri akan semakin sulit untuk memutus rantai penyebaran virus.

Harus Disiplin

Dosen Biokimia dan Biomolekuler Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata dokter Sugeng Ibrahim M Biomed berharap, dengan semakin tingginya arus orang masuk, pencatatan data nama, alamat oleh puskemas setempat harus dikawal dengan baik. Hal ini untuk memudahkan dalam proses tracing epidemiologi kemudian melakukan rapid test. Selain merujuk prioritas kesehatan terlebih dahulu termasuk juga APD bagi tenaga kesehatan, kedisiplinan masyarakat untuk melakukan social distancing dan physical distancing secara luas harus terus ditekankan.

‘’Data ini penting dikelola oleh puskesmas, Dinkes supaya bisa terlacak. Dengan tambahan alat yang disebarkan ke provinsi, termasuk Jateng, semakin banyak bisa dilakukan tes,’’ujar dr Sugeng. Cakupan pemeriksaan tes ini juga harus ditingkatkan untuk mengetahui data pasti jumlah penderita di Jateng termasuk juga wilayah persebarannya. Dengan alat magna cure untuk ekstraksi RNA dan juga light cycler ke seluruh provinsi diharapkan cakupan orang yang diperiksa ini bisa semakin besar.

Sementara itu, terkait pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Kepala BPBD Jateng, Sudaryanto menjelaskan, diperlukan kajian yang komprehensif mengingat dampak panjang jika pemberlakuan itu diterapkan. Jika memang PSBB akan diterapkan di Jateng maka perlu dipikirkan bentuknya dan harus jelas SOP-nya. ‘’Ini termasuk juga besar anggaran yang harus disiapkan ketika mungkin harus menutup suatu daerah. Apalagi pemudik sudah mulai masuk. Tentu perlu beberapa skenario, apakah seluruhnya, sebagian, atau sepertiga dari kota misalnya,’’ papar Sudaryanto. Guru Besar Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata Prof Andreas Lako berpendapat, pemerintah jangan gegabah menerapkan lock down atau pembatasan di satu wilayah. Diharapkan dengan kerja keras pemerintah dan dukungan masyarakat luas yang lebih disiplin menerapkan PSBB bisa meredakan dan mengakhiri pandemi ini lebih cepat.

 

https://www.suaramerdeka.com/news/liputan-khusus/225689-pandemi-belum-sampai-puncak

Kategori: