Membumikan Hati pada Kuliah Daring
Senin, 20 April 2020 | 11:43 WIB

TRB 20_04_2020 Membumikan Hati Pada Kuliah Daring

Oleh: Mr. Dr. Antoni M. Laot Kian, Dosen fakultas Hukum dan Komunikasi Unika Soegijapranata

DUNIA sedang berubah. Peradaban manusia sedang diuji. Yuval Noah Harari, filsuf dan Guru Besar Sejarah di Universitas Hebrew, dalam Homo Deus (2015), menyebutkan bahwa sepanjang sejarah kehidupan, manusia diuji dengan kelaparan, perang dan penyakit.

Lepas dari katastrofe yang terjadi, baik kelaparan, perang, maupun penyakit, semuanya menantang manusia untuk semakin mengembangkan kemampuan kognisinya. Benarlah kata Edward Forsett, dramaturg Inggris dalam Pedantius, "tempora mutantur, et nos mutamur in illis", waktu berubah, dan kita pun berubah seiring dengannya. Revolusi industri, sejak 1.0 hingga 4.0 atau era disrupsi, menjadi bukti perubahan itu.

Wajah disrupsi 4.0 dalam wujud internet of things, big data, cloud computing, artificial intelligence, akhirnya menjadi terang-benderang, saat Covid-19 mewabah. Kemendikbud pun mendorong perguruan tinggi untuk mengadakan kuliah daring. Setidaknya inilah wujud dukungan Kemendikbud terhadap physical distancing dan work from home. Alhasil, kuliah daring pun ikut mewabah.

Kuliah Daring: Teknologi vs Hu-manitas?
Seperti halnya kuliah konvensional, kuliah daring pun ternyata diberondong oleh berbagai keluhan. Secara teknologi, keluhannya adalah tentang jaringan yang tidak stabil, peralatan komunikasi yang kurang memadai, server web yang tidak siap dan lain-lain. Secara person, kuliah daring memberikan "beban" yang lebih besar. Bagi dosen, persiapan materi kuliah bukan lagi menjadi hal utama, melainkan teknis penggunaan media daringlah yang menjadi momok baru. Kekecewaan dosen seringkali muncul ketika materi dan metode yang sudah disiapkannya, ditanggapi dengan pola rumahan ala mahasiswa: ada yang kuliah dari kamar, dari jalan, dari warung makan, singkatnya, dari antahberantah.

Bagi mahasiswa, menumpuknya tugas dalam kuliah daring menjadi santapan yang memuakkan. Banyaknya kuota data yang harus disiapkan, kekecewaan terhadap dosen yang hanya sekadar "menitipkan" materi pada sistem tanpa memberikan penjelasan, pun melengkapi tudingan bahwa kuliah daring itu menyusahkan.

Pada titik tertinggi, kuliah daring diperlawankan dengan humanitas. Kuliah daring menciptakan ruang semu yang tidak punya hati. Persis di sini jugalah letak kekecewaan Harari (2018), di mana dalam beberapa dekade terakhir kemampuan manusia untuk mendengar dan merasakan semakin berkurang, oleh karena teknologi di dunia maya.

Mendengar—lebih tepatnya mendengarkan—dan merasakan, merupakan insting dasar manusia yang meredup oleh peradaban virtual. Tesis Emanuel Levinas, tentang perjumpaan secara langsung yang mengubah, diruntuhkan oleh pragmatisme teknologi. Dengan kata lain, kerentanan teknologi di hadapan humanitas ialah bahwa teknologi (in casu kuliah daring) telah menjadi tujuan, dan bukan sekadar sarana.

Dedikasih: Memberi Hati pada Kuliah Daring
Harus diakui bahwa penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kuliah daring, yang semula menjadi sarana, kini menjadi yang utama, sejalan dengan perintah negara untuk melakukan phisycal distancing. Perjumpaan fisik yang selama ini menjadi bagian terbesar dari kuliah, kini bergerak menuju physical disconnection.Apakah hal tersebut menjadi kedukaan abad ini?

Dalam ruang disrupsi kuliah daring, manusia memberikan keyakinan bahwa semesta (kosmis, human being) dapat selalu berhubungan dan dihubungkan dalam mengejar ilmu pengetahuan, meskipun tanpa sentuhan fisik. Pada poin ini, peran dosen menjadi sangat sentral. Meminjam istilah Anthony Fauci, pendekatan yang harus dilakukan adalah "to humanize science" (Fauci, 2020). Humanisasi ilmu (baca: kuliah daring) bermakna memberikan dedikasih setinggi-tingginya pada ilmu yang diajarkan, untuk menekankan bahwa ilmu itu berguna bagi nilai-nilai kehidupan.

Dedikasih adalah sebentuk pengabdian dengan pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia. Dedikasih memberikan kesadaran bahwa kuliah daring mendekatkan jarak fisik,menyatukan ruang-ruang individu ke dalam satu forum sosial, mendengarkan yang tak terdengar (karena mahasiswa bahkan lebih berani berdebat secara daring), merasakan yang tak terungkapkan (karena mahasiswa lebih berani bertanya secara daring), dan mampu menciptakan kepedulian manusia (karena mahasiswa akhirnya peduli pada tujuan hidupnya).

Tak ada satu sistem yang sempurna, namun kesempurnaan sistem justru ada dalam passion yang sempuma dari dosen. Dedikasih hanya bisa dilakukan bila dosen kembali pada hakikatnya sebagai pengajar, peneliti, dan pengabdi masyarakat dengan hati. Hati, sebagaimann kata Blaise Pascal, Matematikawan dan Filsuf asal Prancis, memiliki alasan-alasan yang tidak dimengerti akal, "le coeur a ses raison ne connait point". Kemampuan rasio manusia dalam teknologi, harus dilengkapi dengan hati yang mengabdi, karena manusia adalah wajah sesungguhnya dari teknologi itu. Bukankah untuk itu dosen pun disebut pahlawan tanpa tanda jasa?

—-

►Tribun 20 April 2020 hal. 2, https://jateng.tribunnews.com/2020/04/20/opini-antoni-m-laot-kian-membumikan-hati-pada-kuliah-daring

Kategori: , ,